Guru Tak Siap Jalankan Pembelajaran Masa Pendemi

oleh -193 views
Guru Tak Siap Jalankan Pembelajaran Masa Pendemi
Belajar Jarak Jauh. Foto: Pixabay

BASAJAN.NET, Meulaboh- Pembelajaran di masa pendemi Covid-19, menjadi tantangan besar bagi seorang guru. Di mana kualitas sumber daya dianggap tidak siap dalam mengaplikasikan sistem pembelajaran selama pandemi.

Hal itu sebagaimana disampaikan Instruktur Nasional Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kemenag RI, Bagus Mustakim saat mengisi materi Webinar Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh, beberapa waktu lalu.

Loading...

Parahnya lagi, kata Bagus, ketidaksiapan sumber daya guru beriringan dengan tidak ada pendampingan memadai dari pemerintah, sehingga guru kesulitan mendesain pendidikan secara utuh.

Menurutnya, ada tiga tantangan pendidikan masa pandemi Covid-19, yaitu tantangan pembelajaran abad ke-21, pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan PJJ mahal.

“Tiga kerangka ini menjadi tugas utama guru selaku pendidik, untuk mendesain pola pendidikan yang baik,” ujarnya.

Ia menerangkan, dalam kerangka pendidikan abad 21, pembelajaran menjadi hal yang wajib dan tidak bisa ditinggalkan. Hanya saja, persoalan terjadi pada administrasi guru.

“Permasalahan yang dihadapi di lapangan, rata-rata Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) belum mampu mensuplai guru-guru di abad 21,” tutur alumni program Short Course in Islamic Teaching Metodelogy, University of Oxford UK itu.

Sementara terkait tantangan pembelajaran jarak jauh, Bagus menuturkan, sebagian besar guru hanya membagikan video dan tugas secara online. Namun sering muncul persoalan, video tersebut tidak dapat diakses, sehingga proses pembelajaran pun terkendala.

Terkait hal tersebut, Bagus berpendapat, guru harus membangun pola pikir pembelajaran daring bukan sekedar membagikan video dan tugas. Namun tetap menggunakan model pendekatan pembelajaran abad ke 21, harus humanistik dengan mengedepankan 4C, yaitu communication, collaboration, critical dan creative.

Menurutnya, pembelajaran jarak jauh selama ini masih sangat jauh dari yang dipraktekkan. Sebagian besar guru hanya memahami pembelajaran jarak jauh, sebagai pembelajaran daring/online.

“Padahal pembelajaran ini ada tiga bentuk, selain daring yaitu luring dan blended learning, ” ujar Kandidat Doktor Studi Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.

Sedangkan persoalan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mahal, Bagus mengatakan, bukan karena faktor jarak jauh, tapi kemampuan guru mendesain pembelajaran dan cara mencari solusi saat permasalahan seperti saat ini.

Menurutnya, saat pembelajaran normal, wali murid juga mengeluarkan biaya seperti ongkos transportasi dan uang saku. Jika dihitung-hitung, tidak jauh berbeda dengan yang dibayar sebelumnya dan sekarang.

“Persoalan tidak memiliki HP, dapat diatasi dengan luring. Dalam hal ini kemandirian pendidikan sudah menerbitkan modul yang menjelaskan mengenai solusi dari persoalan sinyal dan tidak memiliki HP,” terangnya.

Bagus berharap, guru harus memiliki kepedulian, memberikan motivasi dan dedikasi pada pendidikan. Meningkatkan kompetensi sebagai pembekalan daring dan luring, serta harus profesional.

Hal senada juga disampaikan, Marc Turu Porcel, dosen Primary Education dan Phycology di Leeds Backeet University. Menurutnya, ada lima hal yang perlu diperhatikan guru saat mengajar, yaitu menghilangkan hambatan, penggunaan kurikulum yang baik dan efektif, memberikan dukungan kepada murid, kolaborasi dan komunikasi.

“Komunikasi antara pendidik dan murid sangat penting dilakukan, komunitas ini yang mempengaruhi kelancaran pembelajaran masa pandemi Covid-19 saat ini,” ujarnya.

Marc menyampaikan, guru dapat menggunakan sejumlah aplikasi digital dalam pembelajaran formal untuk berkomunikasi dan belajar dengan siswa. Aplikasi digital seperti Blackboard dan Ms TEAMS, dapat digunakan untuk berkomunikasi secara berkala, agar siswa tidak ketinggalan informasi.

Selain itu, lanjut Marc, aplikasi digital lainnya yang dapat digunakan untuk pembelajaran yang efektif adalah office 365, polleverywhere, mindmeister, flipgrid, socrative dan berbagai aplikasi lainnya. Untuk pembelajaran informal, dapat menggunakan media aplikasi seperti Twitter, Facebook, Podcasts, Youtube dan lainnya.

Ia mengatakan, pemilihan aplikasi digital harus didasarkan pada tujuan penggunaan, bukan karena banyak orang menggunakannya.

“Selalu utamakan tujuan, aplikasi digital adalah alat bantu untuk mencapai tujuan tersebut,” pesannya.

Website Seminar (Webinar) yang diadakan Jurusan Tarbiyah dan Keguruan bersama Tim Webinar STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, via aplikasi zoom itu, dipandu Nurul Hidayah. Diikuti seratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara.

Ketua Jurusan Tarbiyah dan Keguruan Herman mengatakan, Webinar bertemakan exstraorinary teaching dalam pembelajaran daring sangat tepat untuk dibahas di masa pandemi saat ini. Sehingga nantinya, lembaga maupun pelaku pendidikan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dengan metode yang efektif dan efesien.[]

 

 

WARTAWAN: MARIANI

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

 

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *