Buku Aceh 2020 Satu Kebaikan untuk Kemajuan

oleh -1.159 views
PhotoPictureResizer 200101 113630962 crop 772x448
Direktur Bandar Publishing, Mukhlisuddin Ilyas menyampaikan sambutan pada peluncuran buku Aceh 2020, di Banda Aceh, Selasa 31 Desember 2019, malam. (BASAJAN.NET/ISTIMEWA).

BASAJAN.NET, Banda Aceh- Bandar Publishing merilis buku Aceh 2020: Diskursus Sosial, Politik dan Pembangunan, Selasa 31 Desember 2019, malam. Buku tersebut dikenalkan ke publik empat jam sebelum pergantian tahun, di Samping Kantor Bandar Publishing, Lamgugob, Banda Aceh.

Direktur Bandar Publishing, Mukhlisuddin Ilyas mengatakan, peluncuran buku tersebut sebagai wujud keseriusan pihaknya untuk melanjutkan tradisi keilmuan Aceh masa lalu. 

Loading...

“Setiap pergantian tahun, pemikiran-pemikiran orang Aceh perlu dibukukan untuk orang-orang Aceh berikutnya,” ujar Mukhlisuddin dalam keterangan tertulis kepada awak media, Rabu 1 Januari 2020.

Menurutnya, untuk menjadikan Aceh lebih baik, perlu sinergi dan kontribusi semua pihak dengan gerakan cepat. Ia mencontohkan, seperti penulisan buku Aceh 2020. Dalam tiga minggu, pihaknya berhasil merangkum pemikiran orang Aceh dalam berbagai varian dan latar belakang untuk kebaikan Aceh tahun 2020.

“Perbedaan di antara kita akan menjadi rahmat dalam buku. Karena buku, akan dijadikan rujukan bagi generasi berikutnya dan bagi pembuat kebijakan,” lanjut Mukhlis.

IMG 20200101 WA0014
Suasana peluncuran buku Aceh 2020. BASAJAN.NET/ISTIMEWA

Ia menyampaikan, buku Aceh 2020 ditulis oleh 16 penulis dan digarap secara swadaya Penerbit Bandar Publishing.

Adapun para penulis buku itu, yaitu Adi Warsidi, Affan Ramli, Fairus M Nur Ibrahim, Fuad Mardhatillah UY Tiba, Juanda Djamal, Kamaruzzaman Bustamam Ahmad. M Adli Abdullah, Miswari, Muhajir Al Fairusi, Muhammad Aminullah, Mukhlisuddin Ilyas, Murizal Hamzah. Rahmad Syah Putra, Sahlan Hanafiah, Sehat Ihsan Shadiqin dan Sulaiman Tripa.

Peluncuran buku diawali dengan orasi inspiratif dari tokoh pendidikan Aceh, Yusny Saby dan Sulaiman Tripa. Keduanya mengingatkan, agar tradisi menulis dan membukukannya perlu dilakukan secara bersama-sama, karena ini adalah pekerjaan keabadian.

Turut hadir perwakilan penulis yang menyampaikan orasi singkat di depan peserta. Di antaranya, M Adli Abdullah yang menulis tentang Aceh dalam Perspektif Indonesia. Sulaiman Tripa yang menulis tentang Catatan Kaki untuk Aceh, Juanda Djamal menulis tentang Politik Sungsang.

Sehat Ihsan Shadiqin menulis tentang Syariah dan Tantangan Revolusi Industri. Muhajir Al Fairusy menyampaikan orasi membangun Aceh Perbatasan, Fairus M Nur menulis tentang Masjid Kok Begitu.

Fuad Mardhatillah UY Tiba yang menulis tentang Quo Vadis Indonesia Refleksi Antara Turbulensi dan Resonansi dan orasi Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, tentang Gejala Sosial dan Budaya dalam Masyarakat Aceh.

Selain itu, juga hadir sejumlah tokoh dan memberi orasi singkat tentang prospeksi Aceh 2020. Seperti Ketua Ombudsman RI Perwakilan Aceh Takwaddin Husin, Kepala Inews TV Misdarul Ihsan. Kepala Pusat Penelitian Ilmu Sosial Budaya Unsyiah M Saleh Sjafei, Teuku Muttaqin Mansur, Peneliti ICAIOS Arfiansyah, mantan Kepala Pustaka dan Arsip Aceh Zulkifli M Ali, Sayuti M Nur, Tu Sudan, TA Sakti dan sejumlah anggota FAMe Aceh dan tim percetakan Bandar Lamgugob.[]

 

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

 

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *