Tari Saman Simbol Perekat Keberagaman di Aceh Barat

oleh -26 views
Tari Saman Simbol Perekat Keberagaman di Aceh Barat
Rasyada.

Penulis: Rasyada*

Walaupun tarian saman penuh dengan syair Islam, namun tidak menghalangi penari dari non-muslim untuk berpartisipasi atau terlibat langsung dalam tarian tersebut. Ini merupakan satu keberkahan luar biasa bagi rakyat Aceh dan Indonesia dalam mewujudkan kerukunan dan perdamaian atar umat beragama.

Setelah menonton chanel Youtube Labpsa TV, yang dirintis oleh Prodi Sosiologi Agama UIN Ar-Raniry Banda Aceh, saya kian tertarik untuk mempelajari wacana keberagaman dan moderasi beragama. Wacana ini mendorong saya untuk melihat salah satu pertunjukan seni lokal khas Aceh, mengamati secara mendalam, apakah ada unsur keberagaman dalam tarian Aceh? Mengingat dari catatan sejarah, Aceh merupakan kawasan yang sangat menghormati keberagaman.

Seperti kita ketahui, bahwa seni tari merupakan sebuah gerak badan secara berirama yang dilakukan ditempat, serta waktu tertentu, untuk keperluan pergaulan, mengungkap perasaan, maksud, serta pikiran. Tari juga diiringi bunyi-bunyian, berupa musik yang mengatur gerakan penari, serta menguatkan maksud yang mau di sampaikan. Gerakan tari tidak sama dengan gerakan sehari-hari seperti lari, jalan, atau senam.

Gerak di dalam tari tidaklah realistis, tetapi gerak yang sudah diberi bentuk ekspresif serta estetis. Suatu tarian sesungguhnya adalah kombinasi dari beberapa unsur, yakni wiraga (raga), wirama (irama), serta wirasa (rasa). Ketiga unsur tersebut melebur jadi bentuk tarian yang serasi. Unsur paling utama dalam tari yaitu gerak. Gerak tari senantiasa melibatkan unsur anggota badan manusia. Dalam Gerakan tari, unsur-unsur anggota badan itu dapat berdiri sendiri, berhimpun maupun bersambungan.

Kabupaten Aceh Barat merupakan wilayah di pesisir barat Aceh yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan dan petani. Jarak tempuh ke Banda Aceh, ibu kota porvinsi ke Kabupaten Aceh Barat, sekitar 289.39 km atau empat jam menggunakan mobil. Seperti lumrahnya daerah lainnya di Aceh, penduduk Kabupaten Aceh Barat mayoritas beragama Islam. Namun, terdapat juga masyarakat yang beragama Hindu, Kristen, dan Budha, yang hidup berdampingan dengan masyarakat muslim di Aceh Barat. Meski pun minoritas, namun mereka aktif dalam berbagai hal, baik di bidang sosial maupun budaya, khususnya tarian tradisional khas Aceh seperti tari saman, tari ranup lampuan dan masih banyak lagi.

Keterlibatan warga moniritas dalam tarian tradisional Aceh lumrah ditemui di beberapa sekolah di Kabupaten Aceh Barat. Dimana seni tari, dijadikan ekstrakurikuler dan kerap dilombakan yang mampu menciptakan kerukunan antar umat beragama di Aceh Barat, seperti tari saman.

Saman adalah Berkah

Saman merupakan tarian tradisional khas Aceh yang sarat dengan nilai-nilai islami. Di dalam tarian saman, terdapat syair-syair Islam yang berisi nasehat dalam setiap gerakan maupun liriknya. Tarian ini biasanya di tampilkan saat acara pernikahan, penyambutan tamu kenegaraaan, dan event-event besar atau perlombaan, baik tingkat daerah, nasional maupun internasional.

Walaupun tarian saman penuh dengan syair Islam, namun tidak menghalangi penari dari non-muslim untuk berpartisipasi atau terlibat langsung dalam tarian tersebut. Ini merupakan satu keberkahan luar biasa bagi rakyat Aceh dan Indonesia dalam mewujudkan kerukunan dan perdamaian atar umat beragama.

Kita sebagai penerus bangsa dan agama, harus memikirkan cara untuk menjaga toleransi antar umat beragama di Indonesia, khusus Aceh Barat jangan sampai pudar. Isu tentang agama merupakan hal sangat krusial, yang dapat memicu keretakan atau pun permusuhan antar umat beragama.

Seni tari merupakan sebuah karya yang bisa diterima setiap lapisan masyarakat, tidak terhalang umur, ras, bangsa dan agama. Karya seni merupakan wadah atau sarana menumpahkan kreativitas dan ide, hingga melahirkan sebuah karya nyata dan diterima tanpa adanya penolakan. Di Aceh Barat, keberadaan seni tari mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah. Bukan hanya sebatas melestarikan budaya, akan tetapi seni tari juga bisa dijadikan media untuk mempererat hubungan tali silaturahmi antara umat beragama di daerah ini.(*)

————————————————————————————–

*Penulis adalah Mahasiswa Prodi Hukum Pidana Islam, Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh. Email: rasyambo611@gmail.com

Artikel ini merupakan hasil kerjasama Seuramoe Moderasi Beragama STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh dengan LABPSA TV Prodi Sosiologi Agama UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Artikel ini telah melewati serangkaian proses pengeditan sesuai kebijakan redaksi, tanpa mengubah subtansi.

Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.