Rayakan Kemerdekaan Dengan Cara Tak Merdeka

oleh -245 views
rayakan kemerdekaan
ILUSTRASI HUT RI. FOTO: DOK. BASAJAN.NET.

Bagaimana pun kemerdekaan RI harus tetap dirayakan!

Oleh: Aduwina Pakeh*

Loading...

Upacara bendera memperingati hari kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 2020 kali ini terasa berbeda dibandingkan upacara pada tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini Indonesia dan sebagian besar negara di dunia dilanda pandemi Covid-19.

Wabah Covid-19 per 16 Agustus 2020, telah menjangkiti 17.660.523 orang dari 216 negara di dunia, 680 ribu diantaranya meninggal dunia. Sementara untuk Indonesia sendiri yang terkonfirmasi positif sebanyak 139.549 orang dan telah merenggut 6.150 jiwa.

Merayakan Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-75 merupakan sebuah keniscayaan, karena sebagai bentuk mencintai Tanah Air, menghargai jasa para pahlawan yang rela bertumpah darah untuk Indonesia merdeka. Kita patut mengenang perjuangan mereka, karena memperingati hari kemerdekaan Indonesia sejatinya, merekonstruksi ulang alam pikiran kita kepada satu peristiwa sejarah 75 tahun yang lalu, dimana peristiwa tersebut telah tercatat dengan tinta emas sebagai peristiwa bersejarah bagi bangsa Indonesia.

Namun demikian, mengingat pandemi Covid-19 ini masih mewabah di sentaro Indonesia, metode pelaksanaan perayaan HUT Kemerdekaan Indonesia harus disesuaikan dengan kondisi yang ada, protokol kesehatan harus dijadikan rujukan dalam penyelenggaraan kegiatan. Karena kondisi pandemi ini amat serius dan telah memakan ribuan jiwa, maka patut diwaspadai, terutama bagi penyelenggara pemerintahan harus menunjukkan tauladannya dalam menerapkan protokol kesehatan.

Secara Nasional, Upacara peringatan HUT RI ke 75 tetap digelar di Istana Negara, namun pelaksanaannya jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Upacara tahun ini bakal digelar secara virtual. Di Istana hanya akan diikuti oleh Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana, Wakil Presiden Ma’ruf Amin beserta istri, dan beberapa menteri saja. Sementara pejabat lain seperti kepala daerah, dan tamu undangan dari negara sahabat mengikuti upacara secara virtual.

Menurut informasi yang disampaikan Juru Bicara Presiden RI, Fajroel Rachman, peserta upacara HUT RI ke-75 ini diwajibkan mengenakan pakaian adat nusantara, secara virtual akan diikuti oleh 17.845 peserta (sesuai dengan tanggal bulan dan tahun kemerdekaan).

Selain upacara bendera, biasanya bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaannya dengan beragam lomba di berbagai daerah. Perlombaan “17 Agustusan” itu mulai dari makan kerupuk, balap karung, tarik tambang hingga panjat pinang. Lelaki, perempuan, anak-anak, tua dan muda biasanya ikut berpartisipasi. Bahkan hadiah untuk para pemenangnya pun juga disiapkan.

Akan tetapi, karena pandemi Covid-19 terjadi, kegiatan ragam perlombaan tersebut tidak bisa dilaksanakan karena adanya pembatasan. Imbauan untuk tidak mengadakan lomba “17 Agustusan” dikeluarkan oleh pemerintah daerah seperti di Kota Bekasi, Kota Tangerang dan Solo merupakan beberapa di antaranya. Kecuali di daerah-daerah yang masih tergolong zona hijau Covid-19 yang tetap menyelenggarakan beragam lomba namun dengan menerapkan protokol kesehatan.

Pandemi Covid-19 ini memang telah mengorbankan banyak hal dari hidup kita, termasuk kemerdekaan diri. Seperti harus menjaga jarak (social distancing) dengan artian mengurangi kegiatan silaturrahmi dan bahkan ada anjuran untuk tidak bersalaman, sementara bagi kita umat Islam, salaman merupakan sebuah budaya yang sudah temurun dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan adab dalam pergaulan.

 

Merayakan Dengan Cara Tak Merdeka

Jika merdeka diartikan sebagai kebebasan, berarti saat ini kita sedang tidak merdeka. Terpenjara dalam ruang gerak yang sempit dan tidak memiliki keleluasaan. Untuk melakukan hal-hal yang kita senangi sekali pun. Rasanya sulit sekali saat pandemi ini. Sikap saling curiga seperti sedang ditumbuhkan dalam masyarakat. Kampanye social disatancing, satu sama lain harus menjauh minimal 1,5 meter, mengganti kebiasaan dari salaman menjadi anggukan kepala saja atau beradu siku sebagai alternatif salaman (salaman gaya baru).

Bagaimana pun kemerdekaan RI harus tetap dirayakan, maka solusinya adalah merayakan HUT RI dari rumah, dari layar kaca televisi, dari youtube, dari platform media sosial seperti facebook, twitter dan instagram. Negara sudah memakluminya jika kita tidak berbondong-bondong ke lapangan terbuka, cukup di rumah saja.

Meski dari rumah saja, Peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan RI hendaknya dapat dijadikan sebagai ajang untuk memetik pembelajaran dari spirit dan teladan para pendiri bangsa. Mereka telah mewariskan spirit kebersamaan, gotong royong, gigih berjuang, ketangguhan, dan daya adaptasi yang telah teruji dalam menggapai cita-cita kemerdekaan, serta upaya membangun kemandirian dalam menggapai kehidupan yang lebih baik di tengah keterbatasan dan rintangan yang dihadapi. Spirit itu harus kita tumbuhkan di dalam jiwa setiap anak bangsa hari ini.

Semangat bangkit untuk masa depan yang lebih baik dalam menggapai Indonesia maju. Kekuatan kebersamaan dalam keterbasan juga harus dipupuk, raga boleh terpisah jauh antar pulau di Indonesia namun jiwa persatuan harus dikembangkan pada diri setiap anak bangsa. Raga kita boleh terkurung dirumah saja, namun imajinasi, pemikiran dan karya harus tetap produktif dan dikembangkan, karena keberadaan kita bukan dilihat pada raga saja, namun juga dapat dilihat dari karya yang dihasilkan.

Kemerdekaan Indonesia diraih dari hasil perjuangan dan pengorbanan para leluhur bukan karena pemberian Jepang. Dari itu, sudah sepatutnya kita mempertahankan kemerdekaan melalui tindakan nyata, salah satunya berupaya ikut mencegah penyebaran Covid-19 di masyarakat dengam cara tidak ikut serta berkerumun di tempat terbuka.

Dirgahayu ke-75 tahun Negeriku, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jayalah selalu Indonesiaku. Tetap patuhi protokoler kesehatan untuk Indonesia makin maju. Mari kita rayakan hari Kemerdekaan Indonesia, meski pun kita sedang tidak merdeka.

* Penulis adalah Dosen Prodi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Teuku Umar. Dapat dihubungi di aduwina@utu.ac.id.

 

Isi di luar tanggungjawab redaksi.

 

 

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *