Belajarlah dari Jepang

oleh -204 views
20170817 202559 640x360

PENULIS: ARISKI SEPTIAN

(Mahasiswa Program Studi Magister Administrasi Pendidikan, Universitas Syiah Kuala)

Loading...

 

BASAJAN.NET, Meulabo- Perang Dunia II yang pecah pada 1939, merupakan perang paling mematikan yang pernah terjadi sepanjang sejarah umat manusia.

Lebih dari 20 juta tentara dan 40 juta masyarakat sipil tewas. Ditambah yang tak tercatat, menggambarkan betapa dahsyatnya perang yang terjadi

Atomic bombings of Hiroshima and Nagasaki demikian sekutu mencatatkan sejarah kelam kehidupan umat manusia di dunia.

Hujan peluru, badai abu, ditambah serangan Nuklir yang menghujam dari langit Hiroshima dan Nagasaki berhasil meluluhlantakkan seisi kota. Jepang remuk dibuatnya. Sekutu berhasil menaklukkan Kekaisaran Jepang yang saat itu berada di Blok Poros bersama Jerman dan Italy.

Wabah penyakit, kelaparan, pembantaian yang melanda, memposisikan Jepang sebagai negara yang kalah dalam perang itu.

Jepang dibawah kepemimpinan Kaisar Hirohito menyerah tanpa syarat kepada sekutu enam hari setelahnya.

Hirohito sadar melawan dengan menggunakan senjata sudah tidak mungkin untuk dilakukan jepang yang sudah sedemikan rupa hancurnya.

Saat Jepang ingin kembali membangun peradaban bangsanya, saat jepang ingin bangkit dari kekalahan, Hirohito mengumpulkan pejabat, menteri, dan para tentara juga rakyatnya.

Dalam pertemuan tersebut beberapa pejebat negara melaporkan seberapa banyak kerusakan yang terjadi, seberapa kerugian yang diderit.

Pimpinan pasukanpun ikut mengabarkan jumlah tentara yang gugur akibat serangan bom yang mamatikan itu.

Tak ada tanggapan yang diberikan sang Kaisar, untuk mengomentari laporan orang orang kepercayaannya itu

Namun seketika Hirohito berdiri dengan wajahnya yang penuh kesedihan seraya bertanya kepada orang-orang yang hadir dalam pertemuan itu. Pertanyaan yang tak dibayangkan sebelumnya.

“Ada berapa Guru yang Hidup?” teriak Hirohito dengan kekhawatiran.

Tak ada yang menanggapi, para pejabat yang hadir pun terlihat heran dan kebingungan dengan pertanyaan itu.

Salah seorang jenderal terkejut, dan merasa keberatan atas pertanyaan sang Kaisar. Ia pun bertanya pada Hirohito.

“Mengapa justru guru yang Yang Mulia tanyakan,? dan bukan tentara?” Teriak sang jendral.

“Banyak sekali tentara kita yang meninggal di Laut Cina Selatan, di Borneo, Celebes, Papua, Burma, dan lain-lain. Mereka mati untuk membela Tanah Air dan Kaisar. Kenapa Guru yang Kaisar tanyakan?” Geram sang jenderal.

Hirohito yang memehami kegelisahan itu, seketika menjawab.

“Tuan-tuan, apabila hal lain tidak saya tanyakan, harap Tuan-tuan tak tersinggung,” tenang Hirohito.

“Saya mendengar jumlah laporan tentara kita yang gugur, hampir semua pabrik kita hancur, banyak ilmuan mati, dan sekarang bangsa ini lumpuh,” jelasnya.

“Kita harus membangun dari nol, dan hanya melalui guru kita dapat membangun kembali negeri ini. Kita akan benahi pendidikan melalui guru yang tersisa,” terang Hirohito.

“Kita akan bangkit, kita akan jadi bangsa yang terhormat di Bumi ini,” teriaknya.

Hirohito sadar betul apa yang terjadi pada bangsanya, sudah tak mungkin melakukan perlawanan dengan kemampuan yang sudah tak mumpuni.

Membangun bangsa hanya dapat dilakukan dengan membangun sumberdaya manusia, dan membangun manusia yang memiliki daya saing hanya dapat dilakukan lewat pendidikan.

Maka lihatlah Jepang saat ini.

Indonesia seharusnya belajar dari cara Jepang, 72 Tahun sudah kemerdekaan yang diraih dari perjuangan darah dan keringat para pendiri bangsa.

Lantas dimana kehormatan kita saat ini?

Perdebatan elit politik, perebutan kekuasaan, hancurnya generasi muda akibat narkoba, pergeseran budaya yang mem-barat, tawuran antar supporter sepakbola yang mengakibatkan kematian, krisis tata karma, dan sejumlah masalah pelik lain lebih membumi ketimbang kabar kemajuan peradaban.

Sudah saatnya pemimpin memutar kemudi untuk menuju perubahan Indonesia yang utuh. Sudah saatnya pemimpin bangsa membuka mata, bahwa membangun bangsa ini bukan dengan meningkatkan hutang negara di luar sana. Bukan dengan mendatangkan investor asing, bukan dengan membangun pabrik-pabrik raksasa. Bukan dengan membangun gedung-gedung tinggi, bukan dengan menggali tanah hingga perut bumi.

Dirgahayu Indonesia. Merdeka!

 

 

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

 

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *