Kehidupan Etnis Cina di Abdya

oleh -8.168 views
Kehidupan Etnis Cina di Abdya

Oleh:  Nelva Sofia*

Sikap saling menghargai, menghormati dan tolong menolong yang ditunjukkan warga Cina tidak hanya dalam aktivitas sehari-hari saja, tetapi juga dalam kegiatan keagamaan.

Bila anda berkunjung ke Kota Blangpidie, maka anda akan dengan mudah menemukan dan merasakan nuansa toleransi di sana. Blangpidie merupakan ibu kota Kabupaten Aceh Barat Daya yang berada di kawasan Barat Selatan Aceh.

Di negeri “Breuh Sigupai” ini, penduduknya sangat beragam. Selain berasal dari berbagai daerah di Aceh dan Indonesia, di sana juga ada warga etnis Tionghoa Cina yang hidup rukun bersama penduduk setempat. Layaknya kehidupan warga Cina lainnya di Indonesia, di Blangpidie pun kebanyakan dari mereka hidup dengan membuka berbagai jenis usaha. Mulai dari toko emas, perlengkapan elektronik dan lain sebagainya.

Hadirnya usaha-usaha warga Cina ini, tidak lantas membuat masyarakat setempat merasa tersaingi. Bahkan usaha-usaha yang dijalankan Cina, telah memberi keuntungan tersendiri bagi masyarakat Aceh Barat Daya (Abdya), terutama bagi mereka yang kesulitan mendapatkan perkerjaan.

Warga Cina yang mempekerjakan para muda-mudi di daerah ini, sangat memahami dan mengerti banyaknya perbedaan di antara mereka, termasuk berbeda secara agama. Bahkan para warga Cina yang mempekerjakan warga setempat yang notabene beragama Islam, mereka menganjurkan para karyawannya untuk makan di warung dan juga memberi waktu kepada karyawannya untuk beribadah.

Tidak hanya itu, komunitas Cina juga merupakan bagian yang sangat penting di Abdya, selain dapat memberikan lapangan kerja bagi masyarakat, mereka juga merupakan investor-investor bagi perusahaan-perusahaan di Abdya.

Toleransi adalah Kunci

Berbicara mengenai warga Cina, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul di pikiran kita, seperti di mana anak-anak mereka bersekolah. Biasanya, anak-anak Cina ini akan bersekolah di sekolah-sekolah umum, di bawah naungan Kemendikbud. Hanya saja, tidak semua mata pelajaran yang ada di sekolah tersebut mereka ikuti. Misalkan mata pelajaran Agama Islam, pihak sekolah tidak mewajibkan mereka untuk mengikutinya.

Dari dua kondisi di atas, terlihat jelas bahwa sikap toleransi pada masyarakat Abdya dan warga Cina di sana sangatlah tinggi. Toleransi merupakan suatu sikap menghormati, menghargai, memahami satu sama lain serta sikap saling tolong menolong antar sesama untuk menciptakan suasana damai, rukun dan sejahtera.

Hubungan sosial antara warga Cina dengan masyarakat Abdya sangatlah enak dipandang mata. Sikap saling menghargai, menghormati dan tolong menolong yang ditunjukkan warga Cina tidak hanya dalam aktivitas sehari-hari saja, tetapi juga dalam kegiatan keagamaan. Mereka juga sering ikut berpatisipasi dalam acara-acara yang diadakan oleh masyarakat setempat, seperti Maulid Nabi SAW, di mana mereka ikut menyumbang uang untuk keperluan acara tersebut.

Penduduk Abdya juga sangat ramah dengan warga asing yang datang ke daerah ini, mereka juga saling memahami dan mengerti satu sama lain. Warga Cina yang ada di daerah ini saling bekerja sama dengan masyarakat sekitar untuk saling bergotong royong dan saling menjaga antar satu dengan yang lain.

Sebagai makhluk sosial, kita tidak akan mungkin bisa hidup sendiri tanpa adanya bantuan dari orang lain. Meski pun ada perbedaan di antara masyarakat, namun kita harus bisa saling mengerti dan menghargai setiap perbedaan yang ada, baik di kelompok masyarakat maupun secara individu.

Maka dari itu, sikap toleransi haruslah ada dalam diri kita. Dengan adanya sikap toleransi, maka kita akan terhindar dari perbuatan yang diskriminasi terhadap satu kelompok yang berbeda dalam masyarakat.

Kuat dalam Perbedaan

Sikap toleransi ini bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yang lumrah kita temukan perbedaan pandangan, agama, ras, suku dan budaya. Perbedaan tersebut, seharusnya ini menjadi sebuah alasan untuk saling melengkapi satu sama lain, bukan untuk dipertentangkan. Apalagi dalam sebuah daerah dengan penduduk yang beragam, sikap toleransi dapat menciptakan sebuah kehidupan yang damai, rukun dan sejahtera dan dapat menghindari keributan serta perbuatan-perbuatan kriminal.

Sikap toleransi diperlukan bukan hanya untuk kelompok minoritas saja, tetapi setiap manusia. Sebab setiap kita pada hakikatnya membutuhkan kehidupan yang harmoni. Seperti kata pepatah “belajar toleransi adalah belajar tentang landasan untuk menciptakan dunia yang baik”. Sikap inilah yang ditunjukkan warga Abdya terhadap warga pendatang, terutama etnis Cina.

Kehidupan kedua kelompok masyarakat tersebut sangatlah harmoni, damai, rukun dan sejahtera serta indah untuk di pandang. Ini disebabkan karena adanya sikap toleransi yang ada dalam diri mereka. Perbedaan yang ada dijadikan sebagai kekuatan dalam kebersamaan, serta saling melengkapi satu sama lain.(*)

*Penulis adalah Mahasiswa Prodi Pengembangan Masyarakat Islam, Jurusan Dakwah dan Komunikasi Islam STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh. Email: nelvayusuf20@gmail.com

Artikel ini merupakan hasil kerjasama Seuramoe Moderasi Beragama STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh dengan LABPSA TV Prodi Sosiologi Agama UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Artikel ini telah melewati serangkaian proses pengeditan sesuai kebijakan redaksi, tanpa mengubah subtansi. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.