Perspektif Multikulturalisme: Pemutus Siklus Bullying

oleh -119 views
Perspektif Multikulturalisme: Pemutus Siklus Bullying
Ilustrasi: AI/RT

Penulis: Sa’adatul Aliyah*

BASAJAN.NET- Akhir-akhir ini, kita mendengar banyak kasus perundungan atau bullying yang terjadi pada kalangan remaja hingga anak-anak usia sekolah dasar, baik berupa bullying secara fisik seperti pemukulan serta tendangan, dengan verbal seperti mengejek, atau perilaku sosial sepertuli pengucilan atau pembiaran.

Tindakan bullying atau perundungan ini membawa banyak dampak negatif terhadap korban. Korban bullying seringkali merasa minder atau rendah diri, mengalami masalah dalam pembelajaran hingga masalah mental. Bahkan seringkali berujung pada keinginan untuk bunuh diri.

Perbedaan dan Etnosentrisme pemicu terjadinya bullying

Berdasarkan dari beberapa studi literatur, salah satu hal utama mendorong terjadinya bullying adalah karena korban memiliki berbagai situasi dan kondisi berbeda-beda terlihat oleh teman-teman sebayanya.

Perbedaan ini bisa terlihat dari status ekonomi, sosial, ras, atau karena korban merupakan orang alami kondisi fisik disabilitas. Pengalaman dari dua orang anak SD bernama Ana dan Elsa (nama samaran), pernah penulis temui dapat menggambarkan suatu perbedaan dan berujung pada terjadinya bullying.

Ana adalah seorang siswi pindahan dari Maluku yang kemudian bersekolah di salah satu SD Negeri di Jawa Barat. Berbeda dengan teman lainnya, Ana memiliki warna kulit lebih gelap. Hal itu kemudian membuatnya sering diejek dan sulit mendapat teman.

Sementara itu, Elsa sebagai murid kelas 2 di sekolah swasta berbasis agama di Jawa Barat, mengalami kesulitan berbicara yang kurang lancar sehingga teman-temannya cenderung mengucilkannya.

Kedua kasus tersebut menunjukkan bahwa lingkungan tempat mereka berada sulit menerima perbedaan yang mereka lihat dan bahkan menjadikan keduanya sebagai sasaran perundungan sehingga menimbulkan kekhawatiran sebagian masyarakat dalam kehidupan sekolah.

Selain itu, ada hal lain mengakibatkan terjadinya perundungan disebabkan dari adanya rasa etnosentrisme lebih tinggi. Merujuk tulisan Dedi Mulyana pada buku Health Therapeutic and Communication, etnosentrisme merupakan rasa cinta kepada kelompok sendiri sehingga memandang kelompok lain lebih rendah dari kelompoknya. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana lingkungan sekitar Elsa dan Ana yang merasa bahwa kelompoknya memiliki keunggulan dari segi warna kulit atau kemampuan sehingga berhak merendahkan dan mengucilkan orang-orang yang berbeda. 

Perspektif Multikulturisme sebagai solusi dari bullying

Salah satu cara mengikis jurang perbedaan atau sikap etnosentrisme yang berakibat pada bullying adalah dengan mulai membangun pandangan multikulturalisme tatkala membangun hubungan.

Multikulturisme sendiri dapat diartikan sebagai pendekatan antar budaya yang berusaha memberi kesadaran bahwa terdapat kebiasan, ciri fisik, atau cara pandang yang berbeda akan sesuatu tergantung budaya seseorang berasal.

Orang dari suatu daerah mungkin memiliki warna kulit yang lebih gelap karena genetik atau keadaan alamnya. Namun, di balik itu mereka memiliki kebijaksanaan cara hidup yang juga dapat diterapkan oleh kelompok budaya lainnya.

Di sisi lain, orang dengan disabilitas bukan berarti tidak mampu menciptakan suatu karya atau memiliki kekurangan di segala sisi. Seringkali, mereka memiliki kemampuan lain yang dapat berkembang baik jika diasah dan diberi perhatian positif.

Perspektif multikulturalisme ini memungkinkan adanya dialog antara orang yang berasal dari kelompok budaya yang berbeda untuk membangun pemahaman yang lebih baik antara masing-masing kelompok. Misalnya, dengan ada ruang memfasilitasi pertemuan antara kelompok orang kulit terang dengan kulit gelap, kelompok disabilitas, atau kelompok dari suku yang berbeda menyampaikan pandangan atau pendapat.

Dialog yang dilakukan akan membuat kita lebih mengenali hal-hal yang lebih mendalam dari diri seseorang dan menemukan kelebihan yang mungkin tidak kita tahu. Akhirnya, rasa empati terhadap kelompok atau individu yang berbeda akan terbangun dan penolakan dalam bullying bentuk diharapkan bisa dihentikan.


================

*Mahasiswa Program Studi Magister Fikom Unpad. Email: sdtlalyh@gmail.com. Instagram: @saliyah95


EDITOR: NURKHALIS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.