Jalan Terjal Woyla Timur

oleh -201 views
Jalan Woyla Timur
Kondisi jalan di Woyla Timur, Kabupaten Aceh Barat. Foto: Rizky K.

BASAJAN.NET, Meulaboh- Meski Indonesia sudah merdeka 75 tahun lamanya, namun masih ada saja daerah yang luput dari perhatian pemerintah, seperti Kecamatan Woyla Timur, Kabupaten Aceh Barat.

Di sana, untuk mendapatkan pendidikan, anak-anak harus menempuh jarak puluhan kilometer. Anak-anak sekolah, hingga mahasiswa harus rela tertinggal dan bergelut dengan medan jalan yang tak kunjung usai pembuatannya.

Loading...

Kondisi ini juga turut mempengaruhi kondisi perekonomian warga, yang sebagian besar menggantungkan hidup dari hasil pertanian.

“Untuk sampai ke pekan (pasar), kami harus menempuh dua jam perjalanan dengan melintasi jalan lumpur dan bebatuan terjal di perbukitan,” ungkap Husaini, warga Woyla Timur.

Husaini mengaku, untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, ia harus rela pergi pagi dan pulang pagi. Hal ini dikarenakan jarak tempuh tempat tinggalnya dengan Meulaboh, Ibu Kota Kabupaten Aceh Barat yang lumayan jauh.

“Jarak kami ke Kota Meulaboh cukup jauh. Jalan di Woyla Timur ini yang membuat kami hilang akal, katanya dibuat tapi tak kunjung siap. Padahal bupati orang kampung sini, dua periode,” kesalnya.

Hal yang sama juga disampaikan Keuchik Gampong Seuradeuk, Khariaman. Ia bersama masyarakat di sana, meminta Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Barat dan DPR Aceh agar mengusulkan alokasi dana Otonomi Khusus (Otsus) 2021 untuk pembangunan jalan dan jembatan di pedalaman.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan tersebut menghubungkan empat gampong, yaitu Seuradeuk, Lubok Panyang, Alue Empeuk dan Alue Bilie.

“Kondisi jalan di sana saat ini masih tanah dan terjal, akibatnya menyulitkan aktivitas warga,” ujarnya.

Khariaman mengatakan, kondisi jalan berlumpur akan semakin parah ketika musim hujan.

“Sekitar delapan kilo meter lagi yang belum diaspal. Jika ada orang sakit yang ingin melintas, kami terpaksa harus ramai-ramai turun untuk menarik kendaraan yang terjebak,” terangnya.

Sementar itu, Sulaiman (45), masyarakat Gampong Seuradeuk mengatakan, pihak legislatif dan eksekutif masih belum menggusulkan anggaran untuk jalan tersebut, dengan dalih untuk pemerataan pembangunan infrastruktur agar tidak menumpuk pada kecamatan tertentu.

“Masyarakat sangat berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, khususnya Bupati Ramli sebagai ‘asoe lhok‘ (putra setempat), tidak hanya menilai dari atas meja,” ucapnya.

Menurutnya, sejak Indonesia merdeka, jalan yang menghubungkan Kecamatan Sungai Mas-Woyla Timur itu, belum tersentuh aspal. Padahal di sana, terdapat masyarakat yang mendiami lebih dari empat desa.

“Sejak Indonesia merdeka, daerah kami belum pernah tersentuh aspal sedikit pun. Parahnya, jika sedang kondisi hujan, maka jalan sangat licin dan batu yang berserakan sangat sulit dilalui kendaraan. Jika ada orang sakit, terpaksa digendong dan mobil didorong ramai-ramai, terutama saat melewati jalan rusak di kawasan perbukitan yang terjal,” keluhnya.

Jika jalan penghubung antar dua kecamatan itu berhasil dibangun pada tahun 2021, maka tidak ada lagi kawasan pedalaman yang terisolir di Aceh Barat. Jalan tersebut akan menghubungkan masyarakat ke jalan nasional Meulaboh-Tangse dan Meulaboh-Banda Aceh.

Selain itu, masyarakat juga mengungkapkan kekecewaan terhadap pembatalan rencana pembangunan jembatan gantung untuk menghubungkan dua desa di Kecamatan Woyla Timur, yakni Gampong Seuradeuk dan Sungai Mas.

“Selama ini masyarakat harus melintas dengan menyebrangi sungai, itu pun harus menunggu saat air sungai surut. Bukankah ini bagian desa terisolir yang mestinya segera dibangun?” tegas Sulaiman.

Camat Woyla Timur, War Johan mengatakan, pembangunan jalan penghubung Kecamatan Sungai Mas dan Woyla Timur merupakan harapan rakyat pedalaman dan sudah lama diperjuangkan. Pembangunan jalan tersebut sudah diusulkan dalam Musrembang tingkat kecamatan beberapa bulan lalu.

Johan menyampaikan, pembangunan jalan yang menghubungkan Woyla Timur dan Sungai Mas telah dilakukan pada tahun 2017. Namun jalan tersebut belum sepenuhnya tuntas, baru 700 meter yang selesai dikerjakan.

Menurut Johan, pengerjaan jalan tersebut akan dibangun sampai tuntas. Bahkan pada tahun 2019, sempat direncanakan akan dibangun menggunakan dana Otsus, tapi gagal dilaksanakan karena kondisi jalan masih butuh pengerasan.

Ia beranggapan, hal yang wajar jika masyarakat mengutarakan kekecewaannya, karena pemerintah belum mengalokasikan anggaran untuk pembangunan jalan tersebut.

“Jalan penghubung itu sudah menjadi hajat hidup orang banyak dan sudah lama dinanti,” pungkasnya. []

 

 

Tulisan ini dikirim oleh Rizky K, warga Seuradeuk Woyla Timur saat ini menetap di Banda Aceh, yang bersangkutan dapat dihubungi melalui Email: rikykarma@gmail.com. Telah melewati serangkaian editing oleh tim Redaksi Basajan.net.

 

 

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *