Gampong Film Hibur Masyarakat Aceh Barat 

oleh -784 views
IMG 20191201 200712
Nonton Bareng Gampong Film Aceh Documentary, Kamis 28 November 2019. (BASAJAN.NET/ISTIMEWA)

BASAJAN.NET, Meulaboh- Hujan telah membasahi tanah Meulaboh sejak sore hari. Malam itu, Kamis 28 November 2019, gerimis masih menyambangi, meski demikian penonton terlihat khusyuk, semua mata tertuju pada layar tancap yang memutarkan film-film Aceh, bisik-bisik hanya sesekali terdengar dari kelompok-kelompok yang duduk melingkar, mereka terlihat fokus menonton.

Puluhan penonton lesehan dengan berbagai gaya, ada yang bersandar di dinding, ibu-ibu yang memangku anak, sebagian melipatkan kaki dan tangan karena dingin malam yang menusuk tulang, akhir-akhir ini Meulaboh kerap diguyur hujan.

Loading...

Malam itu warga gampong Leuhan dimanjakan dengan hiburan Gampong Film sebagai program rutin tahunan yang diselenggarakan oleh Yayasan Aceh Documentary,  yang bekerja sama dengan komunitas Aceh Menonton, Yayasan Khadam Indonesia. 

Untuk di Meulaboh sendiri, Nonton  Bareng (Nobar) kali ini merupakan hasil Komunikasi Gampong Film dengan Sigeupai Cinema,  komunitas asal Meulaboh yang bergerak di dunia Perfilman, yang digawangi oleh Junaidi Mulieng dan para pemuda Aceh Barat. Kegiatan ini juga bekerja sama dengan Media Basajan.Net dan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh.

Lokasi pemutaran film hanya berjarak sekitar 5 meter dari bahu jalan itu menarik perhatian warga serta pengendara motor yang melintas. Ditambah lagi efek dari 2 pengeras suara yang terletak di bagian kanan dan kiri layar, membuat suasana semakin meriah.

Tidak sedikit yang menghentikan motornya sesaat untuk menyaksikan layar tancap besar yang menayangkan film dokumenter terbaik karya putera-puteri Aceh.

Terdapat lima film yang diputar pada kegiatan gampong film kali ini, di antaranya 4 film dokumenter berjudul “Rintihan Tanah Pilu”, “Klinik Nenek”, “Smong” dan “Sang Penjaga”  serta satu film fiksi berjudul “Surat Kaleng”. 

Klinik Nenek (ADC 2019) merupakan karya Sonya Anggi Yani dan Oka Rahmadiyah dari Sigeupai Cinema Meulaboh mereka juga tercatat sebagai mahasiswa STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh. Sang Penjaga (ADC 2019) by Fadli dzil ikhram dan Lia widya dari Subulussalam, Surat Kaleng 1949 (fiksi) karya Fauzan Santa Banda Aceh. 

Melalui Klinik Nenek, Oka dan Sonya mengangkat kisah Nek syah, yang mengobati pasiennya dengan metode traditional. Beberapa pasien yg datang kepada nya orang yg telah berobat ke rumah sakit namun tidak kunjung sembuh. Obat yang nek syah gunakan berasal dari daun daunan yang ia racik sendiri.

Smong purba, mengingatkan pada peristiwa gempa dan tsunami 2004 silam, film ini berkisah tentang penelitian Nazli Ismail mengenai bukti sejarah paleo tsunami purba yang ditemukan di gua Ek Leuntie Lhoong, Aceh Besar. Film ini merupakan kolaborasi Aceh Documentary bersama yayasan Khadam Indonesia, yang disutradarai oleh Azhar.

Satu-satunya film fiksi yang ditayangkan adalah Surat Kaleng 1949, yang mengisahkan bagaimana heroiknya masyarakat Aceh dan sikap nasionalisme Aceh saat meletusnya agresi militer Belanda I dan II. Film ini juga melibatkan aktor Nasional, Teuku Rifnu Wikana yang berperan sebagai Tgk. Muhammad Daud Beureueh.

Kegiatan malam itu turut dihadiri oleh Masyarakat Gampong Leuhan,  Tuha Peut, 3 orang perwakilan komunitas Aceh menonton dan Aceh Documentary,  pihak Kapolres dan Kapolsek sekaligus menjaga keamanan, aktivis lingkungan, mahasiswa, serta Duta Baca Aceh Barat. 

IMG 20191201 202228
Nonton Bareng Gampong Film Aceh Documentary.(BASAJAN.NET/Muhammad Noza)

Pelaksana pemutaran Gampong Film Hendri Saputra, menjelaskan Gampong Film merupakan program rutin tahunan yang menayangkan film dokumenter maupun fiksi yang diangkat dari kisah nyata karya sineas muda Aceh di berbagai kampung agar dapat memberikan edukasi pada masyarakat tentang kondisi Aceh saat ini. 

“Film yang diputar sesuai dengan realita dan dekat dengan isu yang ada di Aceh, seperti pendidikan, sosial, lingkungan dan lainnya, ” ujarnya. 

Hendri melanjutkan beberapa daerah lokasi pemutaran Gampong Film ini, yaitu Sabang, Aceh Besar, Sigli, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Tengah, Aceh Jaya, Meulaboh, Aceh Selatan dan Subulussalam.

Ia berharap masyarakat dapat teredukasi dan memiliki wawasan lebih banyak lagi terutama tentang kondisi Aceh saat ini, sehingga masyarakat bisa tertarik, kritis dan peka terhadap kondisi, kagiatan ini sekaligus ajang menyuarakan inspirasi melalui film. 

Kegiatan menonton film yang telah menjadi rutinitas tahunan sejak tahun 2015 ini selalu menarik perhatian masyarakat.

Penanggung jawab kegiatan Nonton Bareng, Muhammad Noza, menuturkan Meulaboh menjadi salah satu titik tempat pemutaran gampong film, tentu ini tidak terlepas dari karya-karya film dari sineas muda Aceh Barat yang aktif terjun dalam dunia perfilman khususnya dokumenter. 

“Alhamdulilah, beberapa film dari Meulaboh terpilih sebagai finalis Aceh Documentary Competition dan filmnya diproduksi, “kata Noza yang juga menjabat sekretaris komunitas Sigeupai Sinema. 

Ia berharap para pemuda Aceh Barat dapat lebih peka terhadap isu yang berkembang sehingga dapat menyuarakan aspirasinya dengan berbagai cara, salah satunya melalui film. 

Tuha Peut Gampong Leuhan Muslim, menyambut baik dan senang kegiatan gampong film ini, ke depan ia berharap lebih banyak film lagi yang diputar seperti film-film mengenai kisah penerapan syariat Islam dan problema kehidupan masyarakat Aceh. 

“Film yang menjadi ciri khas Aceh, semoga dapat terjaga terus budayanya dan memperlihatkan masalah saat ini, lewat film,” katanya. 

Ketua komunitas Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) Fajar Oza Pratama, menyambut baik kegiatan Gampong Film ini, ia berharap agar kegiatan ini dapat berlanjut yang dapat memberikan wawasan positif bagi masyarakat. 

“Isu-isu hangat yang dibahas pada film tersebut, tentu menjadi edukasi dan wawasan positif bagi masyarakat,” ucapnya.

Malam itu, gerimis menemani para penonton hingga kegiatan usai. Mereka pulang dengan senyuman dan memori yang dipenuhi kenangan. Sementara itu panitia sibuk membereskan peralatan di tengah gerimis dengan hati lega, kegiatan malam itu berakhir sukses.[]

 

WARTAWAN : MARIANI

EDITOR : MELLYAN

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *