BASAJAN.NET, Jakarta- Pagi Ahad di kawasan Car Free Day Jakarta biasanya dipenuhi warga yang berolahraga santai. Namun pada 4 Januari 2026, suasana di sekitar Tugu Sepeda Sudirman terasa berbeda.
Puluhan orang berkumpul bukan hanya untuk bersepeda, melainkan membawa pesan solidaritas dari jantung ibu kota menuju wilayah Sumatra yang tengah dilanda bencana.
Aksi bertajuk First Sunday Bike itu menjadi bagian dari gerakan kolektif Solidaritas CSO Bersama Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Sebuah inisiatif yang digagas jejaring 20 organisasi masyarakat sipil (CSO).
Gerakan ini lahir sebagai respons atas banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Sekaligus sebagai pengingat, jika krisis iklim adalah sesuatu yang nyata, bukan hanya ancaman masa depan.
Lanskap Sumatra Tentukan Nasib Kota
Di balik bencana yang terus berulang, lanskap Sumatera menyimpan peran ekologis yang sangat krusial.
Pulau ini menjadi rumah bagi jutaan manusia dan habitat satwa kunci Indonesia, seperti harimau, gajah, badak, hingga orangutan.
Ketika hutan rusak dan keanekaragaman hayati tergerus, keseimbangan iklim ikut terganggu. Dampaknya terasa nyata dengan meningkatnya bencana hidrometeorologi.
Kesadaran akan keterkaitan itulah yang mendorong jejaring CSO menggabungkan aksi kemanusiaan dengan kampanye perlindungan ekosistem.
Mereka menegaskan, menjaga hutan dan satwa liar Sumatra bukan hanya perkara konservasi, melainkan upaya melindungi masa depan Indonesia dari krisis iklim yang kian memburuk.
Koordinator Kegiatan Solidaritas CSO, Roni Wang, menilai perubahan perilaku masyarakat, terutama di kawasan urban, memegang peran penting dalam menghadapi situasi ini.
“Perubahan iklim yang semakin nyata mendorong kita untuk kembali pada langkah-langkah hidup yang sederhana, namun berdampak besar,” ujar Roni.
Ia mengajak masyarakat untuk berjalan kaki, bersepeda, menggunakan transportasi publik, serta mengelola sampah secara bijak tanpa membakarnya.
Menurutnya, pilihan-pilihan sederhana itu merupakan bagian dari tanggung jawab kolektif untuk menekan emisi karbon dan mengurangi risiko bencana di masa depan. Pesan tersebut diterjemahkan secara konkret melalui First Sunday Bike.
Para peserta bersepeda dan berjalan kaki mengitari Bundaran HI, menyatukan isu lingkungan perkotaan dengan solidaritas kemanusiaan. Aksi ini menjadi simbol, apa yang terjadi di pedalaman Sumatra memiliki kaitan langsung dengan kehidupan masyarakat kota.
Dari Aksi Simbolik ke Kebutuhan Nyata di Lapangan
Sementara itu, kondisi di wilayah terdampak bencana masih jauh dari pulih. Monalisa, perwakilan Jaringan Masyarakat Gambut Aceh (JMGA), memaparkan hasil asesmen terbaru di Aceh Utara.
“Kondisi di lapangan saat ini menunjukkan urgensi yang sangat tinggi. Kebutuhan mendesak seperti air bersih, sanitasi, serta logistik bagi bayi dan lansia harus segera terpenuhi,” ujarnya.
Ia menambahkan, donasi yang dihimpun melalui jejaring CSO tidak hanya ditujukan untuk kebutuhan darurat, tetapi juga pemulihan jangka panjang.
Bantuan akan disalurkan untuk mendukung pendidikan melalui penyediaan buku dan alat tulis. Selain itu, juga untuk pemulihan ekonomi warga lewat pengadaan alat pertanian dan perlengkapan memasak.
Melalui integrasi aksi kemanusiaan dan kampanye ekologis ini, jejaring CSO menegaskan satu pesan penting, yakni pemulihan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga ruang hidup bersama.
Solidaritas publik bukan semata tentang bantuan material. Tapi tentang komitmen kolektif menjaga alam agar kehidupan yang layak dan berkelanjutan, tetap terjaga bagi manusia maupun seluruh makhluk hidup.
Masyarakat yang ingin berpartisipasi, dapat menyalurkan donasi melalui Yayasan Regeneratif Alam Nusantara (Bank BCA 0954 702 665).
Aksi solidaritas ini melibatkan 19 lembaga yang tergabung dalam jejaring CSO, yang bersama-sama mengajak publik untuk mengambil peran dalam pemulihan masyarakat terdampak bencana dan keberlanjutan lanskap Sumatra.[] =======================
EDITOR: JUNAIDI MULIENG








