Kala Dua Sastrawan Perempuan Melayu Bertemu 

oleh -452 views
Siti Zainon Ismail sastrawan Melayu asal Malaysia (berdiri) dan D' Kemalawati sastrawan Aceh (jilbab merah) pada temu Puisi Nusantara dan Budayawan Aceh, di Universitas Teuku Umar (UTU), Kamis 14 November 2019. (BASAJAN.NET/ISTIMEWA).

BASAJAN.NET, Meulaboh- Temu Puisi Nusantara dan Budayawan Aceh, yang digelar Universitas Teuku Umar (UTU), mempertemukan dua sastrawan perempuan Melayu. Mereka adalah Siti Zainon Ismail dari Malaysia dan D’ Kemalawati asal Aceh. Penampilan keduanya memukau seluruh undangan yang memenuhi aula UTU, Kamis 14 November 2019.

Hari itu, Siti Zainon memaparkan tentang Keindahan Budaya Warisan Melayu Nusantara. Ia merupakan sosok budayawan perempuan yang akrab dengan Aceh. Bait-bait puisinya dengan lanskap Aceh, telah ditulis sejak tahun 80-an.

Loading...

Karena itu pula, Zainon pernah dinobatkan sebagai Teungku Fakinah oleh Prof Ali Hasyimi. Sebuah penghargaan yang pernah diberikan Aceh kepada warga negara tetangga.

Penyair melayu segudang prestasi ini, sangat mengharapkan budaya melayu tetap terjaga dan terwariskan dengan baik kepada generasi yang akan datang. Baginya, Aceh adalah rumah kedua setelah Malaysia.

“Peliharalah budaya melayu nusantara sebagai pewaris bagi anak cucu kita di masa mendatang,” ujarnya penuh harap.

Sementara itu, D Kemalawati mengatakan, rekontruksi kearifan Aceh dalam puisi-puisi Siti Zainon Ismail memiliki narasi yang begitu kuat. Puisi-puisi Zainon yang ditulis tahun 1986, terkandung nilai filosofi yang mendalam.

Budayawan dan sastrawan perempuan Aceh yang akrab disapa Deknong itu, terkagum-kagum dengan karya Siti Zainon yang dianggapnya melampaui pemikiran banyak orang. Bait perbait dikupasnya, serta dikaitkan dengan sejarah Aceh masa lalu dan kenyataan pada masa sekarang. 

Menurut penerima Anugerah Budaya bergelar Syah Alam tahun 2018 ini, Siti Zainon mampu menggabungkan emapt indra dalam satu puisi pendek. 

“Bahkan indra keenam digunakan dalam puisi bertemakan Jambo-jambo Garam yang dilukiskannya akan hilang ditelan perkembangan zaman,” ujar Deknong.

Namun faktanya, lanjut Deknong, jambo-jambo garam yang berjejer di Pantai Lhok Nga itu hilang sirna ditelan Tsunami pada tahun 2004 silam, jauh setelah puisi Zainon dendangkan. 

Deknong menyadari betul, puisi-puisi Siti Zainon yang ditulis pada era 80-an yang dimuat dalam Antologi Seulawah sangat dahsyat. Siti Zainon mampu melukis alam, budaya dan semua yang dirasakan dalam sebuah untaian puisi yang sangat puitis dan sangat nikmat ketika dibaca berulang-ulang.

“Puisi-puisi Siti Zainon itu, ternyata ketika kini baca berulang-ulang sangat indah dan dalam maknanya,” sambung penulis puisi Islam terbaik ASEAN ini.

Dua penyair yang sangat populis itu, ketika membawa makalah di moderatori oleh seorang penyair senior Aceh Rosni Idham. Mereka bertiga tampil dominan dan memukau Rektor dan Warek UTU, Kadis Pendidikan Aceh, Rachmad Fitri HD, civitas akademi UTU dan undangan yang hadir.[]

 

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

 

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *