Oleh: Wirdah Razali*
BASAJAN.NET- Sumatera merupakan salah satu pilar utama Indonesia dalam penopang kekuatan ekonomi nasional, ruang hidup keanekaragaman budaya, dan sekaligus benteng kekayaan alam strategis.
Pulau ini menyumbang devisa besar melalui komoditas ekspor, memiliki cadangan energi dan mineral penting, serta menjadi rumah bagi hutan tropis dan lahan gambut dengan keanekaragaman hayati tinggi.
Dengan lebih dari 62 juta penduduk, Sumatera juga menjadi pulau terpadat kedua di Indonesia, dihuni oleh beragam suku bangsa, seperti Aceh, Batak, Minangkabau, Melayu, dan lainnya, yang membentuk mozaik kebudayaan khas Nusantara.
Secara geografis, Sumatera terletak di barat gugusan kepulauan Indonesia dan berbatasan langsung dengan Selat Malaka, salah satu jalur perdagangan tersibuk di dunia. Pegunungan Bukit Barisan membentang dari utara ke selatan, menyimpan danau-danau besar serta sistem ekologi penting yang selama berabad-abad menjadi penyangga kehidupan.
Namun, di balik peran strategis itu, Sumatera menghadapi krisis serius. Deforestasi, kebakaran hutan, kerusakan lahan gambut, dan ekspansi industri ekstraktif terus menekan daya dukung lingkungan.
Tantangan terbesar pembangunan di Sumatera hari ini adalah menjaga keseimbangan antara eksploitasi sumber daya dan pelestarian alam. Hal ini menjadi prasyarat mutlak bagi pembangunan berkelanjutan. Ketika keseimbangan ini gagal dijaga, maka bencana adalah satu kepastian yang langsung dirasakan masyarakat.
Degradasi Lingkungan
Pada November 2025, bencana besar melanda Sumatera. Banjir bandang menerjang tiga provinsi: Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Lebih dari 1.062 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara ratusan lainnya masih dalam pencarian. Sejumlah desa tenggelam, kawasan permukiman hancur, dan infrastruktur vital lumpuh total.
Bencana ini dipicu oleh cuaca ekstrem yang tidak biasa. Dua siklon tropis, Senyar dan Koto, terbentuk dan memengaruhi wilayah Sumatera dengan hujan deras, angin kencang, serta gelombang tinggi. Menurut BMKG, siklon ini berlangsung selama 48 jam sejak 26 November dan menjadi peristiwa pertama dalam sejarah meteorologi Indonesia. Selama ini, wilayah dekat garis khatulistiwa dianggap mustahil menjadi lokasi pembentukan siklon tropis.
Namun, hujan ekstrem sejatinya tidak serta-merta menjadi bencana. Banjir bandang terjadi karena bentang alam yang semestinya menyerap dan menahan air telah rusak. Jutaan hektare hutan yang berfungsi sebagai penyangga tata air, telah hilang. Ribuan batang pohon hanyut bersama arus banjir, menjadi bukti telanjang pembalakan liar dan rusaknya ekosistem hulu. Peristiwa ini menegaskan bahwa keseimbangan alam Sumatera berada dalam kondisi genting.
Kegagalan Mitigasi Bencana
Indonesia secara alamiah berada di wilayah rawan bencana. Iklim tropis dengan curah hujan tinggi, pertemuan angin muson, serta posisi di cincin api Pasifik menjadikan banjir, longsor, gempa bumi, dan letusan gunung api sebagai ancaman yang terus-menerus.
Berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) 2024, BNPB mencatat delapan provinsi dengan kategori risiko tinggi, termasuk Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Hingga Desember 2024, ribuan bencana terjadi di Indonesia, sekitar 99 persen di antaranya merupakan bencana hidrometeorologi. Berbagai indeks global, bahkan menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara paling rawan bencana di dunia. Dengan kondisi ini, kemampuan mitigasi seharusnya sudah menjadi keharusan, bukan pilihan.
Sayangnya, tragedi di Sumatera menunjukkan sebaliknya. Negara tampak tidak siap. Padahal, pada konferensi pers Sabtu, 1 November 2025, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati telah memperingatkan potensi hujan ekstrem dengan curah tinggi. Peringatan dini itu tidak diikuti kesiapsiagaan yang memadai di lapangan.
Hingga kini, status bencana nasional masih menggantung meski indikator teknis dinilai telah terpenuhi. Proses evakuasi berjalan lambat. Banyak korban masih tertimbun lumpur, longsoran tanah, bangunan runtuh, dan gelondongan kayu. Di sejumlah desa, warga terpaksa mengonsumsi jagung pakan ternak karena terputusnya akses pangan.
Beberapa wilayah, bahkan kekurangan air bersih dan makanan siap saji akibat lumpuh totalnya pusat kota. Tim SAR dan relawan pun mengalami kelelahan ekstrem. Basarnas mengakui, tim gabungan telah bekerja tanpa henti selama tujuh hari dalam kondisi fisik yang semakin menurun.
Akar Masalah dan Tanggung Jawab Negara
Sebagai Muslim, kesabaran dalam menghadapi musibah merupakan keniscayaan, sebagaimana firman Allah dalam QS At-Taubah ayat 51. Namun Al-Qur’an juga mengingatkan, dalam QS Ar-Rum ayat 41, bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat ulah tangan manusia sendiri. Tentunya ini menjadi sebuah peringatan agar manusia kembali berpikir, bertobat, dan memperbaiki jalan hidupnya.
Data Global Forest Watch (GFW) menunjukkan, Indonesia kehilangan sekitar 32 juta hektare tutupan pohon sejak 2001 hingga 2024. Pada 2023 saja, sebanyak 292.000 hektare hutan primer lenyap, meningkat 27 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Padahal, hutan primer berperan vital sebagai penyimpan karbon, pengatur tata air, pencegah banjir dan erosi, serta penyedia jasa ekosistem paling stabil dan bernilai tinggi.
Banjir bandang di Aceh-Sumatera adalah alarm keras. Kerusakan hutan tidak terjadi secara alami, melainkan akibat kebijakan negara yang membuka kawasan hutan secara luas bagi pertambangan, penebangan, dan ekspansi perkebunan sawit.
Lemahnya pengawasan terhadap penebangan ilegal dan deforestasi liar, memperparah keadaan. Bahkan, KPK tengah memproses dugaan aliran dana tambang ilegal senilai Rp400 miliar yang terkait pembiayaan pemilu.
Dengan demikian, bencana ini bukan semata-mata takdir alam. Ia adalah buah dari kebijakan yang lebih mengutamakan keuntungan segelintir pihak, dan mengabaikan keselamatan rakyat dan kelestarian lingkungan.
Tragedi Sumatera seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk mengevaluasi secara menyeluruh kebijakan pembangunan yang terbukti merugikan masyarakat dan merusak masa depan ekologi Indonesia.(*)
.
*Penulis adalah Guru Matematika MAN 1 Aceh Barat, saat ini sedang menyelesaikan studi Program Pascasarjana Ekonomi Syariah STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh. Email: wirdahrazali2025@gmail.com.
Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya.
=================================
EDITOR: JUNAIDI MULIENG








