Patriarki Sebabkan Perempuan Sulit Keluar dari Lingkaran Kekerasan

oleh -47 views
Patriarki Sebabkan Perempuan Sulit Keluar dari Lingkaran Kekerasan
Puluhan ibu-ibu Gampong Mesjid, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, mengikuti workshop pemberdayaan gender dan anak yang diselenggarakan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Kamis, 16 November 2022. (BASAJAN.NET/MULIADI).

BASAJAN.NET, Meulaboh- Kuatnya budaya Patriarki, doktrin agama, dan adat di dalam masyarakat, telah menempatkan perempuan korban KDRT dalam situasi sulit untuk keluar dari lingkaran kekerasan yang dialaminya.

“Mereka cenderung ragu mengungkapkan fakta kekerasan. Bahkan di beberapa kasus, korban sulit mendapatkan dukungan dari keluarga maupun komunitas,” ungkap Direktur Lembaga Advokasi Perempuan dan Anak (LAPA) Aceh, Ayu Ningsih, Rabu, 16 November 2022.

Hal itu disampaikan Ayu Ningsih pada workshop pemberdayaan gender dan anak, di Gampong Pasie Mesjid, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat.

Kegiatan yang diselenggarakan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, dengan tema “Pencegahan Kekerasan dalam Rumah Tangga dan Stunting pada Anak” itu, diikuti puluhan ibu-ibu gampong setempat.

Ayu menyebutkan, meningkatnya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menunjukkan, jika masyarakat semakin sadar dan berani untuk melaporkan kekerasan yang dialami.

“Namun dalam perjalanannya, banyak kasus yang dicabut oleh pelapor sekaligus korban, karena banyaknya beban yang harus ditanggung,” papar aktvis perempuan yang pernah menjabat wakil Ketua Komisi Pengawas dan Perlindungan Anak Aceh (KPPAA) itu.

Ia melanjutkan, adapun KDRT tidak hanya berupa kekerasan secara fisik, namun juga psikis, kekerasan seksual, hingga kekerasan ekonomi.

Dipicu karena Perbedaan Posisi Laki-laki dan Perempuan

Menurut Ayu, meski secara umum masyarakat lebih cenderung memaknai kekerasan secara fisik, seperti memukul, menampar, mencubit, menendang, hingga pembunuhan, namun kekerasan psikis juga sangat berpengaruh dalam persoalan ini.

“Seperti menghina, memaki, mengancam, intimidasi hingga mem-bully. Terkait kekerasan seksual, hal itu sangat sensitif, karena termasuk sesuatu yang tabu, terutama di dalam rumah tangga,” terangnya.

Padahal, kata Ayu, pemaksaan alat kontrasepsi, pemaksaan hubungan seksual tanpa persetujuan dan dengan cara tidak disukai, menyakiti, hingga tindakan seksual dengan kekerasan fisik dengan atau tanpa alat yang menimbulkan sakit, luka atau cedera, juga termasuk dalam KDRT.

“Sedangkan kekerasan ekonomi, yang sering terjadi antara lain ekspoitasi, ekonomi, penelantaran, pengabaian nafkah dan lain sebagainya,” runutnya.

Ayu menuturkan, KDRT disebabkan karena adanya anggapan laki-laki dan perempuan berada di posisi yang tidak setara, faktor ekonomi, dan budaya.

Selain itu, pemahaman keliru terhadap penafsiran pemahaman agama terhadap posisi perempuan merupakan subordinasi dari laki-laki.

Di samping itu, juga tidak adanya pengetahuan dari kedua belah pihak bagaimana mengimbangi dan mengatasi masalah ketimpangan relasi kuasa antara suami istri, serta berbagai persoalan lainnya.

Ayu menambahkan, masyarakat dapat ikut andil dalam mencegah KDRT, seperti memberikan perlindungan dan pertolongan kepada korban, mencegah berlangsungnya tindak pidana, hingga membantu proses pengajuan permohonan penetapan perlindungan.

Sementara itu, Dosen STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Ummi Zikriati yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyatakan, Islam sangat memuliakan perempuan, dan sangat melarang perlakuan kekerasan dalam rumah tangga.

Selain itu, Islam juga menganjurkan menyiapkan generasi masa depan yang sehat jasmani dan rohani, serta keimanan yang kuat.

“Salah satunya dengan memberikan makanan yang bersih, sehat dan halal,” ujarnya.

Workshop tersebut merupakan rangkaian kegiatan dari program desa binaan STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, yang digerakkan oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M). Materi juga diisi oleh Julia Wirna, dari Dinas Kesehatan Aceh Barat yang menyampaikan tentang stunting.

“Kegiatan ini kita laksanakan di desa, agar materi yang disampaikan langsung menyentuh akar rumput,” tutur Kepala P3M, Arroyan Ramly. []

==================

PENULIS: MELLYAN

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.