Corona, Mudik dan Ramadhan

oleh -366 views
ilustrasi
Ilustrasi Mudik di tengah pandemi Covid-19. Foto : pixaby

Oleh: Habil Nasution*
Siswa MAN 1 Aceh Barat

 

Loading...

BASAJAN.NET, Meulaboh – Pemerintah memberlakukan aturan pembatasan jumlah penumpang, seperti mengurangi frekuensi perjalanan dan ketentuan lain pada operasional berbagai moda transportasi mudik di tengah wabah virus corona. Moda transportasi yang dibatasi yaitu kendaraan pribadi dan umum, kereta api, pesawat, kapal laut, hingga jalan tol.

Seperti kondisi di Jakarta terkini, Anies Baswedan selaku Gubernur telah membatasi jam operasi tiga moda transportasi umum di Jakarta yakni MRT, LRT dan Transjakarta demi mencegah penyebaran virus corona. Ketiga moda transportasi yang biasanya melayani warga selama 24 jam dikurangi menjadi pukul 06.00 – 18.00 WIB saja. Untuk MRT Anies juga mengurangi jumlah kereta yang biasa melayani penumpang.

Seluruh awak penumpang dianggap sebagai orang dalam pengawasan (ODP), sehingga mereka harus menjalani prosedur kesehatan seperti memakai masker, hand sanitizer, pengukuran suhu, dan juga mereka harus duduk dengan jarak satu meter dan kapasitas penumpang yang boleh diangkut maksimal sebanyak 50% dari jumlah kapasitas kursi.

Tiada berbeda halnya dengan Aceh, Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah telah meminta Bupati dan Walikota Se-Aceh mengantisipasi pemudik pada tahun ini.

Nova Iriansyah dalam surat menyampaikan pesan dari menindaklanjuti intruksi menteri dalam negeri nomor 1 tahun 2020 tentang pencegahan penyebaran dan penanganan virus corona di lingkungan pemerintah daerah. Masyarakat yang belum melakukan mudik dihimbau untuk tidak melakukan mudik tahun ini, sedangkan yang sudah terlanjur mudik maka akan berstatus sebagai orang dalam pemantauan (ODP), dan harus mengisolasi mandiri.

Selanjutnya, Nova Iriansyah juga mengatakan bahwa “Pada sarana angkutan umum dilakukan penyemprotan disinfektan sebelum berangkat dan khusus bagi angkutan darat dilarang menaikkan penumpang selain di terminal, dan juga penumpang harus bisa menjaga jarak tempat duduknya dengan penumpang lainnya.”

Tambahan aturan tersebut di atas sesuai ketentuan yang tertuang pada Peraturan Menteri (Permen) Perhubungan Nomor 18 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), dan aturan ini sudah diberlakukan sejak tanggal 9 April 2020.

Mudik dan Pandemi

COVID-19 menular dengan amat cepat. World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa laju transmisi COVID-19 mencapai 2,5. Artinya, satu orang pasien positif dapat menginfeksi setidaknya dua orang sehat.

Hal ini bisa terjadi karena banyak warga Indonesia yang ingin melakukan mudik ke kampung halaman untuk menyambut bulan suci ramadhan bersama keluarganya dan tak sedikit orang yang memanfaatkan pandemi corona ini untuk melakukan mudik lebih awal.

Ketidaksabaran warga Indonesia ini untuk melakukan mudik justru sangat berbahaya karena para pemudik itu bisa saja sudah tertular virus corona sehingga dapat menularkannya ke warga kampung halamannya.

Bayangkan apabila seseorang tertular saat mudik kemudian bersentuhan fisik dengannya. Maka kita tanpa sadar bisa saja melanjutkan penyebaran virus corona ini ke orang orang sekitar kita seperti tetangga kita, sanak saudara, atau bahkan pada orang tua kita sendiri.

Kesabaran untuk tidak mudik sangat diperlukan dalam melawan wabah corona ini. Nabi Muhammad SAW pernah memperingatkan umatnya untuk jangan berada dekat dengan wilayah yang sedang terkena wabah, sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar. Seperti diriwayatkan dalam hadits berikut ini:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)

Namun jika kita berada ditempat yang tidak ada wabah dan akan pergi ke tempat yang tidak ada wabah juga maka hukumnya boleh boleh saja. Jangan sampai karena ingin melepas rindu dengan keluarga malah membuat keluarga kita dalam bahaya.

Lantas, bagaimana sikap ideal menghadapi musibah pandemik ini ? Pertama, Pahami bahwa pandemi adalah termasuk musibah yang Allah SWT diberikan kepada manusia. Bagi orang Mukmin musibah ini adalah ujian kesabaran. Bagi kaum fasik musibah ini adalah peringatan agar segera sadar dan kembali ke jalan Allah SWT.

Kedua, menyadari bahwa kondisi selama ini sebagai salah satu diantara sekian banyak makhluk ciptaan Allah. Tidak ada satu pun dari makhluk yang sia-sia dan tidak berguna. Semua pasti ada manfaatnya. Diantara manfaatnya adalah sebagai ujian keimanan dan kesabaran. Allah SWT berfirman:

رَبَّنا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Duhai Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau. Karena itu peliharalah kami dari siksa Neraka (TQS Ali Imran [3]: 191).

Ketiga, meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT dan makin khusyuk dalam beribadah. Sadar betapa dekatnya kematian pada tiap-tiap diri manusia terlebih saat berada di zona merah pandemi. Menghadirkan kekhawatiran, barangkali masih ada makanan haram yang ia konsumsi. Ketakutan, barangkali masih ada pemikiran-pemikiran sesat dan perilaku-perilaku menyimpang sebelum mati.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللّٰهَ لَا يَسْتَحْيِ اَنْ يَّضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوْضَةً فَمَا فَوْقَهَاۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْۚ

Sungguh Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah (kecil) dari itu. Adapun orang-orang beriman, mereka yakin bahwa semuanya itu merupakan satu kebenaran dari Tuhan mereka (QS al-Baqarah [2]: 26).

Begitulah sikap ideal yang harus ditumbuhkan. Mengeluh dan mengumpat bukanlah solusi. Musibah ini adalah peringatan bagi kita semua, agar segera sadar dan bertobat kepada Allah SWT. Semoga momentum Ramadhan tahun ini, menjadikan kita sebagai hamba bertaqwa dan mampu mencerahkan Indonesia menuju kebangkitan hakiki. Amin.

 

 

EDITOR : NURKHALIS

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *