Hidup Dari Udara dan Cinta Warga

oleh -118 views
Hidup Dari Udara dan Cinta Warga
ILUSTRASI/JM/AI

Oleh: Ismail Arafah*

BASAJAN.NET- Di balik keheningan pedesaan Negeri Keumeude, terdapat sebuah panggung teater tersembunyi. Di mana para aparatur desa menjadi pemeran utamanya. Dengan naskah yang sarat tanggung jawab dan babak yang tak pernah usai, mereka memainkan peran krusial dalam menjaga kemajuan desa tetap berjalan lancar. Namun, di tengah drama ini, ada satu plot twist besar: gaji mereka yang kecil seringkali tertahan selama berbulan-bulan.

Babak pertama dimulai dengan Pak Olan, Kepala Dusun yang harus mengurus segala hal. Mulai dari administrasi warga, hingga penyelesaian konflik antar tetangga. Saat mentari belum sepenuhnya menampakkan diri, Pak Olan sudah berkeliling desa, memastikan semuanya berjalan lancar.

Tapi ada ketakutan yang menghantuinya melebihi cerita film horor. Slip gaji yang seharusnya dia terima selama sembilan bulan terakhir, tak kunjung tiba.

“Saya sudah terbiasa hidup dari udara dan cinta warga,” kata Pak Olan sambil tersenyum kecut, meski dalam hatinya ingin menangis.

Di sudut lain panggung, Pak Rafah, Sekretaris Desa yang multitasking, sedang menumpuk berkas-berkas laporan yang harus dikirim ke kantor kecamatan. Tugasnya begitu banyak, hingga terkadang lupa membedakan antara siang dan malam.

“Gaji? Hah? Apa itu gaji? Ah, itu hanya mitos,” katanya dengan tawa pahit. Pak Rafah tetap berusaha menjalankan tugasnya meskipun kantongnya makin tipis, sementara daftar hutang makin tebal. Setebal kantung matanya yang semakin menghitam.

Lalu ada Pak Arul, sang Kepala Desa yang harus menjadi “tukang sulap” dalam mengelola anggaran. Dengan anggaran desa yang pas-pasan dan upah jerih yang tak kunjung datang, Pak Arul harus berinovasi agar proyek pembangunan tetap berjalan.

“Kami sedang merintis proyek jalan beraspal bak tanam paksa masa penjajahan,” selorohnya dengan wajah datar. Kepalanya semakin mendidih, seperti tersiram cairan aspal, setiap kali harus mencari cara menjelaskan kepada rekan-rekannya tentang anggaran upah jerih yang tak kunjung turun.

Hidup dalam Ironi

Para aparatur desa ini hidup dalam ironi yang mencolok. Di satu sisi, mereka adalah fondasi dari pemerintahan yang ada di masyarakat, memastikan program-program pemerintah pusat sampai ke warga. Di sisi lain, mereka seperti aktor di panggung besar tanpa tanda jasa. Hanya bisa berharap pada janji-janji manis pemerintah yang tak kunjung terwujud.

“Sembilan bulan tanpa gaji? Itu bukan masalah, itu seni bertahan hidup,” ujar Bu Ana, Bendahara Desa, yang sudah terbiasa memutar otak agar bidang keuangan pemerintah desa tetap berjalan dengan baik.

“Kami belajar cara mengubah daun jambu menjadi cemilan. Siapa tahu bisa dijual untuk menambah pemasukan,” tambahnya dengan tawa yang lebih mirip tangisan.

Para aparatur desa ini bukanlah sosok yang hanya duduk di belakang meja. Mereka adalah penyelesai masalah, mediator, sekaligus pelayan masyarakat yang sejati. Namun, penghargaan yang mereka terima sering kali hanya dalam bentuk ucapan terima kasih, bukan dalam lembaran rupiah, apalagi apresiasi. Bahkan tak jarang mendapat caci.

Padahal beberapa tahun sebelumnya, Raja Negeri Keumeude telah mengeluarkan aturan tentang besaran penghasilan tetap Kepala Desa, Sekretaris Desa, dan perangkat desa lainnya. Dalam aturan itu disebutkan, besaran penghasilan tetap Kepala Desa paling sedikit setara dengan gaji pokok Pegawai Negeri Sipil golongan ruang II/a.

Tapi ini bukan persoalan aturan, apalagi besaran gaji. Hanya perkara waktu terima gaji saja yang tak kunjung pasti.

“Kami kerja serius pak, gajinya kok main-main?” protes Pak Arul, satu ketika dalam rapat Kecamatan.

Di penghujung babak, ketika lampu panggung mulai redup dan malam semakin larut, para aparatur desa kembali ke rumah masing-masing. Esok, setumpuk tanggungjawab kembali menanti.(*)

* Penulis adalah Fotografer lepas dan mentor Basajan Creative School (BCS)

.

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.