Harga Daging di Meulaboh Mahal, Ini Penjelasan Sekda

oleh -204 views

Foto: Ilustrasi/Kompasiana

Meulaboh- Harga daging meugang di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat mencapai Rp170.000 perkilogram. Pemerintah daerah sulit mengendalikan harga daging yang dijual di pasar setelah proses penyembelihan ternak secara serentak pada pagi Kamis, 25 Mei 2017.

Sekretaris Daerah Aceh Barat, Bukhari menyatakan, harga daging meugang (hari motong) menjelang Ramadan 1438 Hijriyah, sulit dikendalikan karena ternak yang disembelih sangat berkualitas.

“Bukan tidak melaksanakan imbaun Gubernur Aceh, tapi sulit menerapkan, karena kenaikan harga daging sudah menjadi tradisi. Apalagi ternak untuk meugang daerah kita betul-betul berkualitas, sehingga mahal,” kata Bukhari, sebagaimana dikutip kantor berita nasional Antara.

Meugang adalah tradisi memasak daging dan menikmatinya bersama keluarga, kerabat dan yatim piatu oleh masyarakat Aceh. Meugang atau Makmeugang adalah tradisi menyembelih kurban berupa kambing, kerbau atau sapi yang dilaksanakan setahun tiga kali, yakni Ramadhan, Idul Adha, dan Idul Fitri.

Sapi, kerbau dan kambing yang disembelih berjumlah ratusan. Tradisi Meugang biasanya berlangsung satu hari sebelum bulan Ramadhan atau hari raya. Di daerah tertentu, dua hari sebelum Ramdhan atau hari raya.

Bukhari menyampaikan, kondisi permainan harga pasar terhadap daging pada momen-momen sakral, sangat sulit diprediksi. Malahan, saat harga di pagi mahal, kemudian saat siang harga daging justru jatuh hingga Rp100.000 perkilogran.

Ketetapan Pemerintah Aceh, mengharuskan harga jual daging meugang lokal paling tinggi Rp130.000 perkilogram. Untuk daging impor Rp80.000 perkilogram.

Namun, saat momen sakral menyambut puasa dan dua lebaran setiap tahunnya, gejolak harga daging terjadi di pasar. Hal ini sudah menjadi tradisi yang sulit dihilangkan dari budaya beli maupun dari budaya pedagang sendiri.

“Pedagang pun belum tentu akan mendapat banyak keuntungan, sebab daging mereka jual adalah daging baru dan berkualitas. Bila tidak habis terjual, maka tidak dibekukan seperti daging impor. Harga beli ternak mereka pun tergolong mahal,” sebut Bukhari.

Lebih lanjut Bukhari mengatakan, dalam momen sakral bagi umat Islam di Aceh, sangat ironis apabila tidak membeli daging pada hari meugang. Terutama masyarakat pedalaman yang pola budayanya masih cenderung tradisional.

Meskipun demikian, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat telah membentuk tim pemantau pasar, untuk memastikan harga jual daging nantinya tidak begitu drastis, karena memberatkan masyarakat.

Tim tersebut juga akan memantau ketersediaan dan perkembangan harga kebutuhan pokok penting dan strategis di Aceh Barat. Hal tersebut sebagai upaya untuk stabilisasi harga selama puasa Ramadan hingga lebaran 2017.

“Mereka akan rutin memantau terhadap ketersediaan bahan pokok. Bila ada kenaikan harga sembako, akan ada pihak yang turun langsung melakukan intervensi di pasar,” terangnya.[]

Editor: Junaidi Mulieng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *