BASAJAN.NET, Sabang — Sabang selama ini dikenal lewat pantai, pegunungan, serta panorama matahari terbit dan terbenam. Namun, di balik pesona baharinya, kota paling barat Indonesia itu masih mencari identitas budaya yang benar-benar khas.
Penelusuran lapangan pada 23–25 Agustus 2026, yang dilakukan Tim peneliti Research Mora Air, menemukan sejumlah potensi yang bisa memperkuat identitas tersebut. Mereka memetakan Kekayaan Intelektual Lokal (KIL), warisan sejarah, pelaku seni, motif, hingga kerajinan yang memiliki karakter Sabang.
Penelusuran dimulai dari Pelabuhan Balohan. Di sana, peneliti menemukan sejumlah bangunan dan aktivitas budaya. Salah satunya rumah tradisional peninggalan kolonial Belanda yang kini menjadi warung De Sagoe Platinum Kuphie.
Bangunan itu menyimpan nilai sejarah. Namun, peneliti masih perlu menelusuri lebih jauh kaitannya dengan identitas khas Sabang.
Potensi lain muncul di kawasan waduk. Sebuah rumah yang dibangun pada 1975, memiliki ornamen buatan tangan, termasuk gambar kuda terbang yang menyerupai Buraq. Pemilik rumah menilai, ornamen tersebut layak dikaji sebagai potensi KIL.
Meski begitu, asal-usulnya masih perlu ditelusuri. Pembuat ornamen disebut berasal dari Meureudu, Pidie, yang kini masuk wilayah Pidie Jaya.

Seni, Kerajinan, dan Motif Lokal Jadi Penanda Identitas
Para peneliti juga menemui Surya Fitriadi, pelukis dekoratif abstrak yang menekuni seni sejak sekolah dasar. Banyak karyanya terinspirasi biota laut. Karakter itu dinilai selaras dengan identitas maritim Sabang.
Potensi budaya juga terlihat dari kerajinan. Kudus Nazardi, maestro kerajinan, mengolah bahan kelapa menjadi berbagai produk bernilai estetika. Inovasinya bahkan telah memperoleh perlindungan paten pada 2022.
Sementara itu, motif Bungong U mulai digunakan pengrajin lokal. Yuliastuti mengaplikasikannya pada rok, selendang, jilbab, dan berbagai produk bordir. Pemanfaatan motif lokal tersebut membuka peluang pengembangan produk kreatif, sekaligus memperkuat ciri budaya Sabang.
Di tengah potensi itu, sejumlah warisan sejarah justru terancam rusak. Salah satunya bangunan yang pernah digunakan Belanda sebagai lokasi karantina jemaah haji. Pada masa Jepang, bangunan tersebut kemudian menjadi rumah sakit jiwa.
Kini kondisinya memprihatinkan. Bagian atap mengalami kerusakan yang dapat mempercepat pelapukan bangunan.
Ketua tim peneliti, Inayatillah mengatakan, Sabang memiliki modal budaya yang cukup beragam. Modal itu mencakup pelaku seni, kerajinan, motif, bangunan bersejarah, serta sumber daya manusia yang masih dapat dikembangkan.
Menurut dia, potensi tersebut perlu diinventarisasi dan didokumentasikan. Selanjutnya, pemerintah dan masyarakat dapat melindunginya melalui kekayaan intelektual serta mengembangkannya lewat inovasi dan hilirisasi.
“Upaya itu tidak hanya penting untuk pelestarian. Identitas budaya yang kuat, juga dapat memperkaya pariwisata dan membuka peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat,” ujarnya.
Karena itu, lanjut Inayatillah, identitas Sabang tidak harus muncul dalam satu simbol atau produk yang langsung ditetapkan sebagai ikon kota. Prosesnya membutuhkan riset, dokumentasi, kajian sejarah, perlindungan kekayaan intelektual, pengembangan produk, dan penguatan pelaku budaya secara berkelanjutan.
Ia menambahkan, hasil penelusuran lapangan tersebut selanjutnya menjadi bahan pemetaan potensi KIL Kota Sabang. Dari sana, potensi lokal diharapkan dapat berkembang menjadi kekuatan baru untuk melestarikan budaya, mempertegas identitas kota, sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif.[]
================================
EDITOR: JUNAIDI MULIENG





