Lima Tren Islam Indonesia 2020

oleh -108 views
flayer webinar

BASAJAN.NET, Meulaboh- Dosen Universitas Muhammadiyah Malang, Pradana Boy ZTF menyampaikan, setidaknya ada lima tren keberislaman di Indonesia saat ini. Tren tersebut akan berlaku hingga lima tahun ke depan.

Hal itu disampaikan Pradana Boy, saat menjadi pemateri pada website seminar (Webinar) “Tren Islam Indonesia 2020,” Kamis, 25 Juni 2020.

Loading...

Webinar sesi dua yang diadakan Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M), bersama Unit Pelaksana Teknis Teknologi, Informasi dan Pangkalan Data (UPT-TIPD) STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh itu, dipandu Benni Erick, diikuti 123 peserta.

Adapun lima tren keberislaman yang dimaksud Pradana, pertama, Islam Post Sekulerisme, yang mengasumsikan masyarakat mulai kembali pada nilai-nilai Islam dan meninggalkan sekulerisme yang pernah eksis, khususnya di Barat.

Kedua, Islam Hybrid, yaitu mereka yang berislam dengan mengambil dimensi budaya lain tanpa beban.

Ketiga, Islam Internet, mereka yang memanfaatkan fasilitas internet untuk belajar ilmu agama. Tren ini menurut Pradana sangat beresiko, karena mereka berbicara konteks agama tanpa sosok seorang guru.

“Sehingga lebih beresiko memunculkan perdebatan tanpa solusi, selain juga muncul persoalan etika dan sopan santun,” terang Asisten Staf Khusus Presiden Republik Indonesia bidang Keagamaan Internasional itu.

Pradana mengatakan, predikasi Tom Nichol dalam bukunya The Death of Expertise atau runtuhnya kepakaran menjadi kenyataan. Hal ini dikarenakan di zaman internet, tak ada lagi otoritas yang mengendalikan pengetahuan.

“Sekarang kita melihat, bagaimana terputusnya transmisi keilmuan. Selain informasi yang diterima tidak terbendung dan tanpa verfikasi benar atau salah,” sambungnya.

Tren keempat Salafisme, yaitu kelompok yang mengembalikan segala hujjah kepada Alquran dan Sunnah. Kelima adalah Islam Populis, upaya menggalang suara umat Islam yang selama ini merasa terpinggirkan.

Menyikapi munculnya beragam interpretasi, menurut Pradana hal tersebut tidak menjadi persoalan besar, sepanjang tidak mempermasalahkan tentang akidah dan ibadah. Tidak menyalahkan kelompok lain dengan memutlakkan kelompoknya sendiri.

“Jangan mengklaim kelompok sendiri dan menghakimi kelompk lain di luar mereka. Berbeda itu biasa, yang tidak biasa adalah ketika perbedaan itu digunakan untuk legitimasi perpecahan,” pesannya.

Menurut Pradana, semua orang adalah murid di hadapan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, diperlukan kelapangan hati untuk mengkaji dan membuka diri terhadap khazanah keilmuan.[]

 

WARTAWAN: MELLYAN

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

 

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *