Suka Cari Perbedaan Akar Konflik Masyarakat Aceh

oleh -1.129 views
PhotoPictureResizer 191128 232205799 crop 1156x619
Seminar Kebangsaan Penguatan Wawasan Kebangsaan Sebagai Landasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat Aceh dalam Bingkai NKRI. Diselenggarakan HMP SKI dan ADW di aula Fakulatas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Kamis 28 November 2019. (BASAJAN.NET/ISTIMEWA)

BASAJAN.NET, Banda Aceh- Mantan Ketua DPP Koniry Aceh, Sulaiman Badai mengatakan, konflik akan selalu terjadi di Aceh, jika masyarakat hanya melihat pada perbedaan dan kesalahan orang dan kelompok lain.

“Tanda sebuah negara belum maju, mereka masih mempersoalkan dan mempersalahkan sesama anak bangsa, terutama pada kesalahan-kesalahan masa lalu” ujarnya. 

Loading...

Dalam paparannya pada Seminar Kebangsaan Penguatan Wawasan Kebangsaan Sebagai Landasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat Aceh dalam Bingkai NKRI, Kamis 28 November 2019, Sulaiman Badai menyampaikan, selama rekonsiliasi belum terjadi pada sesama anak bangsa, sulit bagi negara untuk melakukan lompatan perubahan seperti yang dicita-citakan dalam konstitusi negara.

“Jadi, dibutuhkan kesadaran tentang keindonesian agar harapan menjadi negara maju dan sejahtera bisa diwujudkan,” ucapnya di forum seminar yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Prodi SKI Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry bekerjasama dengan Aceh Development Wacht (ADW), di Aula Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry. 

Menurut Sulaiman, penyebab terjadinya konflik karena masyarakat lebih banyak mencari perbedaan dalam kehidupan bernegara dan beragama. 

Selain Sulaiman Badai, seminar tersebut juga menghadirkan Hamid Sarong. Dalam paparannya menyebutkan, masyarakat banyak menghabiskan energi untuk berdebat pada persoalan-persoalan yang tidak prinsipil. 

“Masyarakat dipertentangkan tentang isu-isu lama yang menyebabkan terjadi silang pendapat dan perpecahan dalam masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, perbedaan yang ada dalam masyarakat adalah sunnatullah, karena dalam keragamanlah terletak keindahan dan kebahagiaan. Namun kenyataanya, banyak orang yang kurang pengetahuan mendominasi wacana ini, dan kemudian memprovokasi masyarakat.

Ia menilai, ceramah dan pengajian-pengajian saat ini lebih banyak diisi tentang kehebatan, kekuatan dan kekuasaan Islam di masa lalu. Sedikit materi-materi yang menyentuh isu-isu terkait dengan kepentingan masyarakat muslim. Seperti, bagaimana keluar dari kemiskinan, mewujudkan kesejahteraan dan lain-lain.

Sementara itu, nara sumber lainnya, Syarifuddin Abe menyatakan, pentingnya menumbuhkan dan mengembangkan keyakinan dan kecintaan kepada Indonesia agar muncul tanggung jawab, serta rasa memiliki terhadap negara. 

Menurutnya, kesadaran keindonesiaan merupakan pengetahuan dan pemahaman mendalam tentang Indonesia, baik secara historis maupun filosofis.

“Pengetahuan tersebut menumbuhkan keyakinan dan kecintaan akan indonesia sebagai wadah dalam mewujudkan cita-cita kehidupan dunia kita,” jelasnya. 

 

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

 

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *