Digitalisasi Manuskrip Penting Untuk Rujukan Pengetahuan

oleh -173 views
Ilmuan Dunia Bahas Pemikiran Islam Klasik di STAIN Meulaboh
AMANDA THO SEETH/BIDIKAN LAYAR ZOOM.

BASAJAN.NET, Meulaboh- Peneliti dari Centre Asie du Sud-Est (CASE), Paris, Amanda Tho Seeth menyampaikan, pelestarian manuskrip melalui proses digitalisasi sangat penting dilakukan. Hal itu sebagai upaya untuk menyelamatkan sumber pengetahuan dan kekayaan budaya dari masa lalu.

Bahkan ia bersama para peneliti sumber sejarah lainnya yang tergabung dalam DREAMSEA, telah melakukan digitalisasi terhadap manuskrip-manuskrip yang terancam punah di Asia Tenggara.

Loading...

“Karena iklim Asia Tenggara yang lembab, banyak manuskrip dalam kondisi yang memprihatinkan dan keberadaannya di masa depan terancam,” ungkap Amanda, Rabu, 25 November 2020.

Hal itu disampaikan Amanda saat tampil sebagai pembicara pada 1st Dirundeng Internasional Conference on Islamic Studies (DICIS) 2020, yang dilaksanakan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh, 25-26 November 2020.

Baca berita terkait: Ilmuan Dunia Bahas Pemikiran Islam Klasik di STAIN Meulaboh

Konferensi internasional pertama yang diadakan STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh secara virtual melalui aplikasi zoom itu, mengangkat tema “Turats: Reconstruction Knowledge and Islamic Education in Disruption Era.” Diikuti berbagai kalangan dari dalam dan luar negeri.

Amanda mengatakan, akademisi dan masyarakat luas banyak yang tidak tahu tentang manuskrip di Asia Tenggara, karena dimiliki dan disimpan secara individu. Karenanya, diperlukan digitalisasi manuskrip untuk melindungi keragaman budaya di Asia Tenggara.

Ia menuturkan, di Indonesia, proyek DREAMSEA telah menyelamatkan dan menyediakan ratusan manuskrip untuk umum. Banyak manuskrip Islam yang disusun dalam aksara Jawi dan menjadi bukti kekayaan sejarah dan budaya Islam lokal di Nusantara.

“Para peneliti DREAMSEA berduyun-duyun turun ke daerah-daerah terpencil untuk meyakinkan pemilik naskah, agar dapat didokumentasikan dan dikaji dalam bentuk digital,” paparnya.

Dengan begitu, kata Amanda, naskah manuskrip dapat diakses secara online dalam resolusi tinggi, disertai dengan metadata dan terjemahan parsial ke dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Amanda mengatakan, manuskrip kuno yang ditemukan itu, dapat menjadi pengetahuan kunci tentang relevansi arah peradaban masyarakat Arab dan Eropa. Di Eropa khususnya, manuskrip-manuskrip tersebut dikembangan lebih lanjut, serta menjadikan rujukan pengetahuan untuk beradaptasi dengan konteks dan tantangan kontemporer.

“Terutama hal yang terkait dengan pemicu pembaharuan Eropa dan kesadarannya yang tertanam dalam nilai pelestarian pengetahuan,” terang Alumni the Northern-German University of Hamburg itu.

Selain Amanda Tho Seeth, DICIS 2020 STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh juga menghadirkan sejumlah pembicara utama lainnya, seperti Dirjen Pendis Kemenag RI, M. Ali Ramdhani, Guru Besar Filologi FAH UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta/Pengampu NGARIKSA, Oman Fathurrahman.

Kepala Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan Kemenag RI, M. Arskal Salim GP. Direktur CSRC/Dosen FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Idris Hemay dan Annabel Teh Gallop Lead Curator, Southeast Asia. []

 

 

WARTAWAN: MARIANI

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

 

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *