Lembaga Adat Terima Anugerah Wali Nanggroe

oleh -1.449 views
Anugerah Wali Nanggroe
Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al Haytar menyerahkan penghargaan kepada lembaga adat, kelompok masyarakat dan individu yang dinilai berdedikasi dalam pelestarian adat dan budaya Aceh, pada malam Anugerah Wali Nanggroe II Tahun 2019, di Aula Keurukon Katibul Wali Nanggroe, Sabtu malam 14 November 2019. (BASAJAN.NET/ISTIMEWA)

BASAJAN.NET, Banda Aceh-  Sejumlah lembaga dan pemangku adat di Aceh, menerima Anugerah Wali Nanggroe. Penganugerahan dilakukan dalam rangkaian kegiatan Malam Anugerah Wali Nanggroe II Tahun 2019, di Aula Keurukon Katibul Wali Nanggroe, Sabtu malam 14 November 2019.

Lembaga adat, kelompok masyarakat dan individu yang menerima penganugerahan, dinilai berdedikasi dalam menjaga dan melestarikan khazanah adat dan budaya Aceh. Anugerah tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap aktivitas di bidang adat dan seni budaya.

Loading...

Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al Haytar, dalam keterangan tertulis kepada Redaksi Basajan.net, Ahad, 15 Desember 2019 mengatakan, Anugerah Wali Nanggroe merupakan perwujudan amanah UU Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh (UUPA), terhadap pemberian gelar dan derajat, serta upacara-upacara adat lainnya.

“Sebagai apresiasi terhadap semangat dan keikhlasan para penerima anugerah dalam menjaga, merawat dan melestarikan adat serta seni budaya di Aceh,” ujar Malik Mahmud.

Ia berharap, Anugerah Wali Nanggroe dapat memberikan motivasi dan rasa bangga untuk terus mengabdi bagi kemajuan peradaban Aceh, dengan menjaga dan melestarikan adat dan budaya.

Katibul Wali Nanggroe Usman Umar menjelaskan, para penerima anugerah Wali Nanggroe telah melewati beberapa tahapan. Mulai dari permintaan usulan dari bupati/walikota oleh Wali Nanggroe, pelaksanaan technical meeting, verifikasi dokumen, verifikasi lapangan dan evaluasi hasil verifikasi.

“Sampai pada penyajian calon penerima anugerah kepada Tim P3GA, hingga berakhir pada malam anugerah ini,” katanya.

Usman mengatakan, hampir semua peserta memiliki peluang yang sama. Namun dengan berbagai pertimbangan, panitia membatasi hanya tiga nominator untuk setiap katagori. Ia menyadari, masih banyak tokoh yang layak mendapatkan anugerah terhadap dedikasinya, baik pada masyarakat maupun lingkungan.

“Untuk itu, apabila anugerah ini dapat diselenggarakan secara rutin dan berkala, maka mereka bisa mendapatkannya secara merata,” ucapnya.

Sementara itu, Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah mengatakan, di era teknologi digital sekarang ini, adat dan budaya Aceh cenderung terlupakan. Jarang generasi muda yang tertarik untuk melibatkan diri dalam pelestarian adat dan budaya. Menurutunya, semua pihak harus mendorong generasi muda Aceh agar mencintai adat dan budayanya sendiri.

“Harus ada generasi penerus yang peduli. Jika tidak, pelan-pelan adat dan budaya Aceh akan tergeser zaman,” ujarnya.

Nova mengajak semua pihak untuk mendukung setiap gerak langkah Lembaga Wali Nanggroe dalam upaya menguatkan adat dan budaya Aceh.

“Kita berharap lembaga ini terus berdiri tegak sebagai pemersatu masyarakat Aceh, dalam menjaga kesatuan dan kelestarian nilai-nilai adat dan budaya yang kental dengan nilai Islam,” kata Nova sambutannya.

Adapun para penerima Anugerah Wali Nanggroe II Tahun 2019, yaitu Anugerah Tangloeng Nanggroe untuk kategori Penyelenggaraan Pemerintahan Adat diberikan kepada kemukiman Krueng Geukueh, Kabupaten Aceh Utara.

Anugerah Peusaneut Aneuk Nanggroe untuk kategori penataan masyarakat adat dan budaya diraih Kemukiman Kinco, Kabupaten Aceh Barat. Anugerah Peutimang Boinah Nanggroe untuk kategori pengelolaan sumber daya alam diterima Kemukiman Lamteuba, Kabupaten Aceh Besar.

Anugerah Tudong Nanggroe untuk kategori pelestari kerajinan dan produk budaya (papah buet jaroe aneuk nanggroe) diraih kelompok Kupiah Meukutop dari Kabupaten Pidie.  Kategori pelestari kesenian tradisi atau Papah Peyasan Nanggroe, diraih kelompok Daman Meriah dari Kabupaten Bener Meriah. Kategori pelestari lingkungan hidup berbasis kearifan lokal atau Papah Seulingka Nanggroe, diterima kelompok Panglima Danau dari Kota Sabang.

Untuk Anugerah Dalong Nanggroe diberikan bagi pelaku adat dan budaya secara perseorangan. Kategori pengrajin warisan seni dan budaya (Peusigak Pusaka Nanggroe) diberikan kepada Dahlia Zainun dari Aceh Besar. Kategori penjaga warisan adat dan budaya (Peuhiroe Peukateun Nanggroe) diberikan kepada T. Nur Iman dari Kota Langsa. Kategori penggiat kemanusiaan (Peureumeun Aneuk Nanggroe) diterima oleh Desi Dwiyanti dari Aceh Tamiang.

Kepada para penerima Anugerah, Wali Nanggroe menyerahkan tropi, sertifikat serta dana bimbingan. Selain itu, seluruh nominator dari setiap kategori mendapatkan sertifikat.[]

 

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

 

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *