Big Data Satu Keharusan Kajian Peradaban Islam

oleh -1.062 views
PhotoPictureResizer 191204 201856017 crop 3020x1612 1208x645
Seminar Internasional Islam, Modernitas dan Peradaban, di aula lantai III Gedung Rektorat UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu 4 Desember 2019. (BASAJAN.NET/ISTIMEWA)

BASAJAN.NET, Banda Aceh- Menghadapi era revolusi industri 4.0, big data atau mahadata menjadi satu keharusan untuk pengkajian peradaban dan budaya Islam. “Mahadata menjadi rujukan utama dalam bidang Pengkajian alam Melayu di peringkat global,” ujar Sufyan Hussin, Rabu 4 Desember 2019.

Menurut Guru Besar Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA), Universiti Kebangsaan Malaysia tersebut, mahadata tidak hanya menjadi aset bagi ATMA sebagai pusat penelitian dan pengkajian alam Melayu tertua di Malaysia, tapi juga menjadi khazanah terbesar di Nusantara.

Loading...

“Kehadiran teknologi bisa menjadi rahmat bagi seluruh manusia dan isi alam ini. Namun bisa juga menjadi bala, kalau salah digunakan,” kata Sufyan di hadapan ratusan peserta Seminar Internasional Islam, Modernitas dan Peradaban, di aula lantai III Gedung Rektorat UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Seminar tersebut merupakan hasil kolaborasi Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh bersama Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA), Universiti Kebangsaan Malaysia. Selain Sufyan Hussin, juga hadir sebagai pemateri dari ATMA, seperti Mohd Syukri Yeoh bin Abdullah dan Amani Ali Elmetwaly Ali Ibrahim. Dari UIN Ar-Raniry, Misri A Muchsin dan Nurdin AR.

Mohd Syukri Yeoh yang membahas tentang pengalaman sejarah ilmu tarekat rohani alam Melayu, mengajak para peneliti dan mahasiswa UIN Ar-Raniry untuk menjadikan manuskrip sebagai sumber primer dan jati diri.

“Hasil kajian orientalis sebagai studi perbandingan,” ujarnya.

Sementara itu, ketua pelaksana seminar, Abdul Manan mengatakan, seminar internasional tersebut merupakan realisasi kerjasama antara Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA), Universiti Kebangsaan Malaysia dan UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Abdul Manan menjelaskan, kegiatan itu sekaligus menjadi tempat bagi para akademisi Aceh dan Malaysia untuk mempresentasikan penelitiannya. Bertukar informasi dan memperdalam masalah penelitian, serta mengembangkan kerjasama berkelanjutan.[]

 

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

 

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *