Hubungan Aceh-Turki Diplomasi Dua Kekuatan Besar Islam

oleh -272 views
Webinar Aceh Turki
Bidikan layar Webinar Internasional Tracing the History of Relationship Between Aceh and Turkey, yang diadakan STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh melalui google meet, Selasa, 30 Juni 2020. (BASAJAN.NET/MUHAJIR).

BASAJAN.NET, Meulaboh- Dosen sekaligus peneliti dari Instanbul Turkey, Mehmet Ozay mengatakan, hubungan Aceh dan Turki merupakan bentuk diplomasi dua kekuatan Islam yang besar di abad ke 16 dan 17 masehi.

Hal itu disampaikan Mehmet pada Webinar Internasional Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh, dengan tema Tracing the History of Relationship Between Aceh and Turkey, melalui google meet, Selasa, 30 Juni 2020.

Loading...

Dalam paparannya, Mehmet menyanggah pendapat yang menyatakan hubungan Aceh dan Turki hanya bersifat hirarki.

Menurutnya, sebenarnya hubungan Aceh dengan Turki dapat dilihat sejak abad 13-20 masehi. Dimana dalam kurun waktu tersebut pengaruh Turki di Aceh sangat kuat, terutama dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

Peneliti Antropologi dan Sosiologi dari Ibnu Khaldun University itu menyebutkan, salah satu tokoh Turki yang memiliki andil besar dalam perkembangan pengetahuan di Aceh adalah Baba Daud Ar Rumi.

“Dimana keberadaan Ar Rumi, menjadi penting untuk menempatkan pengaruh intelektual Turki bagi Aceh,” kata Mehmet kepada puluhan peserta.

Keterangan tentang Baba Daud Ar Rumi pernah diulas Mehmet Ozay dalam tulisannya “Rumi’ Networks of al-Sinkīlī: A Biography of Bāba Dāwud.” Tulisan tersebut diterbitkan di Jurnal internasional Studi Islamika, Jakarta. Baba Daud Rumi diyakini hidup di Aceh antara tahun 1650 hingga 1750 masehi.

Menurut Mehmet, Baba Daud Rumi hidup selama masa Kesultanan Aceh Darussalam, pada abad ke-16 dan 17. Ia merupakan murid utama ulama kenamaan Aceh, Syeikh Abdurrauf as-Singkili atau Teungku Syiah Kuala.

Mehmet mengatakan, salah satu karya tersohor Baba Daud Rumi adalah Risalah Masailal Muhtadi Li Ikhwan al-Mubtadi, yang diajarkan di lembaga-lembaga Islam di Aceh dan di seluruh dunia Melayu.

Kitab Masailal Muhtadi ditulis dengan Bahasa Arab Melayu atau Jawi yang menjelaskan tentang akidah, dasar-dasar ibadah dan hukum fikih.

Selain Mehmet Ozay, webinar yang dipandu Tuti Hidayati itu juga menghadirkan Filolog Aceh, Hermansyah. Dalam paparannya, Hermansyah melihat hubungan Aceh dan Turki sebagai hubungan kerjasama yang saling menguntungkan.

Menurutnya, selain faktor keislaman, kedua kekuatan besar ini juga sama-sama berperan dalam mengusir Portugis dari Selat Malaka.

Dosen UIN Ar-Raniry itu berpendapat, hubungan Aceh dengan Turki sudah dimulai sejak Kerajaan Samudera Pasai. Namun ia menyayangkan, studi tentang itu masih sangat minim.

“Padahal kedua kerajaan ini penting untuk mendapatkan perhatian, karena itu studi Aceh dan Turki harus diteruskan,” terangnya.

Menurut Herman, ada dua penyebab besar bukti sejarah di Aceh sering redup. Bencana alam dan sosial (konflik).

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Ade Kurniawan mengatakan, pada Webinar sesi ketiga ini, pihaknya sengaja mengangkat tema ke-Acehan yang bersifat global dengan pembicara internasional.

“Sekaligus sebagai bentuk promosi kampus ke dunia luar,” ujarnya.

Ade menyampaikan, Webinar yang dilaksanakan P3M bersama Unit Pelaksana Teknis Teknologi, Informasi dan Pangkalan Data (UPT-TIPD) STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh tersebut, diikuti oleh peserta dari beragam profesi. Mulai dari dosen, peneliti, mahasiswa, hingga pekerja. Baik yang ada di Aceh, Indonesia maupun Malaysia.

Ia menambahkan, untuk ke depan, pihaknya telah merancang beberapa tema Webinar untuk menghadirkan kembali pemateri-pemateri dari luar negeri, dengan berbagai bidang keilmuan.

“Sehingga khazanah keilmuan di STAIN Meulaboh dan PTKIN secara umum, kian berkembang,” tuturnya.[]

 

 

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

 

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *