Pertama Kali Seumapa Dikompetisikan di Ruang Publik

oleh -23 views
Juara Kompetisi dan Kreativitas Seumapa bersama Maestro Seumapa, Medya Hus, Ahad 15 Mei 2026. (BASAJAN.NET/HARIS MUNAWAR)
Juara Kompetisi dan Kreativitas Seumapa bersama Maestro Seumapa, Medya Hus, Ahad 15 Mei 2026. (BASAJAN.NET/HARIS MUNAWAR)

BASAJAN.NET– Meulaboh- Suasana berbeda tampak di KM Kupi Meulaboh, Ahad, 17 Mei 2026. Lantunan syair Seumapa bergema dari sudut warung kopi, menghadirkan nuansa budaya Aceh di tengah ruang publik yang dipadati pengunjung. Melalui Kompetisi dan Kreativitas Seumapa, generasi muda Aceh Barat menunjukkan kemampuan mereka merangkai narasi, pantun, dan pesan budaya dengan penuh percaya diri.

Kompetisi tersebut menjadi penutup rangkaian pelatihan Seumapa yang sebelumnya diikuti para pemuda selama dua hari. Peserta tampil membawakan tema yang beragam, mulai dari nilai kebersamaan, adat lamaran dan perkawinan hingga pelestarian budaya lokal.

Juara pertama diraih Faisal dengan tema Nilai Kebersamaan dan Meuseuraya. Posisi kedua diraih Putri lewat tema Nilai Kebersamaan dan Meuseuraya, sementara juara ketiga diraih Cut Anda Silvia Nanda dengan tema Pelestarian Budaya Lokal.

Maestro Seumapa, Medya Hus menilai, kegiatan sederhana seperti itu memiliki makna besar bagi pelestarian budaya Aceh. Menurutnya, ruang publik seperti warung kopi dapat menjadi media edukasi budaya yang efektif bagi masyarakat.

“Bukan hanya seni tradisi Seumapa, tetapi seni-seni lain yang hadir di ruang publik seperti ini perlu ditingkatkan dan disosialisasikan. Dengan adanya masyarakat yang melihat, itu bisa menjadi inspirasi. Ini menjadi edukasi dan pelajaran singkat di ruang publik,” ujarnya.

Ia berharap pemuda, pemerintah daerah, serta komunitas seni budaya terus menjaga tradisi Seumapa sebagai identitas masyarakat Aceh, khususnya di Meulaboh.

Juara pertama kompetisi, Faisal, mengaku kegiatan tersebut memberinya pengalaman baru dalam memahami seni Seumapa. Ia menilai pelatihan seperti itu penting untuk melatih generasi muda agar mampu meneruskan tradisi budaya Aceh.

“Kegiatan ini sangat bagus untuk melestarikan budaya Aceh, khususnya Seumapa,” katanya.

Faisal berharap pelatihan Seumapa ke depan dapat dilaksanakan lebih lama agar peserta yang masih pemula memperoleh pendalaman materi yang lebih maksimal.

Hal serupa disampaikan peserta pelatihan, Cut Mulyani. Ia mengaku sebelumnya tidak memahami Seumapa sebagai tradisi budaya Aceh. Namun setelah mengikuti pelatihan selama dua hari, ia mulai memahami cara menyusun narasi hingga tampil membawakan Seumapa di depan umum.

“Dari sebelumnya saya tidak bisa mengarang dan tampil Seumapa, dengan kegiatan ini saya dapat menuangkan ide dalam Seumapa dan tampil dengan percaya diri,” ujarnya.

Menurutnya, pelatihan tersebut menjadi ruang belajar penting bagi generasi muda agar lebih mengenal budaya daerah sendiri. Ia menilai tanpa kegiatan seperti itu, banyak anak muda yang tidak lagi mengenal seni Seumapa yang kini mulai jarang ditemui.

Ia berharap pelatihan serupa terus dikembangkan dengan waktu belajar yang lebih panjang agar peserta dapat memahami lebih dalam nilai budaya dan tradisi Aceh.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.