Temuan Mengejutkan, Bakteri Perkasa Lebih Tua dari Dinosaurus

oleh -264 views

Basajan.net- Ada kabar soal temuan mengejutkan dari para ilmuwan Harvard, yakni bakteri perkasa Enterococcus. Kenapa mengejutkan? Sebab, semakin dihajar antibiotik, bakteri Enterococcus bukannya kelengar, tapi malah kian perkasa. Bakteri ini punya daya tahan terhadap antibiotik yang diberikan kepada pasien.

Namun para peneliti di Harvard Infectious Disease Institute dan Massachusetts Eye and Ear, Program on Antibiotic Resistance dan Broad Institute MIT, tak mau berhenti di sana. Mereka mencari tahu sejak kapan bakteri itu, yang menyebabkan infeksi saluran kemih sampai meningitis, bisa resisten terhadap antibiotik.

Para peneliti tersebut berpendapat bahwa asal-usul dan evolusi resistensi antibiotik akan membantu solusi yang mereka cari dalam menaklukkan bakteri ini. Dipimpin Michael Gilmore, direktur lembaga itu, tim memulai riset tentang evolusi gen bakteri.

Riset dimulai dengan menelusuri evolusi Enterococcus dengan mengurutkan berdasarkan genom layaknya pohon keluarga. Lalu peneliti membandingkannya di antara bakteri itu, kemudian menentukan apa yang umum terjadi pada bakteri tersebut.

Hasilnya, seperti yang dimuat dalam jurnal Cell, Kamis pekan lalu, mereka menemukan tambahan 126 gen ekstra yang dimasuki Enterococcus sejak bercabang dari Vagococcus, sekitar 450 juta tahun yang lalu.

“Mikroba yang resisten terhadap antibiotik memiliki asal-muasal berumur ratusan juta tahun lalu, bahkan sebelum dinosaurus menjelajahi planet bumi,” kata Gilmore.

Saat itu, bakteri Vagococcus hidup di laut seperti ikan. Ketika terjadi Ledakan Cambrian, 542 juta tahun lalu, lingkungan laut dan iklim pun berubah. Saat hewan-hewan laut mulai merangkak di darat, enterococcus ikut bersama hewan-hewan bertubuh besar.  
Selama ekologi baru muncul, mikroba baru pun berkembang. Dari hewan laut, seperti ikan, bersama 5.000 bakteri yang tidak berbahaya per tetes air, mereka diekskresikan ke laut dan tenggelam ke dasar laut menjadi sedimen yang kemudian dikonsumsi cacing, kerang, dan pemulung laut lainnya. Mereka terus beredar dalam rangkaian rantai makanan yang akhirnya sampai juga di daratan.

Daya tahan Enterococcus memang luar biasa. Di darat, meski banyak yang gugur, mereka mampu bertahan di tengah cuaca ekstrem dan kelaparan. Mereka juga mampu hidup dalam suhu dan tekanan yang bahkan tidak terbayangkan. Bahkan di lingkungan dengan suhu lebih dari 100 derajat Celsius atau di dasar lautan dengan tekanan yang sangat besar. Mereka tinggal di puncak gunung, bersirkulasi di udara.

Dinding sel luar keras membuat mereka sangat tangguh dan mampu membangun resistensi. Selama bakteri beradaptasi, Enterococcus mulai menolak hal-hal di lingkungan alami yang bisa membunuh mereka, dan akhirnya muncul ke dalam mikroba yang kita lihat sekarang.

Menurut Gerry Wright, Direktur Michael G. DeGroote Institute for Infectious Disease Research McMaster University, yang ikut dalam penelitian itu, resistensi mikroba hanyalah bagian dari proses alami. “Perlawanan, seperti yang ditunjukkan oleh penelitian ini, benar-benar tua,” kata Wright. “Ini adalah bagian dari lanskap genetik mikroorganisme dan sejak antibiotik pertama mulai diproduksi. Itu terus tumbuh dalam kecepatan karena ini adalah bagian dari seleksi alam.”

Nah, menilik sejarahnya, tentu tak mengherankan bila Enterococcus memiliki resistensi terhadap antibiotik. “Mereka benar-benar sangat sulit dibunuh,” kata Gilmore.

Dia berharap penemuan ini akan menghadirkan cara baru, dengan menargetkan 126 gen ekstra, untuk mengembangkan antibiotik baru. Tentu tak mudah. Sebab, menurut dia, antibiotik baru pun akan ditantang oleh bakteri perkasa lainnya. “Resistensi hampir tak terelakkan,” kata Gilmore. “Namun kita harus tetap di depannya.” Selain bakteri perkasa ini, kita tunggu saja temuan mengejutkan selanjutnya dari tim ilmuwan tersebut.

Tempo | CBC | Science Daily | Junaidi Mulieng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *