Dosen UTU Kenalkan Jamban Ramah Lingkungan

oleh -144 views
dosen utu kenalkan jamban ramah lingkungan
Tim pengabdian UTU memperkenalkan biofilter buatan dari botol plastik bekas sebagai pengganti biofilter sarang tawon untuk digunakan pada tangki septik mini komunal, Ahad, 23 Agustus 2020. (BASAJAN.NET/ISTIMEWA).

BASAJAN.NET, Meulaboh- Dosen Universitas Teuku Umar (UTU), memperkenalkan jamban ramah lingkungan dan tangki septik mini komunal kepada masyarakat di Gampong Cotkuta, Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Nagan Raya.

Ketua Tim pengabdian kepada masyarakat, Meylis Safriani mengatakan, kegiatan itu dilakukakan guna mensosialisasikan pentingnya memiliki jamban atau WC di rumah masing-masing yang dilengkapi dengan tangki septik sesuai standar.

Loading...

Ia menjelaskan, menurut survei yang dilakukan timnya, di Gampong Cotkuta masih terdapat masyarakat yang buang air besar di sungai, rawa (alue) maupun sembarang tempat.

“Karena itu, sosialisasi ini penting dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak buang air besar di sembarang tempat,” ujar Meylis, Senin, 24 Agustus 2020.

Meylis mengatakan, meski sebagian masyarakat telah memiliki jamban (WC), namun belum memiliki tangki septik yang memenuhi standar. Dimana tangki septik yang digunakan belum memenuhi syarat, yakni tidak ada coran lantai pada tangki septik (septic tank).

“Sehingga air limbah buangan WC langsung terserap ke tanah. Pembuangan air limbah ini belum ada penanganan yang layak terlebih dahulu,” terang dosen Fakultas Teknik UTU itu.

Ia menjelaskan, hal itu dikarenakan tangki septik yang digunakan masyarakat saat ini tidak memiliki proses filterisasi atau penyaringan terlebih dahulu. Akibatnya, akan terjadi kontaminasi terhadap air sumur yang jaraknya hanya 10 meter dari tangki septik.

Menurutnya, tangki septik yang baik memilki resapan dan proses filterisasi, seperti tangki septik jenis anaerob. Tangki septik mini komunal bertipe anaerob tidak memerlukan oksigen dalam proses penguraian bakteri.

“Disebut komunal karena bisa dipakai secara bersama, tiga hingga empat kepala keluarga,” jelasnya.

Meylis menerangkan, tangki septik mini komunal ini harus tertutup rapat agar pada media biofilter dapat tumbuh bakteri pengurai buangan air limbah. Proses filterisasi dapat bekerja maksimal karena menggunakan media biofilter.

“Karena media biofilter berjenis sarang tawon harganya mahal, tim pengabdian UTU memperkenalkan biofilter buatan dari botol plastik bekas sebagai pengganti biofilter sarang tawon,” ucapnya.

Sosialisasi yang dilakukan bersama mahasiswa itu, berlangsung di Aula TPA Kantor Keuchik Cotkuta, Ahad, 23 Agustus 2020 itu, juga diisi Enda Silvia Putri dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat UTU dan Konsultan ahli bidang limbah, Raja Doa.

Keuchik Gampong Cotkuta, Sulaiman TB menyampaikan terimakasih kepada tim pengabdian UTU karena telah memilih desanya sebagai lokasi kegiatan.

Ia berharap, kegiatan itu dapat memberikan wawasan dan perubahan bagi masyarakat di desanya.[]

 

 

EDITOR: RAHMAT TRISNAMAL

 

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *