Pelajari Aceh Habib Jawa Timur Temui Wali Nanggroe

oleh -1.185 views
PhotoPictureResizer 191212 151254535 crop 1054x636
Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud bersama para habib Jawa Timur di Meuligoe Wali Nanggroe, Selasa 10 Desember 2019. (BASAJAN.NET/ISTIMEWA).

BASAJAN.NET, Banda Aceh- Sejumlah habib asal Malang, Jawa Timur, menemui Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al-Haytar. Selain menjalin silaturrahmi, pertemuan tersebut juga untuk mendapatkan informasi sejarah Aceh dan perkembangan kekinian pasca konflik dan tsunami.

“Lembaga Wali Nanggroe ini hanya ada di Aceh, sehingga menarik bagi kami untuk mengetahui seluk beluk lembaga ini,” kata Habib Abu Bakar Mauladawila, pada pertemuan di Meuligoe Wali Nanggroe, Selasa 10 Desember 2019. 

Loading...

Habib Abu Bakar datang bersama Habib Mochammad, Habib Abdullah dan Habib Abdurrahman. Para Habib ini didampingi Teungku Muhammad Edi Ruslan Sabri dari Banda Aceh.  

Habib Abu Bakar menyampaikan, hubungan para Habib asal Jawa Timur dengan para ulama di Aceh sudah terbangun sejak lama. Karena itu, pihaknya datang langsung ke Wali Nanggroe untuk mendapatkan informasi tentang lembaga itu. 

Ia mengatakan, dalam setiap ceramah dan kajian, pihaknya sering membahas tentang Aceh. Karenanya, sangat penting untuk mendapatkan informasi yang benar, terutama dari Pemangku Wali Nanggroe.

“Sehingga apa yang kami sampaikan kepada jamaah tidak salah,” terangnya. 

Menanggapi tujuan kedatangan para habib tersebut, Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud, dalam siaran pers kepada Redaksi Basajan.net, Kamis 12 Desember 2019, menjelaskan tentang sejarah Aceh dari masa kerajaan, hingga masa tercapainya kesepakatan damai antara GAM dan Republik Indonesia pada 2005 silam.

“Sepanjang 14 tahun damai ini, ada beberapa yang telah kita capai. Tapi juga masih ada banyak poin-poin perjanjian yang belum terealisasi,” ujar Malik Mahmud.

Terkait Syariat Islam, Malik Mahmud menyampaikan, Aceh sudah dikenal sebagai daerah syariat sejak masa kesultanan. Saat ini, Syariat Islam di Aceh diperkuat dengan aturan formil melalui qanun yang dipayungi Undang-undang (UU) Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintah Aceh. 

Ia menambahkan, sejak kesepakatan damai ditandatangani, kondisi Aceh saat ini sudah sangat kondusif. Masyarakat bebas melakukan aktivitas, bahkan hingga larut malam. 

“Alhamdulillah sudah aman. Ada banyak wisatawan yang datang ke Aceh untuk menikmati keindahan alam dan wisata religi,” terangnya.[]

 

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

 

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *