BASAJAN.NET, Meulaboh — Peneliti Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala (FISIP USK) mengkaji risiko dan dampak lingkungan yang dirasakan masyarakat di sekitar kawasan pertambangan di Kabupaten Aceh Barat, Sabtu, 26 September 2026.
Penelitian bertajuk Risiko dan Dampak Lingkungan: Komunitas Pedesaan Terdampak Pertambangan (RSQ-M) itu, ingin melihat pengalaman warga secara langsung. Peneliti menggali bagaimana masyarakat melihat perubahan di lingkungan mereka, merasakan dampaknya, dan menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut.
Sebanyak 400 responden dilibatkan dalam penelitian ini. Mereka berasal dari sejumlah wilayah di sekitar kawasan pertambangan. Peneliti mengumpulkan informasi melalui kuesioner dan wawancara langsung dengan sejumlah warga.
Ketua peneliti, Khairulyadi, mengatakan pengalaman masyarakat penting untuk memahami persoalan lingkungan di kawasan pertambangan. Perubahan yang terjadi, kata dia, tidak selalu dapat dilihat hanya dari kondisi lingkungan secara fisik.
Karena itu, lanjut Khairulyadi, penelitian juga melihat perubahan pada kualitas air, tanah, udara, dan bentang alam.
Menelusuri Dampak yang Dirasakan Warga
Peneliti kemudian mengaitkannya dengan kehidupan warga, termasuk mata pencaharian, kondisi sosial, kesehatan, kenyamanan, dan hubungan masyarakat dengan lingkungan sekitar.
“Persoalan pertambangan tidak hanya dari aspek ekonomi, tapi juga dari perspektif sosial dan lingkungan,” kata Khairulyadi.
Menurut dia, pengalaman warga dapat memberikan gambaran tentang bagaimana perubahan lingkungan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Pandangan tersebut juga penting ketika membicarakan pengelolaan lingkungan di sekitar kawasan pertambangan.
Tim peneliti juga melibatkan sejumlah petugas lapangan untuk mengumpulkan data. Sebelum turun ke lapangan, mereka mendapat pembekalan mengenai penelitian RSQ-M. Sebagian petugas tersebut merupakan mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU).
Hasil kuesioner dan wawancara nantinya akan digunakan untuk melihat pengalaman masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan pertambangan Aceh Barat. Peneliti juga ingin melihat kaitan antara kegiatan pertambangan, perubahan lingkungan, dan kehidupan warga.
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kemitraan FISIP USK sekaligus anggota peneliti, Masrizal, mengatakan penelitian tersebut menjadi bagian dari upaya FISIP USK memahami perubahan sosial yang terjadi di Aceh.
Menurut Masrizal, penelitian ini diharapkan dapat menambah bahan kajian mengenai persoalan lingkungan dan kehidupan masyarakat pedesaan.
“Temuan penelitian juga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pihak terkait dalam merumuskan kebijakan dan program di wilayah terdampak pertambangan,” ujarnya.[]
========================
EDITOR: JUNAIDI MULIENG








