BASAJAN.NET, Meulaboh- Di tengah derasnya arus modernisasi dan budaya digital yang semakin akrab dengan generasi muda, sekelompok pemuda di Kabupaten Aceh Barat memilih jalan berbeda. Mereka menghidupkan kembali tradisi Seumapa melalui sebuah dialog budaya yang sarat pesan pelestarian warisan leluhur Aceh.
Kegiatan yang digelar komunitas Basajan di KM Kupi Meulaboh, Ahad 17 Mei 2026 itu berlangsung dalam program pemanfaatan hasil kelola Dana Abadi Kebudayaan dari Kementerian Kebudayaan. Dialog budaya tersebut mengusung tema Revitalisasi Warisan Budaya dan Kearifan Lokal Aceh untuk Generasi Mendatang.
Dialog budaya yang disiarkan langsung melalui media Youtube dan Instagram ini, menghadirkan pegiat budaya dan akademisi sebagai narasumber utama. Di antara narasumber yang hadir adalah Maestro Seumapa, Medya Hus, Syeikh Masri Hanif, budayawan Aceh Azhari Aiyub, budayawan Aceh Barat Yanimar, serta akademisi Sri Handayani.
Bagi peserta yang hadir, Seumapa bukan sekadar seni bertutur atau berbalas pantun. Tradisi itu dipandang sebagai cara mengenalkan identitas Aceh kepada generasi muda yang mulai jauh dari budaya daerahnya sendiri.
Di ruang dialog, suara tentang kekhawatiran hilangnya budaya lokal mengemuka. Tradisi Seumapa dinilai mulai jarang terdengar di tengah kehidupan anak muda yang lebih dekat dengan media sosial dan budaya populer digital.
Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Barat, Masri Hanif menyampaikan apresiasi kepada generasi muda yang masih peduli terhadap pelestarian budaya daerah. Menurutnya, upaya revitalisasi Seumapa menjadi penting agar Aceh tidak kehilangan jati diri budaya.
“Budaya adalah identitas daerah. Kalau tidak dijaga oleh generasi muda, lama-lama bisa hilang,” ujarnya.
Dialog budaya tersebut menghadirkan sejumlah tokoh budaya dan akademisi, di antaranya Maestro Seumapa Medya Hus, Budayawan Aceh, Azhari Aiyub, Budayawan Aceh Barat Yanimar, serta akademisi Sri Handayani. Diskusi berlangsung hangat membahas tantangan pelestarian budaya lokal di tengah perubahan zaman.
Menariknya, kegiatan itu juga disiarkan langsung melalui Youtube dan Instagram. Cara tersebut menjadi upaya mendekatkan budaya tradisional kepada generasi digital dengan medium yang lebih akrab bagi anak muda.
Kebangkitan Seumapa bukan hanya tentang menjaga tradisi lama, tetapi juga memastikan warisan budaya Aceh tetap hidup dan menemukan tempat di hati generasi mendatang.
Akademi Universitas Teuku Umar (UTU) Sri Handayani menyampaikan, Seumapa di era digital saat ini memiliki tantangan dalam ruang kreatif, adaptif dan inovatif. Di era digital saat ini Seumapa menjadi tantangan karena terbatasnya muncul di ruang digital.
Sri Handayani menyebutkan, Seumapa memiliki beberapa unsur penguatan karakter, di antaranya unsur religius, kreatif, percaya diri, kritik, dan etika dialog. Dengan mempertimbangkan unsur-unsur tersebut, seni tutur Seumapa memiliki peluang besar untuk membentuk karakter generasi muda lebih kuat.
“Warisan strategis inilah perlu dilanjutkan oleh generasi muda,” jelasnya.
Ia berharap, seni tutur Seumapa dapat dijadikan sebagai muatan lokal (mulok) di sekolah dan perguruan tinggi.
Sementara itu, Budayawan Aceh, Azhari Aiyub mengatakan, Seumapa memiliki fungsi dalam kehidupan sehari-hari dan dapat digunakan dalam aktivitas sehari-hari, sehingga generasi muda dapat mempraktikkan Seumapa dalam aktivitas keseharian mereka.
“Anak muda harus berani mengambil alih budaya Seumapa, dan Seumapa menjadi aktivitas yang keren,” tambahnya.
Penanggung Jawab Program Seumapa, Nurul Fahmi mengatakan, dialog budaya tersebut sengaja melibatkan berbagai pihak sebagai bentuk kolaborasi untuk menyelamatkan budaya Aceh yang mulai tergerus zaman.
Menurutnya, panitia mengundang berbagai stakeholder untuk terlibat dalam dialog budaya, mulai dari budayawan, Majelis Adat Aceh, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, hingga komunitas seni di Aceh Barat.
Ia menjelaskan, dialog budaya itu merupakan rangkaian penutup dari sejumlah kegiatan yang telah lebih dulu dilaksanakan, seperti Sosialisasi Budaya Seumapa, pelatihan Seumapa, hingga kompetisi kreativitas Seumapa bagi generasi muda Aceh Barat, serta pementasan Seumapa yang dilakonkan oleh Maestro Seumapa, Medya Hus dan Seniman, Yunis Fahendra.
Nurul Fahmi berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebatas seremoni, tetapi mampu melahirkan generasi muda yang peduli dan mau meneruskan tradisi Seumapa di tengah perkembangan zaman.
“Harapan kami, Seumapa tidak hanya dikenang sebagai budaya lama, tetapi kembali hidup dan dipraktikkan oleh generasi muda Aceh,” ujarnya.[]
__________
PENULIS: MARIANI
EDITOR: RAHMAT TRISNAMAL


