Kisah Anak-Anak di Reruntuhan Banjir Beutong Ateuh

oleh -156 views
Kisah Anak-Anak di Reruntuhan Banjir Beutong Ateuh
Anak-anak di Beutong Ateuh Benggalang, Kabupaten Nagan Raya, bermain di ceruk sisa banjir bandang yang menghantam daerah itu pada Rabu, 26 November 2025. Foto direkam Jumat, 19 Desember 2025. (BASAJAN.NET/NURUL FAHMI).

BASAJAN.NET, Nagan Raya- Banjir bandang meninggalkan hamparan luas tanah berwarna coklat, dipenuhi batang-batang pohon tumbang yang berserakan tanpa arah. Di bawah jembatan, sungai yang dulu mengalir tenang, kini tak lagi ditemukan. Alirannya telah berpindah, mengukir jalur baru di daratan.

Sebuah jembatan darurat dengan turunan curam dan licin, kini menjadi satu-satunya akses menuju Beutong Ateuh Benggalang, Kabupaten Nagan Raya.

Dari kejauhan, di sekitar aliran sungai yang baru terbentuk, anak-anak tampak bermain di ceruk-ceruk tanah sisa banjir. Airnya yang kekuningan dan keruh, tidak menyurutkan keriangan mereka.

Anak-anak adalah kelompok paling rentan saat bencana melanda. Di tengah kehilangan rumah, tanah, sekolah, bahkan meunasah, senyum dan tawa masih melekat di wajah mereka. Barangkali, itulah cara paling sederhana untuk menghibur diri dari duka yang belum sepenuhnya mereka pahami.

Pasca-bencana, anak-anak masih menghabiskan hari-hari mereka dengan bermain. Sekolah tempat mereka belajar telah lenyap tersapu banjir bandang. Hingga kini, belum ada tenda khusus yang memungkinkan kegiatan belajar mengajar kembali berlangsung.

“Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama hilang dibawa banjir. Sekarang anak-anak hanya bermain, mereka tidak tahu mau melakukan apa lagi,” ujar Rusliadi, Sekretaris Gampong Babah Suak, Beutong Ateuh Benggalang, kepada para relawan, Jumat, 19 Desember 2025.

Hari itu, sejumlah relawan dari Keluarga Besar Alumni Wira Bangsa (Karsa), Komunitas Masak Enak, Komunitas Indonesia Bertumbuh, MPDP4, KM Kupi, Pangea Teknik Teknologi UPN Veteran Yogyakarta, serta Basajan.net, menyalurkan bantuan kepada warga terdampak.

Bantuan tersebut berupa pakaian bayi dan dewasa, popok, pembalut, bahan makanan seperti roti, beras, dan minyak goreng, serta peralatan memasak dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Total nilai bantuan logistik dan obat-obatan mencapai sekitar Rp21 juta, ditambah donasi pakaian layak pakai dari para dermawan.

Penyerahan bantuan diterima langsung oleh Keuchik, Sekretaris Desa, serta beberapa warga yang terdampak banjir bandang di Kecamatan Beutong Ateuh Benggalang.

Baca berita terkait: Warga Beutong Ateuh Butuh Alat Pertanian untuk Bangkit

FOTO: BASAJAN.NET/HARIS MUNAWAR

Pendidikan Terhenti

Selain bangunan sekolah yang rubuh, proses pendidikan juga terhambat karena ketiadaan buku tulis, pensil, tas, dan perlengkapan belajar lainnya. Dalam sehari, banjir bandang telah merobohkan bangunan-bangunan yang ada di daerah itu.

Mukhtarudin, salah satu warga yang rumahnya tersapu banjir, menceritakan dahsyatnya arus air yang membawa gelondongan kayu dan menyapu kawasan di sepanjang sungai.

Lage disungket tanoh le kaye ngon ie, habeh bandum diangkot,” tuturnya, menggambarkan bagaimana tanah seolah terangkat oleh pohon-pohon dan air, lalu lenyap tanpa sisa.

Menurut Mukhtar, pada Rabu, 26 November 2025, air mulai naik menjelang waktu magrib. Warga awalnya mengungsi ke SMP, namun karena arus semakin deras, mereka berpindah ke SMA yang menjadi titik pengungsian terakhir.

Keesokan harinya, air semakin tinggi dan deras, membawa gelondongan kayu yang menghantam apa pun yang dilalui.

“Ketinggian dan arus sangat deras, tidak terprediksi,” tambahnya.

Feri Diansyah menyerahkan bantuan hasil donasi kepada warga Beutong Ateuh Benggalang, Kabupaten Nagan Raya, Jumat, 19 Desember 2025. Foto: BASAJAN.NET/HARIS MUNAWAR

Solidaritas untuk Kemanusiaan

Aksi kemanusiaan bagi warga terdampak banjir bandang di Beutong Ateuh Benggalang diinisiasi oleh Feri Diansyah, alumni Karsa dan Pangea.

Feri mengungkapkan, penggalangan donasi dilakukan atas panggilan hati Nurani karena melihat besarnya dampak bencana yang dialami masyarakat, terutama anak-anak dan keluarga yang kehilangan rumah, serta sumber penghidupan.

Penggalangan bantuan diawali di KM Kupi dengan membuka posko utama donasi pakaian layak pakai selama 10 hari. Seiring berjalannya waktu, Keluarga Besar Alumni Wira Bangsa turut bergabung dan memperluas jangkauan penggalangan hingga ke jalan raya, sehingga berhasil menghimpun donasi uang sebesar Rp9 juta.

Dukungan juga datang dari alumni Pangea 2007 Teknik Geologi UPN Veteran Yogyakarta bersama Komunitas Masak Enak, yang berhasil menggalang dana sebesar Rp6,1 juta.

Sementara itu, alumni MPDP 4 turut berkontribusi dengan mengumpulkan dana sebesar Rp6 juta. Secara keseluruhan, total donasi uang yang terkumpul mencapai sekitar Rp21 juta.

Dana tersebut digunakan untuk pembelian peralatan memasak senilai Rp6,1 juta, kebutuhan sembako sebesar Rp7,7 juta, obat-obatan senilai Rp5,9 juta, serta biaya sewa truk sebesar Rp1,3 juta untuk mengangkut seluruh bantuan, termasuk pakaian layak pakai yang telah dikumpulkan sebelumnya.

“Semoga bantuan yang diberikan dapat meringankan beban para korban bencana,” ujar Feri.[]

============================

WARTAWAN: NURUL FAHMI & AUFA RIZA

EDITOR: MELLYAN