Oleh: Tahara*
.
BASAJAN.NET- Kamis, 18 Desember 2025, sekitar pukul sepuluh waktu Indonesia barat, ponsel saya bergetar. Di ujung sana, suara seorang kawan dari Aceh Utara terdengar pecah. Bukan karena sinyal, melainkan tangis yang tak lagi tertahan.
Ia seorang tenaga kesehatan. Sehari-harinya merawat orang lain. Namun hari ini, ia menelepon sebagai korban. Korban banjir yang telah berlangsung hampir tiga minggu tanpa kepastian. Korban dari sistem yang tak kunjung bergerak.
Di sela isaknya, ia bercerita tentang fasilitas kesehatan yang nyaris tak tersisa. Bangunan rusak parah, alat medis sangat terbatas, obat-obatan menipis. Mereka bekerja dalam kondisi yang sama-sama terluka, sebagai penolong, sekaligus penyintas.
“Kami bergerak sukarela dengan bekal seadanya,” katanya lirih. “Belum ada instruksi dari pusat. Belum ada posko kesehatan resmi.”
Padahal, keluhan sakit terus menjalar dari satu tenda ke tenda lain. Anak-anak, ibu hamil, hingga lansia mulai tumbang.
Dari pantauannya sebagai relawan konvoi, mulai dari Aceh Utara, Aceh Timur, hingga Aceh Tamiang, tak satu pun posko kesehatan khusus berdiri untuk para pengungsi, terlebih di wilayah pedalaman. Yang ada hanyalah tenda-tenda darurat, rapuh dan seadanya.
Ia hanya meminta satu hal.
“Tolonglah, kabarkan keadaan ini,” ucapnya dengan suara bergetar menahan tangis. “Ke seluruh Indonesia. Ke dunia. Keadaan sebenarnya di lapangan sangat menyedihkan.”
Di sana, listrik sering padam. Internet hidup-mati, bergantung pada Starlink relawan yang berpindah dari satu titik ke titik lain. Informasi pun ikut terputus, seperti nasib mereka yang terkatung-katung.
“Sekarang yang paling dibutuhkan pengungsi, selain makanan, adalah fasilitas kesehatan dan obat-obatan,” pintanya.
Hingga hari ini, para pengungsi masih bertahan di tenda-tenda sempit, berdesakan tanpa sanitasi memadai. Sebagian lainnya menumpang di pondok-pondok tanpa dinding, hanya beratapkan terpal tipis yang tak sanggup menahan terik siang, dingin malam, maupun hujan yang masih kerap turun.
Tiga minggu sudah banjir berlalu. Namun kehidupan yang layak belum juga datang. Mereka masih hidup di tenda-tenda dan meunasah yang tersisa.
“Kalau ada jaringan kawan-kawan di luar, kirimkan fasilitas kesehatan dan obat-obatan,” harapnya pelan. “Kalau tidak… korban meninggal akan menyusul lebih banyak.”
.

Masih Ada Warga yang Belum Tersetuh Bantuan
.
Sabtu, 13 Desember 2026 lalu, cerita lainnya datang dari seorang relawan mengunjungi desa Buket Mesjid, Kecamatan Tanah Jambo Aye. Ia membawa bantuan dari kolega di Kalimantan Barat dan beberapa daerah lain di Indonesia.
Di sanalah terungkap sebuah fakta pahit: hampir tiga minggu berlalu, belum ada satu pun bantuan dari instansi negara yang masuk ke desa tersebut.
Warga bertahan hidup di meunasah dan perbukitan, mendirikan tenda-tenda sederhana. Mereka makan apa yang masih disediakan alam, seperti pisang, buah hutan, dan durian. Di desa itu, 72 kepala keluarga kehilangan rumahnya, tersapu habis oleh banjir bah.
Pertanyaan adalah jika pemerintah pusat menyatakan keadaan sudah terkendali, mengapa fakta di lapangan berkata sebaliknya? Bukankah ini terlalu jauh dari kenyataan?
*Penulis adalah warga Cot Girek, Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya.
========================
EDITOR: MELLYAN








