Pornografi Picu Tindak Kekerasan Terhadap Anak

oleh -996 views
PhotoPictureResizer 191208 161254384 crop 1280x650
Diskusi cyber bullying Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Kamis 6 Desember 2019, di ruang perpustakaan setempat. (BASAJAN.NET/ISTIMEWA)

BASAJAN.NET, Meulaboh- Kekerasan pada anak di Aceh tiap tahunnya terus meningkat. Pornografi menjadi salah satu penyebabnya. “Kecanduan anak-anak yang menonton pornografi melebihi kecanduan narkoba,” ujar Ketua STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh Inayatillah.

Ia mencontohkan, kasus yang terjadi tahun 2018, dimana 50 anak menjadi korban sodomi yang dilakukan seorang PNS.

Loading...

“Pemicunya karena menonton video porno,” terang Inayatillah di hadapan 30 mahasiswa dan dosen peserta diskusi.

Pada diskusi kekerasan di dunia maya (cyber bullying), Kamis, 6 Desember 2019 di ruang perpustakaan kampus setempat, Inayatillah menjelaskan, 70 persen korban tindak kekerasan seksual, sangat berpeluang menjadi pelaku kekerasan di masa depan.

Menurutnya, hal tersebut menjadi tantangan dan harus ada upaya untuk mencegah bersama. Terlebih ke depan, akan muncul ancaman kekerasan baru dari media sosial.

Inayatillah menjelaskan, kategori perundungan atau kekerasan bullying tidak hanya memukul. Perkataan tidak menyenangkan dan membuat seseorang tersinggung, juga termasuk pembulian yang imbas besar pada diri korban.

Ia mengatakan, pembulian sangat lazim ditemukan dalam keseharian kita. Dalam keluarga misalnya, orang tua juga harus memperhatikan setiap perkataan yang diucapkan, karena akan mempengaruhi psikologis anak. 

Menurutnya, perkataan itu merupakan perundungan yang lebih parah dari pukulan. Kata-kata secara perlahan akan merusak mental,” paparnya.

“Bahkan kasus bully ini, baik di dunia nyata atau pun maya, sering berakhir pada tindakan bunuh diri,” ujar Inayatillah.

 

Diskusi Perdana PSGA

Diskusi yang pertama kali diadakan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh tersebut, mendapat sambutan positif dari civitas akademik. Beberapa kali, mahasiswa memberikan argumentasinya terhadap kasus pembulian dari pengalaman mereka. 

Ketua Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Mellyan, Ahad 8 Desember 2019 mengatakan, diskusi terkait isu-isu perempuan dan anak akan diadakan setiap bulan. 

Ia menyampaikan, kondisi dunia maya kini sangat rentan, khususnya bagi generasi muda. Untuk itu, membangun mental yang kuat dan berhati-hati mengeluarkan statemen, dapat mencegah generasi muda mengalami kasus kekerasan di dunia maya. 

Menurut filosofi dunia kesehatan, terdapat tiga jenis mental. Pertama mental bola kristal, yang sangat sensitif dan jika dibanting akan pecah. Ini mental yang sangat lemah. Filosofinya, mental orang yang sering dibully dan tidak bisa menahan bullyan tersebut, banyak yang berakhir menyedihkan. 

Kedua mental bola besi. Sifatnya yang keras,  maka akan menghancurkan benda lain. Di saat bersamaan, ia melukai dirinya sendiri. Begitu juga jika seseorang yang sering membully orang lain, itu akan lebih merugikan diri sendiri. 

Ketiga mental bola karet, jika dilempar, maka ia akan memantul lagi ke atas. Hal tersebut ibarat mental yang kuat, bahkan ketika ia jatuh pasti mampu bangkit kembali.

“Semoga generasi muda kita memiliki mental yang kuat, seperti filosofi bola karet. Semakin ditekan ia akan melambung lebih tinggi. Tunjukkan dengan prestasi, akhlak dan etika yang baik,” urai Mellyan.

Peserta diskusi, Wahyu Khairul mengatakan, bullying memang kerap kali ditemukan di lingkungan sehari-hari, apalagi di media sosial. 

Ia mengaku, diskusi tersebut membuka wawasannya tentang kasus bully yang terjadi.[]

 

WARTAWAN: MARIANI

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

 

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *