Menjaga Seumapa di Tengah Riuh Zaman

oleh -9 views
Seniman, Nana Noviana menguji tutur seumapa bagi peserta pelatihan, Jumat 15 Mei 2026
Seniman, Nana Noviana menguji tutur seumapa bagi peserta pelatihan, Jumat 15 Mei 2026. (BASAJAN.NET/MARIANI)

Kasep kapot angen di gle
Reuloh pade abeh dum na
Bek le ka phot hai boh hate
Hanco hate dalam dada.

Suara itu mengalun perlahan, memecah sunyi aula Kantor Kementerian Haji Kabupaten Aceh Barat, Jumat siang, 15 Mei 2026.

Syair Seumapa yang dilantunkan Seniman, Nana Noviana terdengar lirih, tetapi menghunjam. Beberapa peserta yang duduk melingkar di kursi biru berbentuk huruf U tampak terdiam, menyimak tiap bait yang keluar dari bibir perempuan berkerudung hitam itu.

“Sudah cukup berhembus angin kencang, rusak padi semuanya. Sudah cukup berhembus angin kencang, hancur hati dalam dada,” terjemahan syair itu dibacakan kembali dengan nada pelan.

Di depan ruangan, sebuah banner berukuran empat kali satu meter bertuliskan Pelatihan dan Kompetisi Kreativitas Seumapa tergantung rapi. Sebanyak 20 pemuda duduk bersila dan sebagian lainnya mencondongkan badan ke depan, larut dalam suasana diskusi budaya yang terasa hangat sekaligus akrab.

Di tengah ruangan, Nana Noviana, 37 tahun, berdiri membawakan materi. Gayanya sederhana namun tegas. Sesekali ia tersenyum, mencairkan suasana formal menjadi ruang belajar yang hidup.

Bagi Nana, Seumapa bukan sekadar tradisi berbalas syair. Ia melihatnya sebagai bagian dari industri kreatif yang masih memiliki ruang besar untuk tumbuh di Aceh.

“Seumapa mampu hadir sebagai media seni pertunjukan, memperkaya pariwisata Aceh, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku seni tutur,” ujarnya.

Perempuan dengan busana trendi itu menjelaskan, tradisi lisan Seumapa kini berkembang menjadi pertunjukan budaya yang memadukan adat dengan unsur hiburan kontemporer. Di tengah era digital, menurutnya, Seumapa justru perlu menemukan panggung baru agar tetap dekat dengan generasi muda.

Namun di balik semangat itu, ia menyimpan kegelisahan. Jumlah penutur Seumapa semakin berkurang. Anak muda yang mampu melantunkan syair dengan baik tidak lagi sebanyak dulu.

“Kalau bukan generasi muda yang belajar hari ini, nanti siapa lagi yang akan menjaga tradisi ini?,” katanya.

Bagi Nana, kemampuan Seumapa tidak hanya soal kepiawaian merangkai kata. Ada imajinasi, emosi, pengalaman, hingga kemampuan membaca audiens yang ikut bermain di dalamnya.

Di langet bintang di bumoe padee
Jipot angen glee meu ble-ble cahya
Saket ngon seunang ie mata ilee
Teuingat sabee ke bidjeh mata.

Syair kembali dilantunkan. Kali ini beberapa peserta ikut tersenyum kecil. Suasana aula yang tadinya tenang perlahan berubah lebih hidup.

Pelatihan itu tidak berhenti pada teori. Nana mengajak peserta mempraktikkan langsung Seumapa. Beberapa pemuda dipasangkan untuk saling membalas syair. Ada yang masih terbata, ada pula yang mulai percaya diri memainkan intonasi dan ekspresi.

Di sudut aula, tepuk tangan kecil sesekali terdengar. Siang itu, Seumapa tidak hanya diajarkan sebagai warisan budaya, tetapi juga dihidupkan kembali lewat suara-suara muda yang sedang belajar menjaga ingatan tentang Aceh.[]

PENULIS: MARIANI

EDITOR: RAHMAT TRISNAMAL