Seniman Kopi Meulaboh

oleh -1.053 views
Gampoeng Kupie
Gampoeng Coffee. (BASAJAN.NET/OKA RAHMADIYAH).

BASAJAN.NET, Meulaboh- Bangunan minimalis itu terlihat lengang. Beberapa sepeda motor terparkir rapi di sisi kanan bangunan. Jam menunjuk angka sepuluh lewat sekian detik. Bangunan yang teletak di Jalan Iskandar Muda, Kuta Padang Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat itu, beratap daun rumbia. Keseluruhannya terbuat dari papan. Hanya pintu masuk dan jendela depan yang terbuat dari kaca.

Di bagian depan bangunan, terdapat sebuah gambar berbentuk lingkaran hitam dengan pinggiran putih. Garis-garis putih membentuk pola rumah dan gelas di bagian tengah. Tulisan Gampoeng Coffee Shop di bawahnya.

Loading...

Terdapat tiga meja dan kursi di beranda bangunan. Dua pada sisi kiri dan satu di bagian kanan, bersisian dengan tumbuhan bambu hias dan pohon palem. Pada bagian plafon beranda tergantung sebuah hiasan bambu. Pohon kelapa yang telah diplitur dijadikan tiang utama penopang bangunan, selaras dengan dinding berwarna coklat.

Pertama kali memasuki bangunan tersebut, mata langsung disuguhi lukisan Teuku Umar sebagai ikon utama di dinding sebelah kanan. Lengkap dengan kutipan fenomenal “Beungoh singoeh tanyoe jep kupi bak keude Meulaboh atawa uloen akan syahid”.

“Saya ingin menunjang pariwisata kota, ketika orang luar berkunjung ke Meulaboh. Karena awalnya saya pikir, Meulaboh belum memiliki tempat yang berkarakter,” ujar laki-laki muda itu.

Namanya Wali, usianya 32 tahun. Postur tubuh tidak terlalu tinggi dan memiliki kulit kuning langsat. Hari itu, Rabu 2 Januari 2019, ia memakai kaos putih dipadu celana jeans dan sneakers hitam. Ia merupakan lulusan sarjana Bahasa Arab Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar Raniry, Banda Aceh.

Gampoeng Coffee sengaja didesain elegan untuk memberikan suasana berbeda dengan warung kopi pada umumnya. Terdapat beberapa kipas angin yang menempel di dinding dan beberapa lagi menggantung pada bagian atap.

Dua belas lampu yang ditutupi tudung bambu menggantung di bagian kayu-kayu penyangga bangunan. Lukisan Rumah Aceh menghiasi dinding sebelah kiri dengan latar bangunan-bangunan megah. Selain itu, cengkeh, kayu manis dan bunga lawang yang dijadikan hiasan, semakin menambah kesan klasik warung kopi tersebut.

Berjarak beberapa meter dari pintu masuk, terdapat bar yang didominasi warna putih dengan cangkir tersusun rapi. Beberapa toples berisi biji kopi, botol air mineral dan satu pot tanaman hias di bagian depan. Mesin espresso lengkap dengan grinder di sisi kanannya. Tiga lampu terlihat menggantung di bagian atas bar. Freezer berwarna putih dengan bentuk kubus, menghiasi bagian tengah bar.

Meja-meja jati tersusun rapi memenuhi ruang. Semuanya ada enam belas meja. Dua laki-laki muda yang berada di meja terpisah, tampak sedang bersantai dengan secangkir kopi di depan mereka.

“Modal awal saya adalah nekat. Saya menggunakan stok jati bekas yang didaur ulang untuk bahan dasar meja, karena orang yang detail, sampai bahan meja pun diperhatikan,” ujar Wali.

Gampoeng Caffee berdiri sejak tahun 2016. Berawal dari ketertarikan Wali untuk menghadirkan kedai kopi berbeda dan modern, yang pembuatan kopinya menggunakan jasa barista. Selain kopi, juga dilengkapi dengan makanan siap saji. Modal awal yang ia keluarkan untuk membangun usahanya sekitar Rp200 juta. Bahkan ia sempat menjual tanah karena kekurangan uang.

Wali 1
Wali, pemilik Gampoeng Coffee. (BASAJAN.NET/DOK. PRIBADI)

Penamaan Gampoeng Coffee bukan tanpa alasasan. Menurut Wali, nama itu dipilih karena semua jenis kopi ada di kedainya.

“Banyak yang mengatakan kopi kita yang paling enak,” katanya.

Dalam sehari, Wali mengaku bisa mendapatkan omset sebesar Rp3,5 juta. Jumlah tersebut terus meningkat tiap tahunnya.

“Kita juga mengedukasi orang yang baru minum kopi, karena kopi itu memberi inspirasi,” lanjutnya.

Wali tidak main-main dalam menjalankan usaha kopinya. Meski mempekerjakan putera daerah, namun ia menetapkan standar tinggi untuk seorang barista. Barista Gampoeng Coffee haruslah seorang sarjana dengan indek prestasi yang bagus.

Sebelum dipekerjakan, barista akan diberikan pelatihan tentang ilmu kopi dan teknik pembuatannya. Selain itu, si barista diwajibkan untuk mengabdi di Gampoeng Coffee selama dua tahun. Meski hanya bersertifikat barista, namun Wali lebih memilih untuk melatih sendiri baristanya.

“Karena barista bukan tukang kopi, tapi seniman kopi,” tegas Wali, diiringi alunan lagu Ed Sheeran.

WhatsApp Image 2020 01 07 at 15.51.24 1
Wali saat meracik kopi di cafe nya. (BASAJAN.NET/DOK. PRIBADAI)

Wali mengatakan, kopi yang ada di kedainya benar-benar diseleksi, dibuat dengan perasaan dan konsistensi dalam penyajiannya. Hal tersebut diperlukan agar rasa kopi yang disuguhkan tidak berubah. Selain itu, kualitas mesin juga sangat menentukan hasil kopi yang dikeluarkan.

“Ketika barista gagal dalam membuat kopi, maka kopi tersebut akan diminum sendiri,” ucapnya.

Ia mencontohkan, seperti kopi espresso memiliki standar yang sudah disepakati dunia. Harus diracik dalam takaran waktu dan ukuran yang pas. Jika tidak mengikuti standar yang ada, maka akan menghasilkan under espresso atau kurang pas.

“Pass espresso inilah espresso yang perfect. Kemudian ada over espresso atau berlebihan, akan muncul rasa pahit dan asin, karena antioksidan dalam secangkir kopi, sama dengan sebuah apel. Kopi kelas satu dunia adalah espresso,” terang Wali.

WhatsApp Image 2020 01 07 at 17.07.26 1
Bar Barista Gampoeng Coffee. (BASAJAN.NET/DOK.PRIBADI)

Awalnya, menu kopi di Gampoeng Coffee ditangani oleh tutor dari Jakarta. Di sini, para pengunjung akan disuguhkan dengan berbagai menu favorit, seperti untuk kopi blend ada banana mocca. Untuk black coffe (kopi hitam) minuman favoritnya ada wine coffe. Ini termasuk kopi hitam paling mahal di Gampoeng Coffee. Sedangkan untuk minuman non coffee, ada thai tea.

Untuk makanan, yang paling digemari pengunjung adalah kentang goreng dan curos. Ada juga mie sop dan indomie nuklir.

“Ada sebagian teman saya yang mengatakan, mie sop gampoeng di sini yang paling enak,” ujarnya bangga.

Kopi yang tersedia di Gampoeng Coffee diambil dari Aceh Tengah dan Bener Meriah. Menurut Wali semua hal harus diawali dengan belajar, termasuk menentukan kualitas kopi yang baik. Ia belajar manajemen coffee shop secara otodidak dan sharing dengan teman-temannya.

“Kita hanya bisa total berusaha, rejeki Allah yang atur,” ujarnya.

Selain kualitas kopi, hal lain yang ia utamakan adalah pelayanan. Ia mewajibkan setiap karyawannya untuk bersikap ramah kepada pengungjung. Menyambut dan menanyakan apa yang ingin diminum. Jika ada permasalahan pesanan, akan ganti bahkan tidak dihitung dalam tagihan alias gratis.

“Karena seenak apa pun minuman yang kamu buat, ketika pelayanan mu jelek, semua itu bullshit (omong kosong),” tegasnya.

“Daya tarik cafe saya adalah konsistensi dalam menyajikan kopi, totalitas, pelayanan dan karakter tempat,” sambung Wali.

Hal itu pula yang membuat Gampoeng Coffee banyak dikunjungi berbagai kalangan. Mulai dari anak muda setingkat pelajar dan mahasiswa, aktivis, pebisnis hingga pejabat daerah maupun luar daerah.

Seperti halnya Maulid, 28 tahun, berasal dari Banda Aceh. Ia mulai menjadi pengunjung tetap Gampoeng Coffee akhir tahun 2018. Tempat yang nyaman dan memiliki karakter, jadi alasan tersendiri bagi Maulid memilih Gampoeng Coffee sebagai tempat tongkrongan.

“Untuk pelayanan, tergantung situasi pengunjung. Ketika sedang sepi, pelayanannya akan lebih bagus dibandingkan saat ramai,” ujarnya.

Ia biasa menghabiskan waktu di Gampoeng Coffee sejam, untuk menikmati kopi favoritnya, sanger mini dan arabica. Untuk makanan, ia biasa memesan nasi goreng.

Hal senada juga diungkapkan Nanda, 30 tahun. Menurutnya, Gampoeng Coffee tempat yang nyaman untuk bersantai. Selain itu, juga ada keunikan dibanding café lain. Ia mengetahui Gampoeng Coffee dari rekomendasi teman-temannya.

“Tempatnya nyaman, ada wifi dan pelayanannya juga bagus,” kata mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) asal Meulaboh itu.

WhatsApp Image 2020 01 07 at 17.07.26
Suasana pengunjung di Gampoeng Coffee Meulaboh. (BASAJAN.NET/DOK. PRIBADI)

Untuk membantu usahanya, Wali mempekerjakan dua barista, seorang asisten barista, empat waiters (pelayan perempuan), seorang kasir dan empat tukang masak. Wali menggaji mereka mulai Rp900.000., hingga Rp2,5 juta, tergantung posisi masing-masing pekerja.

“Untuk anak muda yang ingin membuka usaha, pandai-pandai melihat peluang, totalitas dan belajar,” pesannya.

Abdullah Fik, 22 tahun, berasal dari Kecamatan Arongan Lambalek, Kabupaten Aceh Barat. Ia sudah menjadi barista di Gampoeng Coffee sejak tahun 2017. Barista bukanlah keinginannya. Awalnya ia hanya mencoba mengisi kekosongan barista di café itu, sehingga memutuskan untuk belajar selama tiga bulan. Namun lama-kelamaan, laki-laki yang akrab disapa Fik itu, mulai ketagihan untuk meracik cangkir demi cangkir kopi. Profesi barista pun ia geluti hingga sekarang.

“Pada awal-awal belajar, ada rasa takut. Namun saya mencoba menikmati profesi ini,” ujarnya.

Fik mengatakan, tantangan seorang barista seperti dirinya harus mampu meracik kopi yang nikmat. Keinginan pelanggan harus betul-betul disesuaikan dengan takaran kopi dan air, sehingga menghasilkan rasa kopi yang tepat.

Lain halnya dengan Azhar, 22 tahun. Ia bertugas melayani setiap pengunjung. Sudah tiga bulan Azhar bekerja di sana. Menurutnya, hal paling utama dalam melayani pengunjung adalah kesopanan. Di hari-hari biasa, ia biasanya melayani hingga 400 lebih pengunjung dalam sehari. Jika hari libur, jumlah pengunjung bisa mencapai 600 orang dalam sehari. Azhar bekerja dari pukul 14.00 WIB hingga 00.00 WIB.

“Hal yang paling sulit, ketika pengunjung sedang ramai dan ada yang ingin cepat. Tapi saya nyaman kerja di sini, karena teman-teman yang asyik,” kisah Azhar.[]

 

KONTRIBUTOR: OKA RAHMADIYAH

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

Tulisan ini hasil liputan penulis selama mengikuti kelas Jurnalistik di Basajan Creative School (BCS) Angkatan 2018.

 

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *