Mengasuh Tanpa Bedakan Status

oleh -135 views
Mengasuh Tanpa Membedakan Status
Workshop Literasi Moderasi Beragama Berbasis Penguatan Al-Quran dan Media Digital, diadakan tim pengabdian dosen STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, di SOS Children’s Village Meulaboh, Kamis, 4 Agustus 2022 (BASAJAN.NET/JUNAIDI MULIENG).

BASAJAN.Net, Meulaboh- Kamis, 4 Agustus 2022, ruang pertemuan SOS Children’s Village Meulaboh riuh dengan diskusi dan canda tawa. Hari itu, lima belas ibu asuh telihat antusias mendengarkan materi tentang Perempuan dan Moderasi Beragama dalam Keluarga.

Sesekali mereka menceritakan suka duka selama menjadi ibu asuh. Rosfaidar (56) tahun, ibu asuh dari rumah pertama mengatakan, anak-anak yang berada di bawah asuhannya berbeda usia antara satu dengan yang lain.

Terkadang ia kebingungan dengan tingkah anak-anak yang berebut mencari perhatiannya, sehingga mereka saling mengganggu satu sama lain.

Dalam pengasuhannya, Bu Ros, demikian ia akrab disapa, sering menceritakan kisah inspiratif untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan kesabaran dalam menjalani hidup.

“Biasanya cerita-cerita fabel (tentang kehidupan hewan), seperti kisah seekor elang yang selalu dipatuk burung gagak, namun elang tidak pernah menggubris dan terus terbang tinggi, hingga gagak kelelahan dan terjatuh,” cerita Bu Ros.

Bu Ros telah menjadi ibu asuh di SOS Children’s Village Meulaboh sejak tahun 2005. Banyak kisah yang telah ia alami. Pertemuan dan perpisahan datang silih berganti, suatu waktu bahagia dan di waktu yang lain diselimuti kesedihan.

Baru-baru ini, ia mengasuh bayi perempuan cantik, yang membuatnya seketika jatuh cinta. Namun di usia enam bulan, ia harus rela melepaskan sang bayi untuk diadopsi.

“Patah hati rasanya,” ujarnya berkaca-kaca.

Meski Bu Ros dan beberapa ibu asuh yang lain juga memiliki anak kandung, namun mereka tidak pernah membedakan perlakukan dan kasih sayang dengan anak-anak yang lain.

“Mereka semua seperti anak kandung, kita berusaha berikan kasih sayang yang adil,” ujarnya.

Bu Ros dan ibu asuh lainnya mengaku senang bisa mendapatkan pendampingan tentang pola pengasuhan anak, terlebih di tengah perkembangan dunia hari ini.

Di sela kegiatan, tiba-tiba dua gadis kecil berseragam sekolah masuk ke ruangan. Keduanya masih duduk di kelas tiga sekolah dasar. Gadis pertama bermata coklat, alis tebal yang juga mengikuti warna bola mata, kulitnya putih bersih. Gadis kedua berkulit lebih gelap, dengan mata hitam dan alis indah melengkung. Keduanya dengan sopan menyalami semua orang yang ada di ruangan.

Tak lama, keduanya keluar dan mengganti seragam sekolah dengan baju santai. Kebetulan, gadis bermata coklat adalah anak asuh Rosfaidar. Sejak bayi ia telah tinggal di SOS, dan hanya mengenal Ros sebagai ibu kandungnya.

Ibu asuh SOS Children’s Village Meulaboh
Memberi Pengasuhan yang Layak

SOS Children’s Village Meulaboh berdiri sejak 2006, atau tak lama setelah tsunami Aceh 26 Desember 2004. Di sana, anak-anak yang kehilangan pengasuhan dengan berbagai latar belakang, diasuh dan dibina.

“Kita mengasuh anak-anak yang kehilangan pengasuhan, anak korban dan anak saksi dari kekerasan dan pelecehan,” ujar Iwan Sampena, Youth Care co-Worker SOS Children’s Village Meulaboh.

Iwan mengatakan, anak-anak di SOS Children’s Village Meulaboh mendapat pengasuhan sepenuh hati dari ibu-ibu asuh dan pembina. Bahkan terkadang, cinta dan kasih sayang yang didapatkan anak-anak, belum pernah dirasakan dari orang tua mereka.

Laki-laki berwajah ramah itu menjelaskan, saat ini terdapat 58 anak yang tinggal di SOS, 23 sedang menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi dan delapan orang di Rumah Remaja Putra.

Di SOS sendiri terdapat 15 rumah. Setiap rumah ditinggali oleh satu ibu asuh dan lima hingga delapan anak beragam usia. Anak laki-laki yang telah baligh (remaja), atau berusia sekitar 14-15 tahun, tempat tinggal mereka akan dipisah ke Rumah Remaja. Sedangkan anak perempuan, diizinkan tinggal hingga berusia 18 tahun atau setelah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA).

Selain itu, SOS juga menanggung semua biaya bagi anak-anak yang memilih melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi atau magang, dan sebagainya, hingga mereka berusia 23 tahun.

“Setelah 23 tahun, anak-anak dituntut mandiri,” terang Iwan.

Iwan menjelaskan, dalam pengasuh dan pembinaan, SOS SOS Children’s Village Meulaboh menerapkan pondasi agama yang kuat. Mereka diajarkan salat tepat waktu dan ibadah lainnya, saling menghormati dan menghargai. Sesekali permainan seru juga dilakukan bersama.

Selain melalui ibu asuh dan pembina, SOS Children’s Village Meulaboh juga mengajak berbagai pihak untuk bermitra dalam pembinaan anak-anak, seperti Komunitas Basajan.

Beberapa waktu yang lalu anak-anak dari Rumah Remaja bersama Basajan berkemah di CRU Gajah Sampoenit, Aceh Jaya. Selain belajar lebih dekat dengan alam, para remaja juga diajarkan teknik fotografi dan videografi.

Selain itu, mereka juga sering mengadakan nonton bareng (nobar) dan berdiskusi yang dapat membangkitkan memotivasi, dan kreativitas.

Meskipun memiliki funding tetap, lembaga sosial yang bermarkas di Austria ini, juga menerima donasi bagi anak-anak. Para karyawan yang berjumlah 20 orang, dengan lima pembina dan para Ibu asuh, berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anak.

“Karena setiap anak berhak mendapatkan pengasuhan yang layak,” tegas Iwan.

Kegiatan yang bertema Literasi Moderasi Beragama Berbasis Penguatan Al-Quran dan Media Digital ini, diadakan tim pengabdian dosen STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh. Workshop tersebut diisi dua pemateri, yaitu Faizatul Husna tentang Perempuan dan Pembinaan Keluarga dan Mellyan tentang Pengasuhan dalam Islam (Tantangan Mendidik Gen Z dan Alpha).

Anggota Tim Pengabdian, Fadhlur Rahman Armi mengatakan, kegiatan tersebut untuk memberikan penguatan Literasi Moderasi Beragama Berbasis Al-Quran dan Media Digital di SOS Children’s Village Meulaboh.

“Setelah ini, kegiatan akan lebih difokuskan pada pembinaan bagi ana-anak asuh usia remaja sebagai sasaran utama pengabdian kami,” ujarnya.

Pengabdian yang diketuai Muhammad Azhari, bersama Irsan Adrianda, Fadhlur Rahman Armi dan Junaidi sebagai anggota, akan dilaksanakan dalam beberapa sesi pertemuan.

“Selain akademisi STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, juga melibatkan praktisi untuk memberikan penguatan dan pendampingan,” terang Fadhlur Rahman.[]

==================

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.