Warga Beutong Ateuh Butuh Alat Pertanian untuk Bangkit

oleh -165 views
Warga Beutong Ateuh Butuh Alat Pertanian untuk Bangkit
Kondisi Beutong Ateuh Benggalang, Kabupaten Nagan Raya pasca bencana banjir dan longsor 26 November lalu. Foto direkam Jumat, 19 Desember 2025. (BASAJAN.NET/HARIS MUNAWAR).

BASAJAN.NET, Nagan Raya- Banjir bandang yang melanda Kecamatan Beutong Ateuh Benggalang, Kabupaten Nagan Raya, tidak hanya merusak rumah dan infrastruktur, tapi juga memaksa hampir seluruh warga mengungsi dan kehilangan sumber penghidupan.

Sekitar lima hektare lahan terdampak banjir, dengan dua desa, yaitu Babah Suak dan Kuta Teungoh menjadi wilayah yang paling parah dihantam.

Sekretaris Gampong Babah Suak, Rusliadi, pada Jumat, 19 Desember 2025, menjelaskan dari total 165 kepala keluarga, sebanyak 163 kepala keluarga terpaksa mengungsi ke tenda-tenda pengungsian.

Kondisi pengungsian pun jauh dari ideal. Beberapa tenda yang didirikan mengalami kebocoran, namun tetap digunakan karena keterbatasan pilihan tempat berlindung.

Sebagian warga lainnya, memilih bertahan di gubuk-gubuk pribadi yang biasa digunakan untuk bersawah, yang kini dialihfungsikan menjadi hunian sementara.

Di sejumlah titik pengungsian, bantuan berupa pakaian dari berbagai daerah terlihat menggunung. Sementara itu, obat-obatan yang didonasikan langsung dikumpulkan dan dikelola oleh tim Puskesmas kecamatan untuk kemudian didistribusikan sesuai kebutuhan.

“Bantuan yang datang dikumpulkan di rumah sekretaris desa dan kemudian dibagikan ke empat desa yang ada di kecamatan,” terang Rusliadi.

Ia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas bantuan yang terus berdatangan, baik dari masyarakat, kampus, organisasi, maupun pemerintah. Namun, Rusliadi menegaskan, untuk bertahan dan bangkit, warga Beutong Ateuh Benggala membutuhkan lebih dari sekadar bantuan konsumsi.

“Kami sangat terbantu, tapi saat ini kami juga membutuhkan alat-alat pertanian. Tidak mungkin hanya mengharapkan bantuan saja,” ujarnya.

Sebagian besar masyarakat Beutong Ateuh Benggala menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Banjir bandang tidak hanya menghanyutkan rumah, tetapi juga merusak lahan, fasilitas pertanian, serta seluruh peralatan kerja warga.

“Kami punya irigasi di desa sebelah, tapi rusak karena banjir. Di sini lahannya ada, tapi alat-alat habis semua disapu banjir. Cangkul saja tidak ada, jadi tidak bisa bekerja,” kisah Rusliadi.

Baca berita terkait: Kisah Anak-Anak di Reruntuhan Banjir Beutong Ateuh

Beutong Ateuh Benggalang, Kabupaten Nagan Raya pasca banjir bandang dan longsor pada November lalu. Foto direkam Jumat, 19 Desember 2025. (BASAJAN.NET/HARIS MUNAWAR).

.

Listrik dan Air Bersih Masih Jadi Persoalan

Selain kebutuhan pertanian, persoalan dasar di pengungsian juga masih menjadi tantangan. Untuk menjangkau seluruh area pengungsian, warga membutuhkan kabel dan pipa tambahan guna menyalurkan listrik dari genset serta air bersih ke posko-posko bencana.

“Kalau ada tenaga surya lebih bagus, supaya tidak perlu terus mencari minyak,” harapnya.

Aminah (50), salah satu warga terdampak banjir, mengaku bencana kali ini berada di luar perkiraan siapa pun. Menurutnya, banjir sebesar ini belum pernah ia alami sepanjang hidupnya.

Han tom ta rasa yang lage nyoe (tidak pernah kami rasakan yang seperti ini). Ini kali pertama banjir besar setelah berpuluh-puluh tahun, dan ini adalah banjir terbesar yang pernah terjadi,” tuturnya.[]

=============================

WARTAWAN: AUFA RIZA & NURUL FAHMI

EDITOR: MELLYAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.