Moderasi Beragama Bukan Hanya untuk Umat Islam

oleh -257 views
Moderasi Beragama Bukan Hanya untuk Umat Islam
FOTO: REZA IDRIA/BIDIKAN LAYAR ZOOM.

BASAJAN.NET, Meulaboh- Antropolog sekaligus dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Reza Idria mengatakan, moderasi beragama yang dipromosikan pemerintah saat ini merupakan satu konsep tidak hanya ditujukan bagi umat Islam saja, namun untuk semua pemeluk agama.

“Jika hari ini, berbicara mengenai moderasi beragama seakan ditujukan bagi Islam dan muslim, sebenarnya konsepnya sendiri berasal dari Barat,” ujar Reza.

Loading...

Hal itu disampaikan Reza pada Webinar Moderasi Beragama dan Tantangan di Era Disrupsi yang dilaksanakan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh, Senin, 21 September 2020.

Webinar ini menghadirkan tiga pemateri sekaligus, yaitu Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Amany Lubis, Antropolog sekaligus dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Reza Idria dan Ketua STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Inayatillah.

Berita terkait: STAIN Meulaboh Bentuk Seuramoe Moderasi Beragama

Dalam materinya tentang Moderasi Beragama dalam Konteks Aceh, Reza memaparkan, sebagai sebuah konsep, jika merujuk kepada ilmu sosial, berbanding lurus dengan peradaban Barat. Bahkan jika ditelisik lebih jauh, sangat berkaitan dengan orang Barat menilai peradabannya dan problem-problemnya sendiri.

Meski begitu, kata Reza, dalam Islam sendiri para ilmuwan sangat sering menyerukan kembali konsep wasathiyah. Konsep ummatan wasathan, umat yang berada di tengah.

“Namun tengah yang seperti apa? ini menjadi suatu kajian dan proyek kita bersama,” katanya.

Reza berpendapat, adagium yang mengatakan Aceh adalah Islam akan menjadi modal bagi orang Aceh. Dalam artian, dengan menjadi Aceh, maka menjadi muslim toleran, menawarkan konsep harmonis, tawazun (seimbang) dan tabayun dalam mendengarkan berita.

“Konsep itu sudah ada dalam Islam, namun tugas kita ke depan, bagaimana membahasakan dengan bahasa yang lebih dekat dengan bahasa kita sehari-hari,” terangnya.

Menurutnya, ketika berbicara moderasi beragama di Aceh, tidak bisa dilepaskan dari stereotype yang berkembang di Indonesia dalam cara melihat Aceh dan informasi yang dikembangkan secara global di media nasional dan internasional. Di mana Aceh, diproyeksikan sebagai daerah yang fanatik dan radikal.

Hal itu, kata Reza, bukan sesuatu yang baru jika dikaitkan dengan peradaban Barat. Ketika mereka bertemu dengan Aceh (di masa lalu-red), yang tidak mau tunduk dan memberikan perlawanan.

“Sehingga mereka melabelkan orang Aceh itu sebagai fanatik dan radikal, sebagaimana terdapat di dalam catatan kolonial yang dapat kita akses hingga hari ini,” terangnya.

Reza menambahkan, ketika berbicara wasathiyah, maka akan ada penengah yang memiliki kewenangan menjadi pengadil, menjadi orang yang menegakkan hukum.

Menurutnya, Aceh memiiki banyak aturan, mulai dari surat edaran hingga qanun, namun aturan-aturan tersebut tidak ditegakkan.  Padahal semestinya negara berperan sebagai penegak hukum.

Sementara itu, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Amany Lubis mengatakan, moderasi beragama tidak hanya milik Kementerian Agama, namun telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), yang mengharuskan prinsip moderasi beragama dijalankan oleh semua pihak.

Amany menjelaskan, moderasi beragama yang sudah diadopsi oleh pemerintah bukan moderasi agama. Menurutnya, moderasi agama, di tengah-tengah saja, mencampur adukkan agama dan budaya.

“Bukan seperti itu, ini moderasi beragama. Kehidupan keberagamaan masyarakat Indonesia bukan hanya agama Islam. Islam punya prinsip wasathiyatul, dengan cara-cara yang terbuka, keadilan, toleransi dan rahmatan lil’alamin,” papar Amany dalam materinya, Moderasi Beragama Antitesis Radikalisme.

Webinar yang diselenggarakan P3M Bersama Unit Pelaksana Teknis Teknologi, Informasi dan Pangkalan Data (UPT-TIPD) STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh melalui aplikasi zoom itu, diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan di Indonesia.

Kegiatan itu sekaligus menandai terbentuknya Seuramoe Moderasi Beragama di STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, yang diresmikan secara virtual oleh Menteri Agama RI, Fachrul Razi.

Fachrul Razi berharap, di usianya yang keenam, STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh mampu memantapkan diri, meneguhkan komitmen dan kiprahnya sebagai pendidikan tinggi yang menguatkan semangat keilmuan.

“Dalam keislaman, kebangsaan dan kemasyarakatan, khususnya dalam gerakan moderasi,” pesannya.[]

 

 

WARTAWAN: MELLYAN

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

 

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *