BASAJAN.NET, Meulaboh- Suara syair Seumapa terdengar silih berganti di Aula Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Aceh Barat, Sabtu 16 Mei 2026.
Di hadapan peserta pelatihan Seumapa, Maestro Seumapa, Medya Hus membagikan tujuh syarat wajib dalam merangkai pantun Seumapa agar tetap sesuai kaidah sastra Aceh.
Menurut Medya Hus, Seumapa bukan sekadar rangkaian pantun untuk hiburan, tetapi bagian dari warisan budaya Aceh yang memiliki aturan, irama, serta nilai penghormatan dalam penyampaiannya.
Ia menjelaskan, langkah pertama dalam menyusun Seumapa adalah menentukan judul dan sampiran. Judul menjadi arah utama agar syair yang dirangkai tetap terfokus, baik untuk Seumapa intat linto, dara baro, penyambutan tamu, maupun acara umum lainnya.
“Kalau judul sudah dipilih, penyair lebih mudah menentukan sampiran dan arah isi pantun,” ujar Medya Hus.
Selain itu, peserta juga dikenalkan dengan istilah harah, yakni jumlah bunyi vokal dalam setiap baris pantun. Dalam sastra Seumapa, harah menjadi dasar penting agar irama pantun terdengar selaras dan nyaman didengar.
“Harah ini dasar dalam merangkai sastra Aceh yang benar,” jelasnya.
Tak hanya harah, Medya Hus turut mengupas unsur buhu, yakni kesamaan bunyi di akhir baris pantun, serta pakhôk yang menekankan kesamaan bunyi tertentu pada bagian baris syair. Menurutnya, kedua unsur tersebut menjadi ciri khas yang membuat Seumapa terdengar indah dan berirama.
Suasana pelatihan semakin hidup ketika Medya Hus mulai melantunkan contoh-contoh pantun Seumapa. Peserta tampak mengikuti setiap pola bunyi yang dijelaskan, mulai dari pakhôk teungöh hingga penggunaan canèk, yaitu tambahan kata yang biasa dipakai pelantun untuk memperkuat penyampaian pesan.
Ia juga mengingatkan peserta tentang sumbang, yakni kesalahan susunan pantun yang membuat irama dan sastra Seumapa terdengar tidak tepat.
Menurutnya, memahami aturan dasar tersebut penting agar generasi muda Aceh tidak hanya mampu melantunkan Seumapa, tetapi juga menjaga keaslian sastra tradisionalnya.
“Pantun Seumapa memiliki nilai agama, moral, budaya, sosial, pendidikan hingga estetika. Kalau terus dilestarikan, manfaatnya akan dirasakan bersama,” katanya.
Pelatihan Seumapa tersebut diikuti generasi muda Aceh Barat sebagai upaya menjaga keberlangsungan budaya tutur Aceh di tengah perkembangan zaman.[]




