Dari Damaskus ke Aceh

oleh -514 views
Dari Damaskus ke Aceh
ILUSTRASI PERSAHABATAN: BASAJAN.NET/JM/ADOBE FIREFLY.

Oleh: Nurkhalis*

BASAJAN.NET- Cerita yang pernah ditulis Shamsi Ali dalam situs resmi ICMI pada tahun 2015 menarik untuk diceritakan ke publik. Tulisan imam Islamic Center of New York itu menceritakan perihal sebuah foto yang turut tersebar luas di Damaskus pada tahun 1889. Foto itu berkisah tentang sepasang sahabat yang alami kondisi tragis, namun menyimpan kisah takjub.

Sepasang sahabat itu, bernama Samir merupakan seorang Nasrani dan Muhammad seorang muslim. Postur tubuh Samir pendek serta alami kelumpuhan. Sedangkan Muhammad memiiki postur tubuh jangkung dan buta. Sejak kecil keduanya telah menjadi yatim piatu.

Sadar akan kekurangan masing-masing, keduanya pun saling berkenalan hingga saling menopang satu sama lain demi melanjutkan hidup mereka. Tatkala menjalani hidup bersama, Samir menggunakan kaki Muhammad untuk berjalan dan Muhammad menggunakan mata Samir untuk melihat.

Persahabatan antara Samir dan Muhammad bukan hanya seia sekata, bahkan sehidup semati. Terbukti setelah Samir meninggal, Muhammad pun menyusul seminggu kemudian. Meski memiliki keyakinan berbeda, namun keduanya memiliki jiwa yang sama.

Aceh Punya Cerita

Halaman depan koran harian Serambi Indonesia edisi 28 September 2009, memuat sebuah judul begitu menyayat hati para pembaca ‘Tabrakan Beruntun Renggut Satu Nyawa di Indrapuri’. Peristiwa kecelakan terjadi di jalan raya Banda Aceh-Medan, persisnya di Km 25, 3. Insiden kecelakaan tersebut melibatkan mobil Ford Escape yang menabrak tiga sepeda motor secara beruntun.

Insiden terjadi pada pukul 16:00 Wib itu, mengakibatkan satu korban meninggal di tempat dan empat pengendara lainnya dalam keadaan kritis. Dari insiden tersebut menjadi titik awal kisah persahabatan dua lelaki dari Aceh yang daya ketakjubannya tiada jauh berbeda dengan kisah persahabat Samir dan Muhammad dari Damaskus. 

Sepasang sahabat di Aceh itu, bernama Taufik dan Khalis. Pasca kecelakaan, kondisi keduanya mengalami disabilitas fisik. Pada awalnya kondisi Taufik hanya alami patah tulang pada bagian pergelangan sampai dengan lengan kanan, dan juga patah di bagian kaki kanan dari paha sampai betis. Namun dua minggu pasca kecelakaan, tangan kanan Taufik kian memburuk. Ternyata patah tulang yang dialaminya turut berimbas pada gangguan syaraf, sehingga sampai kini tangan kanan Taufik alami disfungsional.

Sementara Khalis, mesti menjalani operasi besar untuk diamputasi pada bagian betis kaki kanan. Selain itu, ia juga mengalami defect bone temporoparietal sinistra post op. Dalam bahasa orang awam dipahami adanya kerusakan pada tulang otak sebelah kiri. Kini, kondisi fisik Khalis untuk berjalan dibantu protesa (kaki palsu). 

Setelah lebih dari setahun masa penyembuhan dari insiden kecelakan, Taufik dan Khalis kembali melanjutkan satu semester akhir yang tersisa di kampus IAIN (kini UIN) Ar-Raniry. Tak jauh berbeda dengan kisah persahabatan Samir dan Muhammad, antara Taufik dan Khalis sadar dan memahami kekurangan masing-masing.

Meski tanpa menyampaikan maksud tujuan secara verbal, namun Taufik dan Khalis bisa memahami kebersamaan keduanya melalui pesan non-verbal. Kini antara kaki dan tangan keduanya telah menjadi milik bersama.

Kaki dan Tangan Bersama

Suatu pagi pada September 2010, Khalis sedang menunggu jadwal bimbingan dengan duduk santai bersama Taufik di kantin kampus. Tiba-tiba ia menerima satu pesan singkat dari dosen pembimbing.

“Saya ada waktu cuma 10 menit ke depan, tolong segera antarkan berkas skripsi ke ruangan dosen. Saya ada urusan penting di luar kampus.” Padahal jadwal bimbingan masih sejam ke depan dari yang ditentukan.

Jarak antara kantin dan ruangan dosen cukup jauh dan akan membutuhkan waktu lama. Terlebih dengan kondisi Khalis yang menggunakan protesa dan ditopang dua tongkot pada sisi kanan dan kiri. Namun dengan sigap, tanpa aba-aba, Taufik segera beranjak dari duduknya, membantu mengantarkan berkas skripsi ke ruang dosen. Kajadian hari itu menjadi bukti bahwa Khalis membutuhkan kaki Taufik untuk “berjalan”.

Pada kesempatan lain, di Januari tahun 2011, tangan Khalis berbalik menjadi penolong atau tepatnya “tangan kanan” bagi Taufik. Saat itu, sedang berlangsung perkuliahan komunkasi persuasif diasuh oleh seorang praktisi bidang ilmu komunikasi.

Beberapa pertemuan pada pekan sebelumnya, sang dosen telah memantik semangat mahasiwa untuk bertanya. Tibalah pada pertemuan ke-9, Taufik sejak 30 menit perkuliahan dimulai, telah mengangkat tangan bermaksud ingin bertanya kepada sang dosen. Namun sang dosen bersikap sinis dan tak memberikan kesempatan Taufik untuk bertanya.

Sang dosen memang sengaja mengabaikan Taufik. Bahkan sebelum meninggalkan ruangan kelas, dosen tersebut dengan lantang berkata, “kamu yang ingin bertanya dengan mengangkat tangan kiri, mulai minggu depan coba belajar acungkan jari dengan tangan kanan atau kamu tidak perlu masuk ke kelas saya!”

Mendengar perkataan sang dosen, Khalis yang duduk bersebelahan dengan Taufik merespon dengan mengangkat tangan meminta kesediaan sampaikan pendapat. Setelah dipersilahkan, Khalis pun memberikan penjelasan jika tangan kanan Taufik sejak setahun lebih mengalami disfungsional karena indisen kecelakaan. Setelah mendengar penjelasan Khalis, sang dosen dengan wajah bersalah lansgung meminta maaf dan dengan kelapangan hati Taufik pun menerima maaf sang dosen.

Satu Jiwa

Dua kejadian tersebut menjadi bukti bahwa antara Taufik dan Khalis telah terjalin satu ikatan persahabatan yang tak biasa. Keduanya ibarat satu jiwa dalam raga berbeda. Saling mendukung, menguatkan dan melengkapi.

Ada kalanya Taufik menjadi “kaki” bagi Khalis, namun diwaktu yang lain Khalis menjadi “tangan kanan” bagi Taufik, walau hanya sekedar mengangkat tangan untuk memberikan penjelasan atau membantu meneruskan pemberian dari Taufik kepada orang lain.

Kisah sepasang sahabat di Damaskus dan Aceh di atas, tidak perlu dikisahkan secara lebih mendalam dan panjang lebar. Jika Samir dan Muhammad, memiliki keyakinan berbeda tetapi jiwa mereka bisa saling menyatu. Tiada berbeda halnya dengan Taufik dan Khalis, memilki semangat hidup berbeda namun jiwa mereka saling bersama.

Dari sini tentunya kita dapat belajar, tak perlu menyesali dan meratapi sesuatu yang hilang dari diri kita. Akan lebih baik menjaga yang masih ada. Tak ada manusia sempurna di dunia ini. Hanya saling pengertian, memahami, mengasihi, dan menghormati kita akan mampu melengkapi satu dengan yang lain.(*)

.

* Penulis adalah editor dan mentor Basajan, saat ini sedang menyelesaikan pendidikan doktoral di Universitas Airlangga, Surabaya.

======================

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.