BASAJAN.NET, Meulaboh – Pegiat seni budaya Aceh, Heri Maslijar, memperkenalkan empat struktur utama narasi Seumapa kepada peserta pelatihan Seumapa yang berlangsung di aula Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Aceh Barat, Jumat 15 Mei 2026.
Heri menjelaskan, Seumapa merupakan salah satu bentuk seni tutur dalam tradisi lisan masyarakat Aceh yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini diwujudkan melalui penyampaian pantun atau syair secara berbalas dalam suasana komunikatif dan penuh makna.
Menurutnya, Seumapa tidak hanya menampilkan keindahan bahasa, tetapi juga mencerminkan kecerdasan berpikir, kepekaan sosial, dan kemampuan retorika masyarakat Aceh. Seni Seumapa juga mengandung nilai etika, komunikasi, serta penghormatan dalam budaya Aceh.
Dengan adanya pelatihan tersebut, generasi muda diharapkan semakin mengenal dan mencintai warisan budaya daerahnya sendiri. Heri menilai, pemahaman terhadap struktur narasi Seumapa penting agar generasi muda mampu menjaga keaslian tradisi tersebut.
Ia menjelaskan, struktur pertama disebut Saleum atau salam. Pada bagian ini, pihak pendatang atau linto memberikan salam yang kemudian dijawab oleh pihak tuan rumah atau dara baro dengan penuh penghormatan. Selain salam Islami, bagian ini juga berisi sanjungan kepada tamu maupun tuan rumah serta permohonan maaf apabila penyambutan belum sempurna.
“Bagian salam ini menunjukkan etika komunikasi masyarakat Aceh yang menjunjung tinggi sopan santun dan penghormatan,” ujar Heri.
Struktur kedua adalah Peu Phoen atau pembukaan. Pada tahap ini, pihak pendatang mulai menyampaikan maksud kedatangannya secara tersirat melalui kiasan dan ungkapan yang santun. Bagian tersebut juga berfungsi membangun konteks cerita dan menyiapkan audiens untuk memahami isi pembicaraan.
Sementara itu, bagian ketiga disebut Asoe Hadjat, yang menjadi inti dari narasi Seumapa. Dalam bagian ini terjadi dialog antar Syeh atau juru bicara. Pihak tamu menyampaikan tujuan kedatangannya, sedangkan pihak tuan rumah memberikan sambutan maupun balasan dalam bentuk pantun atau syair.
“Di sinilah pesan, nilai adat, dan maksud kedatangan disampaikan secara penuh melalui dialog budaya,” katanya.
Adapun struktur keempat adalah penutup. Bagian ini menjadi akhir dari narasi Seumapa yang berfungsi mengakhiri penyampaian dengan kesan yang kuat dan bermakna. Setelah seluruh urusan adat disepakati, pembicaraan ditutup dengan permohonan maaf apabila terdapat kata-kata yang kurang berkenan selama proses berbalas pantun.
Selain itu, pada bagian penutup juga disampaikan harapan agar hubungan kekeluargaan tetap terjalin, doa untuk kedua mempelai, serta salam penutup sebagai bentuk penghormatan terakhir dalam tradisi Seumapa.[]


