Spot Farming Alternatif Pertanian Masa Depan

oleh -164 views
Spot Farming Alternatif Pertanian Masa Depan
FOTO: BIDIKAN LAYAR ZOOM

BASAJAN.NE, Banda Aceh- Pakar pertanian Jerman, Jens K. Wegener mengemukakan, spot farming menjadi alternatif untuk meningkatkan produksi pertanian masa depan.

“Konsep ini fokus pada cara bercocok tanam, sosial dan ekologi, dengan mengklasifikasikan lahan pertanian menjadi beberapa spot sesuai karakteristiknya,” papar Jens.

Loading...

Hal itu disampaikan Jens saat tampil sebagai pembicara utama pada The 2nd International Conference on Agricultural Technology, Engineering, and Environmental Sciences (ICATES), Senin, 21 September 2020.

Guru Besar Julius Kühn Institute itu menerangkan, secara keseluruhan spot farming dikerjakan dengan otomasi robotika. Hal itu dapat meningkatkan hasil agronomis, serta meningkatkan produksi, seperti pembibitan, pemupukan, penggunaan pestisida dengan menerapkan pertanian presisi.

Jens melanjutkan, selain itu spot farming juga memperhatikan lanskap yang mempunyai potensi biodiversitas yang tinggi dan elemen struktural lainnya.

“Serta tingkat penerimaan masyarakat (sosial budaya) untuk mencapai intensifikasi pertanian yang berkelanjutan,” katanya.

Berita terkait: Ilmuwan Dunia Akan Bahas Teknologi Pertanian Era 4.0

Konferensi yang diadakan Teknik Pertanian Unsyiah bekerjasama dengan Universiti Malaysia Pahang dan Politeknik Aceh Selatan itu, diselenggarakan secara virtual dengan spot di Oasis Atjeh Hotel Banda Aceh. Diikuti peserta dari berbagai negara, di antaranya Indonesia, Malaysia, Bangladesh, Thailand dan Jepang.

Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Samsul Rizal mengatakan, di era revolusi industri 4.0, diperlukan percepatan pembangunan pertanian berkelanjutan dengan penerapan berbagai aplikasi teknologi, sehingga produktivitas dan kualitas hasil pertanian dapat meningkat.

Samsul menambahkan, selain itu juga perlu memotivasi generasi muda untuk terjun di sektor pertanian dan mengubah paradigma petani tradisional menjadi petani modern.

“Kolaborasi keilmuan dalam ICATES ini menjadi kunci untuk mencapai hal tersebut,” tekannya.

Sementara itu, Ketua Jurusan Teknik Pertanian Unsyiah Indera Sakti Nasution menyampaikan, ini merupakan kali kedua ICATES dilaksanakan. Tahun ini, pihaknya mengangkat tema Emerging Novel Research in Agriculture, Engineering, and Environmental Sciences.

Indera berharap, forum yang mempertemukan ilmuwan dari berbagai negara di dunia tersebut, dapat menghimpun hasil-hasil riset untuk diadaptasi demi percepatan pembangunan pertanian di Aceh berbasis aplikasi teknologi.

Tahun ini, ICATES diikuti 111 presenter dan 170 partisipan. Selain itu juga turut diisi oleh beberapa pembicara seperti, Lilik Sutiarso dari Universitas Gadjah Mada, Shahril Anuar Bahari dari Universiti Teknologi Mara, Malaysia dan Amro Babiker Hasan Eltayeb dari King Saud University, Saudi Arabia.[]

 

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

 

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *