Suku Mante Hidup dalam Sunyi

oleh -1.288 views
20170408 105507 640x360

BASAJAN.NET, Meulaboh- Fauzan Adhim, warga Aceh Tengah, mengaku pernah berinteraksi dengan seorang warga Suku Mante pada 2014.

Saat itu, ia bahkan ditolong dengan ditunjukkan arah yang benar saat tersesat di hutan. Suku mante yang ia temuai itu, menggoreskan kuku jari tangannya di tanah ke kanan, ke kiri atau lurus untuk menunjukkan jalan keluar dari hutan.

Loading...

Hal itu terungkap dalam Pertemuan Forum Koordinasi Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil Tahun 2017, dengan tema bahasan Suku Mante, Jumat 7 April 2017, di Jakarta.

Hadir sebagai pembicara dalam pertemuan trrsebut, Antropolog Universitas Indonesia Budhisantoso, Antropolog Universitas Gajah Mada  Sjafri Sairin, Kepala Dinas Sosial Provinsi Aceh Al Hudri, serta kesaksian Fauzan Adhim warga Aceh yang pernah berinteraksi dengan warga Suku Mante.

Fauzan menuturkan, ia juga pernah menemukan warga Suku Mante perempuan yang meninggal di hutan.  Tangannya tertusuk jebakan untuk badak. Saat itu ia salatkan jenazah dan menguburkannya di hutan.

Berdasarkan keterangan Fauzan, dari ciri fisik, suku Mante memiliki tinggi sekitar 90 centimeter. Telapak kaki seperti manusia, namun lebih lebar pada ujung jari. Telinga agak runcing ke atas bentuk muka bulat, berotot.

Perempuannya memiliki bulu halus di seluruh badan, sementara pria tidak berbulu. Makanan mereka ikan, ayam hutan, lumut di bebatuan, kumer (salak hutan) dan dedauan.

Mereka memiliki kecenderungan seperti manusia, namun menghindar dari manusia jika merasa terganggu. Sering ditemukan sendiri, suka mengintai kehidupan manusia, suka tanah becek, tidak menggunakan api dalam menjalani hidup. Di dalam hutan, mereka tidak mengikuti koridor satwa, sehingga tidak terekam di kamera Trap yang dipasang di sejumlah titik di hutan Aceh oleh aktivis lingkungan.

Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Hartono Laras mengungkapkan, berdasarkan laporan dari Dinas Sosial Provinsi Aceh, Suku Mante tersebar di 14 lokasi di Provinsi Aceh. Di antaranya Kawasan Samarkilang Bener Meriah, Gunung Goh Pase Aceh Utara, Kaki Gunung Halimun Pidie, Hutan Pameu Aceh Tengah, Hutan Kappi Gayo Lues dan lain-lain. Jumlah warga belum dapat dikonfirmasi secara pasti mengingat keberadaan mereka yang sulit terdeteksi.[]

 

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

 

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *