Serambi Mekkah: Mewujudkan Generasi Abid dan Abdun

oleh -501 views
IMG 8266 640x360 1

SERAMBI Mekkah merupakan salah satu pesantren yang terkenal di Aceh. Pesantren ini berdiri tahun 1986, berlokasikan di Gampong Blang Beurandang, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat. Berdirinya dayah tersebut diprakarsai oleh Almarhum Teungku H. M. Nasir Wali, Lc bersama tokoh-tokoh masyarakat, antara lain Almarhum Let Bugeh Malem, Almarhum Amiruddin Mahmud, Nyak Neh, Almarhum Toke Musa, Almarhum Jum’at, Syarifuddin dan lain-lain.

Teungku H. M. Nasir Wali atau sering disapa Abu Nasir merupakan salah satu ulama kharismatik Aceh yang kiprahnya tidak hanya dikenal masyarakat Aceh, namun juga tingkat nasional dan internasional. Lelaki paruh baya ini, dikenal sebagai pribadi yang tenang dan bersuara lembut. Ia lulusan Madinah al Munawarah.

Loading...

Pendirian Pesantren Serambi Mekkah dimulai dengan membangun sebuah musala, balai pengajian dan sepuluh asrama. Mulanya santri di pesantren tersebut hanya sekitar 75 orang. Putra-putri yang sebagian besarnya dari Blang Beurandang. Pada saat Pesantren Serambi Mekkah didirikan, Teungku H. M. Nasir Wali masih memimpin Pesantren Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan. Karenanya, kepemimpinan Pesantren Serambi Mekkah dipercayakan kepada beberapa orang dalam masa beberapa tahun, tepatnya sampai 16 Agustus 1989. Pada 17 Agustus 1989, mulailah Pesantren Serambi Mekkah dipimpin langsung oleh Teungku H. M. Nasir Wali.

“Alhamdulillah sejak dipimpin langsung oleh Teungku H. M. Nasir Wali, santri mulai berdatangan dari seluruh pelosok tanah Aceh, bahkan ada juga yang datang dari luar Aceh di antaranya dari Jambi, Sulawesi, Riau dan Medan,” ujar Sekretaris Pesantren, Teungku Armya Kasem.

Santri di Pesantren Serambi Mekkah sebagian besar merupakan anak-anak dari keluarga kurang mampu dan yatim piatu. Bahkan banyak di antara santri yang bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Sehingga proses pembelajaran mereka pun sedikit terganggu,” tambah Teungku Armya yang juga alumni dayah Serambi Mekkah tersebut.

Meski begitu, menurut Teungku Armya, santriwan dan santriwati Serambi Mekkah sangat rajin. Waktu luang mereka gunakan untuk belajar dan mengulang kembali kitab. Kitab yang dipelajari di sini adalah kitab Bahasa Arab gundul, tidak memiliki baris. Untuk membacanya harus menguasai ilmu Nahwu dan Saraf.

Para santri hanya memiliki waktu istirahat 5 jam, karena harus mengaji mulai selesai subuh hingga jam 08.00 pagi, pukul 14.15 hingga ashar. Selesai Isya sampai pukul 10.00 Wib.

Guru-guru yang mengajar atau biasa disapa teungku, berjumlah 48 orang, 41 laki-laki dan 7 perempuan. Mereka tidak dibayar. Sebagian darinya juga guru di MTsN dan SMA Serambi Mekkah. Aktivitas santri sangat beragam. Mulai dari belajar mengaji sampai olahraga.

Sebagian besar bangunan terbuat dari kayu, catnya mulai pudar. Setelah 28 tahun berdiri, pesantren yang dibangun di atas lahan seluas enam hektar ini berkembang pesat. Saat ini Pesantren Serambi Mekkah memiliki Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Dengan jumlah siswa 520 orang, 230 putra dan 290 putri. Pesantren ini bukan pesantren modern karena antara dayah dan sekolah terpisah. Namun masih berada dalam satu Yayasan Ummul Yatama Al-Waliyyah Serambi Mekkah Meulaboh.

Siswa MTsN dan SMA Serambi Mekkah merupakan santri yang menetap dan mengaji di pesantren tersebut. Sistem pendidikan sekolah MTsN dan SMA Serambi Mekkah masih menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), karena kondisi sekolah yang masih banyak kekurangan belum bisa diterapkan kurikulum K-13.

“Kami takut para siswa dari luar memberikan pengaruh tidak baik terhadap santri yang ada di pesantren. Maka setiap siswa yang sekolah di MTsN atau SMA Serambi Mekkah harus menetap dan menjadi santri,” ungkap lelaki berkulit putih itu.

Menurutnya, MTsN dan SMA Serambi Mekkah belum layak untuk diterapkan K-13 karena kondisi sekolah. Terutama sarana dan prasarana, serta faktor penunjang lainnya belum memadai.

“Kalau dari segi guru dan ilmu kami di sini cukup, sama seperti pesantren lain bahkan mungkin lebih,” yakinnya.

Pernyataan Armya bukan tak beralasan. Tiap tahunnya, anggota polisi yang ditempatkan di Polres Aceh Barat mendapatkan pelatihan dan pembinaan di pesantren ini. “Mereka diberi pelatihan pemahaman agama di sini,” katanya dengan bangga.

Saat ini pesantren Serambi Mekkah memiliki sekitar 50 rangkang dan 3 asrama permanen, satu masjid dan satu musala perempuan, serta 20 kabilah mengaji berbentuk balai. Untuk sekolah, memiliki satu ruang kantor dan 12 ruang belajar MTsN dan enam ruang belajar SMA. Setiap kelas antara siswa putra dan putrid dipisah.

Setelah Abu Nasir, kepemimpinan pesantren dilanjutkan Drs. Harmen Nuriqmar. Kemudian dilanjutkan H. At-tharmizi Hamid. Sekarang tampuk kepemimpinan berada di tangan Teungku Erwin Syah. Lelaki berbadan kecil dan kulit sawo matang ini keturunan Manado, namun sejak kecil menuntut ilmu di Pesantren Darussalam Labuhan Haji, yang kemudian menikahi Mutawali Ati Al-Waly, anak dari Abu Nasir.

Di bawah kepemimpinan Erwin Syah, Pesantren Serambi Mekkah melakukan beberapa terobosan, di antaranya penggunaan cadar bagi santriwati dan percakapan dengan Bahasa Arab di lingkungan pesantren. Berbagai kendala yang dihadapi tidak menghalangi bapak tiga anak ini untuk terrus membangun pesantren. Perbaikan demi perbaikan juga terus dilakukan.

Erwin Syah berharap para santri nantinya menjadi manusia taat kepada Allah, yang abid dan abdun. “Bukan hanya mengerjakan perintah Allah, tapi juga yang Allah suka,” pungkasnya.

Abid adalah orang yang menjalankan perintah Allah dan abdun merupakan orang yang beribadah atau mengerjakan sesuatu yang Allah cintai atau ubudiyah.[]

 

WARTAWAN: PUTRI AGUS SILVIA

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *