Kokoh di Tengah Prahara

oleh -194 views
kids 1093758 640
ILUSTRASI BELAJAR DARI RUMAH. FOTO: PIXABAY.

Oleh: Mellyan*

Covid-19 memberikan pelajaran berharga bagi kita, pilihannya adalah terus mengeluh atau menerima kondisi dan mengambil sisi positif dari kondisi terburuk.

Loading...

Dalam epik Ramayana, dikisahkan perjuangan Rama menyelamatkan sang istri dari Rahwana, raksasa jahat yang telah menculik Dewi Sinta dan menyembunyikannya hingga ke Alengka. David dan Goliath menceritakan raksasa yang kalah dengan kecerdikan seorang David, atau dalam Islam kita mengenalnya sebagai kisah Daud dan Tjalut.

Tentu saja semua tokoh antagonis tergambar begitu menyeramkan, raksasa. Bahkan kita tumbuh dan meyaksikan begitu banyak kisah kepahlawanan yang lahir dari sosok bertubuh mungil melawan sosok jahat yang memiliki kekuatan di atas rata-rata. Meskipun di awal mengalami kekalahan, sosok hero dapat dipastikan akan mendapatkan kemenangan di akhir cerita.

Namun kali ini dunia terhenyak dengan kehadiran tokoh “antagonis” bertubuh mungil, dengan ukuran hanya 26 hingga 32 kilobase (Leon A. Abdillah; 2020). Virus tersebut ramai diberitakan muncul dari suatu Pasar Makanan Laut Huanan di Kota Wuhan, Ibukota Provinsi Hubei, Cina. Pada awal kemunculannya virus tersebut dikenal dengan sebutan 2019 novel coronavirus atau disingkat 2019-nCoV. Kemudian istilah COVID-19 diresmikan oleh WHO pada tanggal 11 Februari 2020, singkatan dari Coronavirus Disease 2019. Penyakit menular yang mirip dengan influenza yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) (Gorbalenya et al., 2020; Lin et al., 2020).

Covid-19 dianggap sebagai dalang atas semua perubahan yang terjadi di setiap sektor di seluruh belahan dunia. Efek makhluk kecil ini tak pernah disangka dapat membuat perubahan besar hingga yang datang tiba-tiba, hingga kita tertatih-mengikutinya. Pendidikan termasuk salah satu bidang yang terdisrupsi lebih cepat dari perkiraan para ahli karena virus super kecil ini, hingga melahirkan berbagai persoalan dan keluhan.

Seperti dilansir CNBCIndonesia, dengan judul “Saat Emak-emak Pada Protes Sistem Belajar Online Ribet,”. Banyak orang tua tergagap dengan sistem yang sebenarnya telah dimulai sejak satu dekade ini. Bahkan, medcom.id, menurut Nizam, Plt. Dirjen Dikti Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), sejarah belajar daring sudah dimulai sekitar tahun 1980. Namun hanya digunakan terbatas hingga kemunculan sang antagonis yang memaksa semua kalangan, mulai dari Pendidikan dasar hingga perguruan tinggi untuk melek teknologi daring.

Sebenarnya di dunia Pendidikan sendiri, kita mengenal MOOCs (Massive Online Open Courses) mengawali disrupsi di perguruan tinggi, bahkan keseluruhan sistem Pendidikan. Metode belajar-mengajar baru yang berpusat pada mahasiswa menggunakan teknologi dengan jangkauan tak terbatas. Melewati batas ruang kelas, kampus bahkan negara. Memungkinkan user mendapatkan ilmu pengetahuan atau pun keterampilan secara gratis yang bahkan diajarkan oleh guru besar dari perguruan tinggi ternama dunia.

Beberapa MOOCs, juga menawarkan sertifikat yang terverifikasi. Hal ini telah membangun University of People. Institusi ini menawarkan jurusan-jurusan online yang didasarkan dengan prinsip e-learning dan peer-to-peer learning (pembelajaran privat). MOOCs juga berkembangan di Indonesia.

Dalam tulisannya yang berjudul “Pekerjaan yang Akan Hilang Akibat Disruption”, Prof. Reynal Khazali mengungkapkan, disrupsi juga terjadi pada pergantian abad 19 ke abad 20, saat mobil menggantikan kereta-kereta kuda. Ribuan peternak dan pekerja yang menunggu pesanan di bengkel-bengkel kereta kuda pun menganggur. Namun pekerjaan-pekerjaan baru seperti montir, pegawai konstruksi jalanan, pengatur lalu lintas, dan sebagainya pun tumbuh. Saat ini kita pun menyaksikan munculnya pekerjaan-pekerjaan baru yang tak pernah kita kenal 10-20 tahun lalu, seperti Barista, blogger, web developer, big data analyst, social entrepreneur, fashionista and ambassador, Drone operator dan sebagainya.

Di bidang ekonomi misalnya, menjamurnya platform toko online (e-commerce), lahirnya financial technologi (Fintech), dengan berbagai kepraktisannya menggusur pasar-pasar konvensional. Teknologi digital sangat luas penerapannya, oleh karenanya sangat luas dampaknya. Industri media tidak luput dari disrupsi. Model bisnis masa lampau tidak mungkin dilanjutkan. Bisnis media cetak juga merupakan salah satu “korban” disrupsi karena iklan telah berpindah dengan cepat ke media lain seperti media sosial. Hal tersebut telah memaksa media untuk berubah agar dapat bertahan. Era disrupsi berpotensi besar menggeser, bahkan mengubah kebudayaan, adat istiadat yang dipegang teguh oleh masyarakat.

Perbedaannya dengan kondisi hari ini adalah disrupsi yang terjadi di abad 20 meskipun memiliki efek besar, namun terjadi secara bertahap dan perlahan. Sedangkan di era modern, manusia memerlukan waktu beradaptasi dengan segala perubahan, namun dalam sekejap dituntut menerima bahkan lebih jauh, “dipermainkan” oleh virus super kecil ini.

Mau tidak mau, suka tidak suka, orang tua, para pendidik dan pemerintah dipaksa terdisrupsi tanpa aba-aba. Tak ayal ada yang tertatih, bahkan terjungkal, namun kondisi ini harusnya dapat menciptakan dan menempa manusia-manusia kuat yang teruji kualitasnya.

Seperti keluhan banyak orang tua di era pandemi Covid-19, betapa beratnya pembelajaran daring. Mulai dari persoalan gadget hingga kuota, kesulitan membagi waktu, orang tua memiliki kesibukan, belum lagi keluhan tentang susahnya mendampingi anak belajar. Pemahaman orang tua terbatas untuk menguasai pelajaran, ditambah persoalan lain, jika anak merasa kurang nyaman belajar dengan orang tua.

Kita mengenal dunia pendidikan sebagai tempat transfer knowledge. Namun hal yang tidak kalah pentingnya adalah sekolah maupun perguruan tinggi merupakan tempat paling ideal untuk transfer value, dengan mengedepankan emotional question (EQ) dan Spiritual Question (SQ) yang tentunya tidak dapat dilakukan hanya oleh mesin pencari (Google) semata.

Penelitian penghasil ilmu pengetahuan yang tidak dimiliki oleh mesin. Karena Covid-19 secara tidak langsung orang tua dituntut untuk lebih aware (peduli) terhadap anak-anaknya. Jika sebelumnya hampir seluruh kewajiban mendidik di serahkan kepada guru, maka di masa pandemi, orang tua dituntut menjadi guru pertama bagi anak-anaknya. Islam sendiri sebenarnya merupakan pelopor pendidikan yang dimulai dari rumah. Terutama Pendidikan karakter.

Di tengah perkembangan teknologi, banyak nilai-nilai yang tergerus dan bergeser. Maka sebenarnya ini adalah waktu yang tepat untuk kembali “ke rumah” dan mengembalikan nilai-nilai yang mulai tergerus. Karena mahasiswa secara tidak langsung lebih mandiri di dalam belajar, dan interaksi dengan dosen tetap bisa terjadi menggunakan media sosial dan media komunikasi.

Covid-19 memberikan pelajaran berharga bagi kita, pilihannya adalah terus mengeluh atau menerima kondisi dan mengambil sisi positif dari kondisi terburuk.  Saat dunia mulai mengenal internet, Prof Charles Handy mengajak kita “making sense of the future.” Mengendus masa depan. Ia menyebut fenomena ini sebagai the empty raincoat. Sebuah perasaan yang berbeda dengan realitas yang ada.

Saat ini adalah kesempatan bagi orang tua kembali menanamkan dan menjaga perilaku dan etika anak, yang nilai-nilainya didapat langsung dari orang tua. Corona harusnya mengajarkan banyak hal, salah satunya interaksi keluarga, termasuk kewajiban pendidikan pertama adalah milik orang tua.

Keluarga adalah penanggungjawab pertama terhadap Pendidikan anak. Serta mempersiapkan generasi mendatang dengan semua kemungkinan. Pilihan saat ini berada di tangan kita, mengeluh dan kalah atau menang di akhir cerita.[]

*Penulis adalah Dosen Prodi Hukum Ekonomi Islam STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, dapat dihubungi pada email: mellyancutkeumalanyakman@gmail.com.

Isi tulisan sepenuhnya tanggungjawab penulis.

 

 

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *