BASAJAN.NET, Nagan Raya- Sungai di Beutong Ateuh Benggalang, Kabupaten Nagan Raya tak lagi mengalir seperti biasa. Usai banjir bandang dan tanah longsor pada 26 November 2025, alurnya melebar, dangkal, dan dipenuhi batang kayu besar yang tersangkut di lumpur. Air keruh menggenang di cekungan-cekungan baru, menandai perubahan paksa pada lanskap kampung yang selama ini bergantung pada sungai tersebut.
Di tepi aliran yang rusak, anak-anak berdiri memandang sisa-sisa bencana. Tempat mereka biasa bermain kini berubah menjadi lubang-lubang air berlumpur, dikelilingi tanah yang terkelupas. Tak ada lagi batas jelas antara sungai, kebun, dan halaman rumah, semuanya larut dalam jejak arus deras yang datang tiba-tiba.
Pasca-bencana, anak-anak menghabiskan hari-hari mereka dengan bermain. Sekolah tempat mereka belajar telah lenyap tersapu banjir. Hingga kini, belum ada tenda khusus yang memungkinkan kegiatan belajar mengajar kembali berlangsung.
Baca berita terkait:
Kisah Anak-anak di Reruntuhan Banjir Beutong Ateuh
Warga Beutong Ateuh Butuh Alat Pertanian untuk Bangkit
Banjir bandang dan tanah longsor memaksa hampir seluruh warga mengungsi dan kehilangan sumber penghidupan. Sekitar lima hektare lahan terdampak banjir, dengan dua desa, yaitu Babah Suak dan Kuta Teungoh menjadi wilayah yang paling parah dihantam.
Di sisi lain sungai, bangunan permanen tampak terbelah dan menggantung di tebing yang tergerus. Beberapa rumah nyaris runtuh sepenuhnya, sebagian lainnya tinggal menyisakan rangka dan dinding. Puing-puing bangunan berserakan di lahan yang baru saja longsor. Dinding runtuh, tiang patah, dan tanah basah menjadi saksi betapa cepat bencana menghapus rasa aman. Sebuah jembatan darurat dengan turunan curam dan licin, kini menjadi satu-satunya akses.
Meski demikian, kehidupan di Beutong Ateuh Banggalang belum sepenuhnya berhenti. Di tengah puing dan lumpur, warga tetap bertahan. Mereka membersihkan sisa kayu, memeriksa rumah, dan menunggu kepastian.
Foto-foto Haris Munawar dan Nurul Fahmi bukan hanya merekam kerusakan, tetapi juga jeda panjang sebuah kampung yang sedang berusaha bangkit perlahan, dari bencana yang mengubah segalanya.[]













=============================
FOTO: HARIS MUNAWAR & NURUL FAHMI
TEKS: JUNAIDI MULIENG





