Cerita dari Gerbong Kereta

oleh -126 views
Cerita dari Gerbong Kereta
ILUSTRASI_BASAJAN

Oleh: Muhammad Noza*

BASAJAN.NET- Anja memasuki gerbong enam sembari mencari kursi tempat dimana ia akan mengabiskan 13 jam perjalanan menuju kota Surabaya. Saat memasuki stasiun Kiara Condong, Anja dengan semangat membawa kakinya melangkah jauh sejenak dari Kota Bandung.

E-22, E-22, E-22,” ujar Anja sembari menyusuri kursi kereta.

“Here We Go!” seru Anja sembari membenarkan ransel kecil yang ia bawa ke pangkuan.

Hari ini, Anja memutuskan untuk melakukan perjalanan kereta ke Surabaya. Setelah melewati minggu-minggu penuh tugas dan Ujian Akhir Semester (UAS), ia merasa perlu sedikit menyegarkan pikirannya. Perjalanan dengan kereta api, pikir Anja, adalah pilihan yang sempurna.

Pandangan matanya mengarah keluar jendela, di mana hamparan sawah hijau bergelombang seperti samudera tenang. Angin yang masuk dari celah jendela kecil memberi sensasi damai, menghapus sedikit kelelahan dalam dirinya. Namun, kedamaian itu terusik oleh suara riuh dari kursi di depannya.

##

Ayah dan Dongeng Stasiun

ILUSTRASI/BASAJAN.NET

Seorang ayah duduk di sana bersama tiga anaknya: dua remaja laki-laki dan seorang anak perempuan kecil usia 6 Tahun. Mereka terlihat antusias, terutama si kecil yang terus bertanya kepada ayahnya setiap kali kereta berhenti.

“Baba, ini stasiun apa?” tanya gadis kecil itu sambil menunjuk keluar.

“Ini Stasiun Sidareja,” jawab sang ayah penuh sabar.

“Lihat, ada bukit-bukit kecil di kejauhan. Orang bilang, tempat ini seperti lukisan.”

“Wah… Bagus, Baba. Naya Suka,” ujar gadis kecil itu yang ternyata bernama Naya

Anja tersenyum mendengar percakapan itu. Ia takjub melihat Sang Ayah yang dengan semangat menceritakan sejarah dan kisah unik di setiap stasiun yang mereka lewati. Seolah-olah, perjalanan ini adalah dongeng besar yang penuh warna.

##

Kenangan Masa Kecil di Aceh

ILUSTRASI/BASAJAN.NET

Mata Anja kembali menerawang, tetapi kali ini bukan melihat sawah, melainkan menelusuri lorong waktu ke masa kecilnya di Desa Pasie Lhok Aron.

Di desa itu, kereta api hanyalah cerita dari buku sekolah atau televisi. Anja kecil selalu merengek kepada Gantira, Abang semata wayangnya, “Abang, kapan kita bisa naik kereta api?”

Gantira hanya tertawa kecil. “Di sini mana ada kereta. Tapi, kalau Anja mau, Abang bisa jadi kereta”

Gantira lalu menyuapkan Anja makan, sambil menggerakkan sendoknya seperti kereta api yang berjalan di atas rel imajiner. “Tuut! Tuuut! Kereta menuju perut Anja, jangan sampai terlambat!”

“Kereta Abang nggak enak” keluh Anja sambil tertawa kecil, mempermainkan nasi di mulutnya.

Percakapan kecil itu terus terngiang hingga sekarang, membawa senyum tipis di wajah Anja. Saat ini, ia tengah berada di atas kereta api sungguhan, tetapi Gantira tak ada di sampingnya.

Saat kereta berhenti di Stasiun Kroya, Anja kembali mendengar percakapan kecil dari keluarga di depannya.

“Baba, kapan kita bisa naik kereta yang lebih panjang, yang bisa sampai luar negeri?” tanya Naya.

Sang ayah tertawa. “Kereta luar negeri? Itu sih kapal atau pesawat, Nay. Tapi kalau Naya rajin belajar, nanti Baba ajak jalan-jalan ke mana saja!”

Mendengar itu, Anja tak bisa menahan diri untuk ikut tersenyum. Sang ayah menyadari, lalu menoleh ke arah Anja.

“Perjalanan sendirian’?” tanyanya ramah.

“Iya, Pak,” jawab Anja.

“Mau ke Surabaya juga?”

“Iya, habis UAS mau refreshing sebentar”

“Oh, mahasiswa, ya? Dari mana?”

“Kuliah di UNPAD, Pak. Tapi asal dari Aceh.”

Percakapan kecil itu berlanjut sebentar sebelum kereta kembali bergerak. Anja merasa nyaman dalam momen itu, seolah keluarga kecil itu membawa kehangatan di tengah perjalanan panjangnya yang seorang diri.

Saat kereta melaju meninggalkan Stasiun Kroya, Anja menutup matanya sejenak. Kenangan tentang Gantira menyeruak dalam ingatannya.

Dulu, Gantira selalu menyuapi Anja kecil sambil bercanda, memegang sendok seperti kereta yang melaju di atas rel imajiner. “Tuut! Tuuut! Kereta menuju perut Anja, jangan sampai terlambat!” Suara tawa mereka masih jelas terngiang, seolah baru kemarin.

Namun kini, Gantira hanya ada dalam kenangan.

Kereta ini akhirnya nyata, Bang,” batin Anja.

Kereta terus melaju, membawa Anja menuju Surabaya.

Setiap derak rel terasa seperti mengiringi alunan rindu yang tak berujung. Meskipun Gantira tak lagi di sisinya, Anja tahu: tawa dan cinta mereka akan selalu hidup dalam dirinya, menjadi bagian dari perjalanan yang tak pernah selesai.(*)

===============================

* Penulis adalah Mentor Basajan Creative School (BCS), saat ini sedang menempuh Pendidikan Magister di Universitas Padjadjaran. Email:muhammadnozaabdullah@gmail.com, IG: jha_mohammad

=====================

EDITOR: MELLYAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.