BASAJAN.NET, Banda Aceh — Gelar guru besar bukan sekadar pencapaian akademik. Jabatan itu membawa tanggung jawab untuk mengembangkan ilmu, menghasilkan karya, dan memberi solusi bagi persoalan masyarakat.
Staf Ahli Menteri Agama, Faisal Ali Hasyim, mengatakan profesor memikul amanah keilmuan, moral, dan peradaban. Karena itu, ilmu yang dikembangkan tidak boleh berhenti di lingkungan kampus.
“UIN Ar-Raniry harus menjadi pusat keunggulan ilmu pengetahuan, guna memperkuat posisinya sebagai perguruan tinggi Islam yang unggul, berkarakter, dan memiliki reputasi internasional,” kata Faisal.
Pernyataan itu disampaikan dalam pidato tertulis Sekretaris Jenderal Kementerian Agama yang dibacakan Faisal pada pengukuhan guru besar UIN Ar-Raniry Banda Aceh, di Auditorium Prof Ali Hasjmy, Selasa, 22 September 2026.
Untuk mencapai posisi tersebut, kata Faisal, UIN Ar-Raniry perlu memperkuat tradisi akademik, riset, dan jejaring internasional. Guru besar menjadi salah satu penggeraknya..
Baca berita lainnya: Peneliti UIN Ar-Raniry Soroti Lemahnya Perlindungan Kekayaan Intelektual Gayo
Jumlah Saja Tidak Cukup
Bertambahnya guru besar membuat kapasitas akademik UIN Ar-Raniry semakin besar. Namun, jumlah saja tidak cukup.
“Tantangannya kini adalah memastikan gelar dan kepakaran itu berbuah pada riset, pendidikan, dan pengabdian yang benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar Faisal.
Rektor UIN Ar-Raniry, Mujiburrahman, menyampaikan hal senada. Menurut dia, guru besar tidak hanya bertugas mengembangkan ilmu dan menghasilkan karya. Mereka juga harus membimbing generasi, menjaga integritas akademik, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
“Guru besar bukan hanya memiliki keunggulan akademik, tetapi juga keunggulan beradaptasi,” ujarnya.
Pesan itu mengiringi pengukuhan sembilan guru besar baru UIN Ar-Raniry. Mereka berasal dari sejumlah bidang, antara lain sejarah peradaban Islam, filsafat, sastra Inggris, pendidikan, politik Islam, komunikasi dakwah, hukum perdata, dan inovasi pengajaran.
Dengan tambahan sembilan profesor tersebut, jumlah guru besar UIN Ar-Raniry kini mencapai 65 orang. Melonjak hampir tiga kali lipat dibandingkan 2022, yang hanya mencatat 22 profesor.
Ketua panitia pengukuhan, Yasir Yusuf, mengatakan bertambahnya guru besar membawa amanah baru bagi UIN Ar-Raniry.
Sembilan guru besar yang dikukuhkan ialah Prof. Dr. Inayatillah, S.Ag., M.Ag. dalam bidang Sejarah Peradaban Islam; Prof. Dra. Juwaini, M.Ag., Ph.D. dalam Filsafat Islam Klasik; Prof. Dr. Muhammad Nasir, M.Hum. dalam Sastra Inggris; Prof. Dr. Sri Rahmi, M.A. dalam Kepemimpinan Pendidikan Islam; dan Prof. Dr. Muji Mulia, S.Ag., M.Ag. dalam Pemikiran Politik Islam Kontemporer.
Selanjutnya Prof. Dr. Fuadi Mardatillah, M.A. dalam Filsafat Pendidikan Islam; Prof. Dr. Fakhri, S.Sos., M.A. dalam Komunikasi Dakwah; Prof. Dr. EMK Alidar, S.Ag., M.Hum. dalam Hukum Perdata; serta Prof. Dr. Ismail Anshari, M.A. dalam Inovasi Pengajaran.[]
PENULIS: MELLYAN
EDITOR: JUNAIDI MULIENG






