BASAJAN.NET, Lhoksukon- Hujan yang tak kunjung jeda sejak akhir November mengubah hamparan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi ladang duka. Air bah dan longsor pada 26 November 2025 menyeret rumah, sawah, dan apa pun yang berdiri di jalurnya. Di sejumlah titik, tanah belum kering, bau lumpur dan kematian masih mengambang di udara.
Di tengah kelaparan, kehilangan, dan kecemasan, warga memilih bergotong royong menunaikan tugas terakhir bagi mereka yang tak sempat menyelamatkan diri. Di pinggir sungai, di pematang sawah, dan di sela rerimbunan bambu, satu per satu jasad ditemukan dalam keadaan memprihatinkan. Banyak yang telah membengkak, sebagian mulai melebur dengan lumpur.
Tak ada kantong jenazah. Hanya bermodal kain sarung yang disulap menjadi tandu darurat. Ujung sarung diikatkan pada sebatang kayu, lalu dua hingga tiga orang memikulnya seperti menggotong ayunan anak-anak. Di beberapa desa, pemandangan itu terjadi saban jam. Relawan dadakan itu bergerak senyap di antara genangan air dan puing-puing rumah.
Mayat Mulai Bengkak dan Busuk
Hingga Minggu, 7 Desember 2025, lebih dari seratus jenazah ditemukan di Kecamatan Jambo Aye, Langkahan, dan Sawang. Tiga kecamatan di Kabupaten Aceh Utara ini menjadi wilayah dengan dampak bencana terparah. Sebagian desa hilang terseret arus, sebagian tertelan lumpur hingga tak menyisakan jejak selain serpihan atap dan gelondongan kayu.
“Itu jumlah sementara. Masih ada yang tertimbun dan belum ditemukan,” ujar Isa yang ikut membantu warga di Gampong Buket Mesjid, Kecamatan Jambo Aye.
Ia menggambarkan kondisi jenazah yang kian rusak oleh waktu. “Bengkak dan membusuk. Diangkut pakai kain sarung yang dikait di kayu seperti mainan ayunan anak-anak,” sambungnya.
Isa menuturkan, saat ini yang paling mendesak bagi warga di sana kantong jenazah, makanan, obat-obatan, pakaian dan air bersih.
“Kalau bisa lampu portable yang hidup tanpa listrik. Kalau malam gelap gulita, seperti desa zombi dalam lumpur,” tambahnya.
Posisi desa tersebut berada di perbatasan Langkahan dan Jambo Aye. Sebagian bantuan mulai berdatangan, namun tak merata karena jalan hancur tersapu longsor.
“Sudah ada relawan yang membawa bantuan. Tapi mereka juga sama-sama bergumul dalam lumpur, sama-sama menahan lapar,” kata Mansur, warga lainnya.
Pada Selasa, 8 Desember 2025, kabar serupa datang dari Desa Riseh, Sawang. Yusra, seorang relawan menyampaikan, evakuasi jenazah di sana pun menggunakan sarung yang disangkutkan pada kayu.
Dari Jakarta, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis perkembangan terbaru. Pada konferensi pers Senin, 8 Desember 2025 pukul 16.00 WIB, tercatat 961 orang meninggal dunia dan 293 orang masih dinyatakan hilang di tiga provinsi itu.[]
=====================
LAPORAN WARGA: TAHARA
EDITOR: MELLYAN






