Sinergi Membenah Pendidikan Islam di Aceh

oleh -76 views

Penulis: Fadhlur Rahman Armi, Lc., MA*

BASAJAN.NET- Sebagai ujung tombak pemerintahan, penguasa memiliki tanggung jawab besar atas setiap kebijakan yang dikeluarkan. Menjadi penguasa bukan sekedar untuk memenuhi kepuasan menduduki jabatan. Bukan pula sebagai ajang memperkaya diri dan keluarga. Seorang penguasa/pemimpin harus siap berkorban untuk kepentingan masyarakat luas.

Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam salah satu kaidah fikih tasharruf al-Imam ‘ala al-ra’iyah manuth bi al-mashlahah. Bahwa kebijakan penguasa harus berdasarkan maslahat, yang menguntungkan semua pihak. Kemaslahatan bersama lebih utama daripada kepentingan segelintir orang atau kelompok tertentu.

Keumuman makna yang dimiliki dalam kaidah tersebut, mengisyaratkan bahwa penguasa adalah mereka yang mampu berlaku adil. Baik adil dalam makna sama rata atau pun seimbang.

Dalam sejarah Islam, tidak sedikit eksistensi penguasa yang diwarnai kritikan dan masukan dari para cendikiawan dan ulama di masanya. Hal ini memperhatikan, adanya tuntutan di dalam Islam agar berhati-hati saat memangku jabatan dan memegang kekuasan tertentu.

Tidak sedikit eksistensi penguasa dalam sejarah Islam yang diwarnai kritikan dan masukan dari para cendikiawan dan ulama di masanya. Hal ini memperhatikan adanya tuntutan di dalam Islam agar berhati-hati saat memangku jabatan dan memegang kekuasan tertentu.

Pada saat pemerintahan Nizham al-Mulk, misalnya. Perhatiannya sangat besar terhadap pengembangan pendidikan Islam. Kesadaran intelektual Nizham al-Mulk, telah membangkitkan semangat pembaharuan di bidang pendidikan. Masjid tidak hanya dijadikan sebagai tempat beribadah saja, namun sebagai pusat pelaksanaan pendidikan, musyawarah, pengembangan kajian literatur Islam, rumah pengadilan, dan lainnya.

Sama halnya dengan Nizham al-Mulk, Nuruddin al-Zanki sebagai penguasa Damaskus, memberikan perhatian besar terhadap pengembangan bidang pendidikan. Kucuran dana terhadap pembangunan madrasah sangat mencolok. Tampak dari madrasah terbesar yang dibangunnya adalah madrasah al-Nuriyah al-Kubra (Baca Abdurrahmansyah, 5-6: 2005).

Eratnya hubungan antara ulama dan penguasa tampak dari implikasi kebijakan yang dihasilkan selama berkuasa. Bisikan-bisikan cendekia dalam sejarah Islam, sedikit banyaknya telah menjerumuskan penguasa di masanya ke alur dan jalan yang beragam. Maka tidak heran, penguasa yang diapit oleh ulama malah justru menggiringnya ke dalam keadaan yang chaotic (kacau) dan tidak menentu.

Kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan penguasanya, dan kerusakan penguasa disebabkan oleh kerusakan ulama. Kerusakan ulama disebabkan oleh cinta harta dan kedudukan. Barang siapa dikuasi ambisi duniawi, tidak akan mampu mengurus rakyat kecil, apalagi penguasanya. Allah tempat meminta segala hal.

Rangkaian sebab akibat tersebut disampaikan oleh Al Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin-nya, sebagai refleksi dirinya terhadap fakta sosial politik yang terjadi di masanya.

Di Aceh, misalnya tertulis dengan tinta-tinta emas sejarah tentang kenangan perjuangan dan andil para cerdik cendekiawan. Seperti Hamzah Fansuri, Syamasuddin Sumatrani, Nuruddin Ar-Raniry, Abdurrauf Al-Singkili dan lainnya.

Kegelimangan Aceh tidak hanya terletak pada bangunan fisik yang berdiri megah. Namun bagaimana ilmu pengetahuan dikembangkan dengan sebaik-baiknya. Terlepas dari adanya pro kontra terkait paham dan aliran yang diyakini kebenarannya, Aceh diakui sebagai pusat peradaban ilmu pengetahuan di kawasan Melayu.

Strategi Pembenahan Pendidikan Islam di Aceh

Di era modern, tantangan terbesar Aceh dalam memajukan dan mengembalikan kegemilangan pendidikan Islam dihadapkan pada persoalan yang pelik. Stigma negatif tentang pendidikan Islam yang diwariskan oleh kolonial belum sepenuhnya mampu dihilangkan. Terbelakang dan penghambat kemajuan adalah label yang acap kali dialamatkan pada pendidikan Islam.

Belum lagi klaim yang muncul adalah bahwa Islam sebagai tatanan nilai yang tidak dapat hidup harmonis dan berdampingan dengan sains modern. Islam pada hakikatnya sudah terpinggirkan dalam bangunan sistem pendidikan.

Untuk itu, pendidikan Islam harus bergerak cepat untuk membenah diri. Peningkatan mutu sumber daya manusia mutlak diperlukan, sehingga mampu menjawab semua tuntutan internal dan eksternal secara global. Penguasaan sains dan teknologi oleh pendidik dan peserta didik, yang terintegrasi dengan nilai-nilai keislaman adalah satu keniscayaan.

Selain itu, hal penting lainnya yang harus disiapkan adalah kurikulum yang berwawasan masa kini dan masa depan. Kurikulum ini diharapkan dapat menciptakan manusia-manusia berkualitas yang memiliki keterampilan dan kecakapan dalam hidup.

Hal lain yang tak boleh dianggap enteng adalah pembangunan sarana dan prasarana yang memadai. Sarana dan prasarana merupakan unsur penting yang sangat menunjang bagi kelancaran dan keberhasilan proses pendidikan. Oleh karena itu, sarana dan prasarana akademik mutlak diperlukan. Baik berupa perpustakaan, gedung, ruang pembelajaran, masjid dan lain sebagainya.

Berbenah secara komprehensif harus sampai ke tataran mendekonstruksi metode dan menejemen. Metodologi dan manjemen yang selama ini kita pakai harus diubah dan dibangun baru, yang dapat membawa semangat dan konsep baru, sehingga menghasilkan tujuan yang diinginkan sesuai dengan tuntutan modern.

Pandidikan Islam di Aceh Barat

Dilansir oleh situs data.acehbaratkab.go.id tentang data statistik pondok pesantren yang berada di kabupaten Aceh Barat bahwa ada sekitar 37 pondok pesantren dengan 5.069 santri mukim dan 1.260 santri tidak mukim.

Jika dibandingkan dengan data di beberapa kabupaten lainnya, Kabupaten Aceh Barat masih perlu melakukan pembenahan, khususnya di bidang pendidikan Islam. Pengembangan pendidikan dayah atau pondok pesantren perlu digalakkan lebih intens lagi.

Satu kebanggaan tersendiri, ketika hari ini mulai banyak pegiat-pegiat pendidikan Islam yang menjalankan pendidikan dayah. Seperti, Dayah Ruhul Qur’ani, MAN 1 Boarding, SMA Al Azhar, MA ZUDI dan lain sebagainya.

Kehadiran pendidikan dayah ini diharapkan dapat bersanding dan melengkapi kekosongan di tengah-tengah masyarakat. Sehingga nantinya, pendidikan Islam di Aceh, khususnya di Aceh Barat semakin berkualitas dan bernash. Untuk itu, perlu dukungan seluruh elemen untuk membangun dan memajukan sistem pendidikan dayah yang humanis, modern, dan terpadu.

Memperhatikan ajaran islam, jelas menunjukkan bahwa adanya hubungan organik antara ilmu dan iman. Hubungan tersebut tercatat dalam sejarah dengan kegemilangan islam yang dapat membangun peradaban dalam arti yang rill dan berdimensi universal.

Universalitas ini tidak akan tercapai, kecuali dengan adanya jiwa-jiwa kosmopolit muslim sejati yang memperkokoh universalitas Islam. Meliputi di dalamnya sejarah, filsafat, sains, akidah, tasauf dan tradisi keilmuan Islam lainnya. Meminjam istilah dari Nurcholish Madjid yaitu santri yang canggih. Santri bersikap egaliter, terbuka, kosmopolit, dan demokratis.

Bangunan sinergi antara Ulama dan Umara kian terlihat semakin jelas dengan berdirinya madrasah dan dayah. Kebijakan Umara dalam meningkatkan mutu pendidikan agama di negeri tanah rencong akan memberikan dampak jangka panjang bagi pembinaan karakter generasi muda ke depan.

Dukungan moril dari masyarakat sangat diharapkan, agar spirit pembangunan manusia yang dianut oleh umara tersebut kekal dan berkelanjutan. Sehingga generasi penerus tidak menjadi lemah seperti yang dikhawatirkan di dalam Al Quran QS. An-Nisa: 9. (*)

==================

* Dosen Dakwah dan Komunikasi Islam STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh dan Pemerhati Pendidikan Dayah di Aceh. Email: fadh_armi@staindirundeng.ac.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.