Cang Nipah, Kisah Perang di Rawa Nipah (Bagian Dua)

oleh -274 views
Ilustrasi Cang Nipah. (BASAJAN.NET/DESI MELATI).

Penulis: Mellyan

Panjang Tulisan: 2493 kata

.

Menelusuri Jejak Cang Nipah

.

BASAJAN.NET, Meulaboh- Prak, ku tak saboh-saboh (prak, saya tebas satu persatu),” tangan Teungku Abdullah mengayun seolah sedang menebas dengan parang.

Ia bercerita mengenai perang nipah dan memperagakan peristiwa yang ia dengar langsung dari Pang Cot, salah satu Pahlawan Cang Nipah.

Jalannya tertatih, dipapah sebilah tongkat. Seluruh rambut telah memutih, di ambang pintu rumahnya ia menyambut kami dengan ramah. Teungku Abdullah hari itu memakai setelan putih, mulai dari peci hingga sarung. Teungku Abdullah tinggal di Gampong Paya Lumpat, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat.

Menemukan data tertulis tentang peristiwa Cang Nipah bukan perkara mudah. Di mesin pencarian Google, ketika saya mengetik Cang Nipah, yang keluar hanya informasi cacing nipah lengkap dengan gambar yang dijual di beberapa toko online.

Begitu juga ketika mengetik Perang Nipah, mesin data nomor satu dunia itu mengarahkan saya pada jurnal ilmiah terkait nipah dan informasi lainnya mengenai kegunaan buah serta pohon nipah. Beberapa buku sejarah dan jurnal Aceh yang saya baca, hasilnya juga nihil. Belum ada pembahasan mengenai peristiwa Cang Nipah.

Pada 3 Ramadhan 1443 H atau Selasa, 5 April 2022, atas saran dari Teuku M. Ali, penelusuran mengenai Cang Nipah mengantarkan kami menemui Teungku Abdullah. Ia pernah menjabat keuchik (kepala desa) selama 30 tahun. Di usia senjanya, Abdullah masih mengingat detail kejadian hidupnya semasa penjajahan Belanda dan Jepang. Ia telah hidup melintasi zaman, hingga era digital.

Saat itu Abdullah masih berusia sekolah dasar, ketika pertama kali mendengar tentang kisah Cang Nipah. Informasi itu ia dapat dari Pang Cot yang kala itu seusia dirinya kini, sekitar 90 tahun. Jika berjalan keliling kampung, Pang Cot sering kali berhenti untuk beristirahat. Sesekali Pang Cot berhenti di depan rumah Abdullah dan mengalirlah cerita mengenai heroiknya peristiwa cang nipah.

Meurasa that kucang kaphe saboh-saboh (mantap sekali saat kucincang kafir satu persatu)”. Kalimat Pang Cot kali itu masih terngiang dalam ingatan Abdullah.

“Beliau salah satu yang ikut peristiwa Cang Nipah, orangnya sangat pemberani,” kenang Abdullah.

Teungku Abdullah, tokoh masyarakat Samatiga. Foto: BASAJAN.NET/NURUL FAHMI.

Laki-laki kelahiran sekitar tahun 1930-an itu mengatakan, istilah kaphe (kafir) dialamatkan untuk menyebut Belanda, dan pasukan Aceh disebut muslimin.

Meski Abdullah mengaku tak tahu persis tahun kelahirannya, namun dalam ingatannya, saat pendudukan Jepang, ia sudah duduk di kelas II Sekolah Rakyat (SR). Dahulu orang-orang menandai kelahiran anak dengan peristiwa alam, atau peristiwa tertentu yang terjadi saat si anak lahir.

Kemudian ia menceritakan secara detail peristiwa Perang Nipah atau lazim disebut Cang Nipah. Saat itu, di dalam rimbunan pohon nipah, pasukan muslimin bersiap menggempur Belanda. Sebelumnya seseorang telah dipersiapkan sebagai mata-mata yang seolah memihak kepada Belanda.

Mereka bersiasat, jika Belanda sedang berpatroli dan menanyakan dimana keberadaan pasukan muslimin, sang mata-mata harus menunjukkan tempat persembunyian di rawa nipah. Informasi itu benar adanya, pasukan muslimin telah menunggu di dua sisi lorong di rimba nipah. Lorong-lorong sepanjang rawa nipah hanya bisa dilewati dengan perahu.

“Ada padok (kawah), bersisian adalah batang nipah, dan dalam. Jalo (perahu) diambil dari pulau Sabda. Kaphe (kafir) Belanda itu bermarkas di Meulaboh, jadi yang kasih tahu itu orang muslimin juga, taktik untuk bunuh Belanda,” kisah Abdullah.

Ketika Belanda menelusuri lorong nipah menaiki perahu, perahu-perahu itu dikaramkan oleh pasukan muslimin. Dalam keadaan panik dan tak siap, Belanda berhasil dilumpuhkan. Satu persatu mereka ditebas dan tewas. Berkali-kali peristiwa semacam itu terjadi, pada satu peperangan, salah satu serdadu selamat dan melarikan diri ke Meulaboh.

Ditak ju saboh-saboh, kencang ditak (ditebas satu persatu dengan kencang). Itulah dikatakan Cang Nipah, peperangan di rawa nipah,” ujar Abdullah dengan semangat.

Menurutnya, para serdadu tidak semuanya orang Belanda, tetapi juga berasal dari Jawa, dan Ambon. Termasuk satu yang selamat waktu itu, kabarnya bukan asli Belanda, tapi dia termasuk serdadu.

Abdullah mengatakan, selain serdadu, Belanda juga memiliki tawanan yang disebut Siranté, bertugas membawa barang dan makanan serdadu.

“Kasihan juga kita lihat sampai bungkuk membawa barang. Berpindah-pindah dalam hutan,” terangnya.

Sampai hari ini, Samatiga masih dikenal sebagai daerah yang memiliki rawa nipah cukup luas. Masyarakat memanfaatkan sungai dan nipah sebagai sumber pencaharian. Rawa nipah, juga menyimpan banyak potensi ikan air tawar.

“Itu sekilas peristiwa yang saya dengar dari hasil berteman dengan para tetua,” ujar pria yang sudah bersekolah ketika Belanda masih bercokol di Aceh.

Abdullah menyampaikan, dirinya tak tahu siapa yang menyusun siasat perang nipah.

“Saya hanya tahu cerita Pang Cot saja, dengar langsung dari beliau. Peperangan dalam luengkek (celah)pohon nipah,” ujarnya.

Masih segar dalam ingatan Abdullah, saat ia kecil, pasukan Belanda sering berpatroli dari kampung ke kampung, hingga hutan. Pagi harinya, anak-anak termasuk dirinya, mendatangi tempat menginap para serdadu yang sudah ditinggalkan untuk menjilat sisa susu yang ditinggal pasukan Belanda. Biasanya, Belanda tidur di hutan dekat gampong atau desa.

“Kami anak-anak kampung, pagi-pagi menelusuri dimana kaphe (kafir) itu tidur untuk kami jilati kaleng susu mereka, hidup serba sulit masa itu,” kenang Abdullah.

Di tahun-tahun sulit itu, Abdullah tetap bersekolah. Saat itu sekolah hanya ada di Blang Balee. Orang-orang dari Suak Timah, dan Layung (Kecamatan Bubon sekarang), berjalan kaki ke sekolah. Ia mengecap pendidikan sampai kelas tiga Sekolah Rakyat (SR).

“Memang sekolahnya hanya sampai kelas III, mereka tidak mau orang kita pintar. Kalau Ulèëbalang para keturunan raja boleh sekolah, Belanda bertugas sebagai pengawas sekolah,” kisahnya.

Abdullah menuturkan, anak sekolah dulu besar-besar, setelah tamat SR bisa langsung kawin. Di sekolah, opsir Belanda secara rutin memeriksa bangku, dan kebersihan murid.

“Kalau bangkunya kotor, bisa marah luar biasa. Kalau muridnya bodoh ketika dites, guru yang dimarahi. Itu bukan salah murid, tapi salah guru,” kenangnya.

Abdullah mengatakan, dulu anak-anak tidak membawa buku ke sekolah. Berbeda dengan sekarang, siswa harus membawa buku satu tas besar.

“Na grip – bate tuleh, kasep. Hana le macam pelajaran lage jino. Tapi carong ureng jameun (ada grip – sejenis batu tulis, sudah cukup. Dulu pelajarannya tidak banyak, berbeda dengan sekarang, tapi orang jaman pintar-pintar),” ujar Abdullah.

“Saat itu, Ulèëbalang yang memimpin Teuku Ali Mando,” lanjutnya. Teuku Ali Mando adalah kakek dari T. M. Ali. (Baca Cang Nipah Bagian Satu).

Dalam sesi wawancara, Abdullah sesekali berbicara dalam Bahasa Belanda yang tak kami pahami artinya. Ia hanya tersenyum melihat kebingungan kami, dengan mengulang-ngulang penjelasan kata-kata yang ia ucapkan. Fahmi, Noza dan Junaidi Mulieng yang sedang mendokumentasikan sesi wawancara, ikut tertawa dan kagum akan ingatan Abdullah. Gelak tawa mewarnai obrolan kami hari itu.

Ia mengingat dengan baik seorang Belanda yang dipanggil Tuan Bhep. Saat Jepang masuk, dan Belanda kalah, Tuan Bhep dibawa ke Meulaboh, kemudian diludahi beramai-ramai. Meskipun masih kecil, saat itu ia sering ikut ayahnya yang menjabat keuchik, sehingga mengingat banyak hal mengenai Belanda. Termasuk saat putusan kejahatan yang pelakunya dipenjara di Jeurat Manyang, Cot Seumeureung.

“Dulu di Jeurat Manyang itu ada penjara, sekarang memang sudah tidak ada,” ungkapnya.

Ia juga mengenang masa-masa kerja paksa yang diterapkan Belanda saat itu. Karena masih kecil, ia tidak terlibat, hanya mendengar jika laki-laki dewasa wajib ikut kerja paksa, atau harus membayar denda Rodi.

Saat Jepang masuk pada 1942, setelah kekalahan Belanda, saat itu Abdullah duduk di kelas II SR. Ia mengingat dengan jelas saat itu semua pelajaran yang mulanya diajarkan dalam Bahasa Belanda dan diawasi oleh opsir Belanda, tiba-tiba berganti dengan Bahasa Jepang dan diawasi oleh orang-orang bermata sipit.

Pagi hari, para murid sekolah berdiri di halaman dan menyanyikan lagu kebangsaan Jepang sambil hormat matahari. Kehidupan masyarakat saat itu tak lebih baik dari masa Belanda. Semuanya jadi serba sulit. Kerja paksa juga masih dijalankan, malah lebih parah. Bahkan empat hari sebelum bom di Hiroshima dan Nagasaki dijatuhkan, tersiar kabar Jepang merencanakan pembunuhan masal terhadap laki-laki dewasa.

“Semua diajarkan Bahasa Jepun, hormat matahari. Kalau tidak jatuh bom atom dan Jepun menyerah tanpa syarat, mungkin sudah habis laki-laki di gampong, hanya tinggal anak-anak untuk dibina menjadi seperti mereka,” kisah Abdullah.

Di Suak Timah ditempatkan tangsi-tangsi (barak) militer Jepang. Masa itu rakyat Aceh kesulitan pangan. Abdullah dan keluarga sering kali makan sagu ketimbang nasi.

“Lapar kita zaman itu. Celakanya ketika Jepun kalah, sebelum mereka angkat kaki, pasukan Jepun membuang persediaan padi ke laut,” ungkap Abdullah.

Jepang masuk ke Aceh 13 Maret 1942. Berdasarkan keterangan Abdullah, pada zaman penjajahan Jepang, laut dipagari, masyarakat kerja paksa lebih parah dari masa Belanda. Jalan Geumpang-Gunong Meuh Tutut, dibuka pada masa Jepang melalui kerja paksa (Romusha).

Dum mate ureung kerja Romusha (banyak sekali orang meninggal karena Romusha). Ada yang mati kelaparan, dan dimakan hewan buas,” tuturnya.

Beberapa kali Abdullah menyebutkan istilah polisi dan tentara dalam Bahasa Jepang. Sesekali ia juga menyanyikan lagu kebangsaan Jepang yang masih ia ingat penggalannya.

Sesi wawancara dengan Teungku Abdullah. Foto: BASAJAN.NET/M. NOZA.

Giyugun itu tentara,” ujarnya. Lalu ia menyanyikan lagu kebangsaan Jepang.

Kimigayo wa, Chiyo ni yachiyo ni, Sazare-ishi no, Iwao to narite, Koke no musu made,” itu lagu kebangsaan Jepang.

Ketika ia bernyanyi dan berbicara beberapa penggalan Bahasa Jepang, kami hanya bisa nikmati tanpa memahami artinya.

Abdullah mengungkapkan kekagumannya terhadap reusam Aceh, sebagaimana yang digambarkan dalam hadih maja “Adat bak Po Teumeureuhom, hukom bak Syiah Kuala, qanun bak Putro Phang, reusam bak Laksamana.”

Menurutnya, meski tidak mengikat dan tidak memiliki sanksi hukum, reusam memiliki kedudukan tinggi di dalam masyarakat Aceh yang berfungsi untuk menjaga hubungan silaturahmi antar sesama. Reusam sebagai bentuk adab-tata krama masyarakat Aceh.

“Jadi reusam itu dibuat untuk mendukung hukum. Adat bak Po Teumeureuhom, itu ada pada penguasa. Hukum agama pada ulama. Dulu raja sangat dekat dengan ulama. Ulama dan umara itu bekerja sama,” terang Abdullah.

Ia mencontohkan, dalam agama, pernikahan seseorang dianggap sah ketika telah memenuhi rukun dan syarat-syaratnya, meski tanpa kenduri (pesta). Namun pada satu hari pernah kejadian, ketika malam linto (pengantin pria) pulang ke rumah dara baro (pengantin wanita), malah dicurigai oleh orang sekampung. Hal ini dikarenakan pernikahan mereka dilakukan tanpa kenduri sebagai bentuk pemberitahuan kepada tetangga dan warga lainnya.

Aceh jameun meugah dan hebat (Aceh dulu megah dan hebat),” tutupnya.

Baca juga: Cang Nipah, Kisah Perang di Rawa Nipah (Bagian Satu)

##

Hari itu, seorang perempuan paruh baya sedang menyapu dedaunan yang luruh dari halaman rumahnya yang sederhana. Beberapa pohon rambutan tumbuh subur di sana, daunnya hijau mengkilap. Dapat dibayangkan, jika musim rambutan tiba, buah ranumnya yang merah menyembul dari tangkai dan sela daun.

Setelah menyapa kami, ia bergegas masuk ke dalam rumah. Tak lama berselang, seorang lelaki keluar menemui kami.

Bek ilee, nyoe lage nyan Tu soek baje ilee (sebentar, kalau begitu Kakek pakai baju dulu),” ia berlalu sambil tertawa, menampakkan gigi depan yang hanya tinggal beberapa.

Hasan Basri, berusia 80 tahun. Hidungnya mancung kulitnya putih. Saat kami temui, ia mengaku hanya mengetahui sedikit informasi mengenai Cang Nipah. Kami mengatakan, infomasi sekecil apa pun sangat penting bagi penelusuran ini.

Setelah melihat kamera, tripot dan peralatan lainnya yang kami bawa, lelaki yang kerap disapa Tu Hasan itu bergegas masuk ke kamar.

Tu Hasan keluar dengan memakai sarung dan baju batik bernuansa hijau. Ia siap diwawancara. Lalu ia mulai merunut beberapa nama yang terlibat dalam perang nipah.

“Pang Raman, T. Abdollah Jang, Hamid, Pang Amat, T. Muhammad. Bukan main-main nak, taruhannya nyawa, itu beberapa nama yang saya ingat,” ungkap Tu Hasan.

Menurut kabar yang ia dengar, setelah peristiwa perang nipah, seorang spione selamat dan melapor ke Meulaboh. Kemudian Belanda datang dan membawa Pang Raman ke Meulaboh.

“Tapi akhirnya beliau selamat, Pang Raman itu kakeknya Rusli. Sejarah bangsa ini berat nak,” ujar lelaki kelahiran 1942 ini.

Menurutnya, kala itu kepemimpinan masih dipegang Ulèëbalang. “Saya hanya dengar cerita, tidak terjun langsung,” sambungnya.

Saat Jepang datang, Tu Hasan masih kecil. Ia teringat, kala itu banyak sekali pesawat terbang di langit Samatiga.

“Seperti kawanan burung,” kenangnya.

Hasan Basri. Foto: BASAJAN.NET/NURUL FAHMI.

Dalam pandangannya, Cang Nipah sebagai bukti betapa pintarnya orang Aceh dalam menyusun strategi perang. Selain pintar, peristiwa itu juga menjadi salah satu contoh keberanian orang Aceh. Belanda sengaja dibawa ke lokasi persembunyiaan para pejuang Aceh di rawa nipah untuk dibunuh satu persatu.

“Pedang di tangan, ketika boat karam, gerebam gerebum, dengan cepat dalam kekacauan ituorang Aceh mencincang Belanda. Pintar orang Aceh ini,” ucapnya bangga.

“Makanya banyak ditemukan senjata api dalam sungai nipah itu. Itulah pembelaan untuk nanggroe,” sambung Tu Hasan.

Tepat saat azan ashar berkumandang, kami tiba di rumah Teungku Rusli. Setelah menunggu sekitar dua puluh menit, lelaki itu pulang dari kebun. Lelaki berkulit sawo matang dengan kumis melintang itu, dengan ramah menyambut kami.

Di ruang tamunya yang bercat kuning, beberapa foto wisuda dan pernikahan anak-anaknya terpajang rapi. Di dinding sisi kanan, terdapat foto seorang laki-laki yang sangat tua dengan tulisan Pang Raman bin T. Hanafiah Lebai Nyak.

Teungku Rusli Sulaiman merupakan cucu dari Pang Raman. Salah satu pelaku sejarah Cang Nipah. Ayahnya, Teungku Sulaiman adalah anak ketiga ada Pang Raman.

“Jadi termasuk kakek saya yang ikut dalam siasat perang nipah,” ujarnya.

Saat ini Teungku Rusli menetap di Cot Seumeureung, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat. Seperti cerita T.M Ali dan Teungku Abdullah. Teungku Rusli juga berkisah mengenai Perang Nipah, namun kisahnya diceritakan dari sudut pandang sang kakek, Pang Raman.

Teungku Rusli Sulaiman. Foto: BASAJAN.NET/MELLYAN.

Perahu-perahu disiapkan, kemudian dilubangi, lalu lubang itu ditutup dengan goni dan tanah liat, hingga beberapa lapis. Sebuah bangku kecil diletakkan di bagian paling atas. Pasukan Belanda naik ke perahu itu. Pang Raman dengan gagah membawa pasukan Belanda menuju rawa nipah.

“Dimana pasukan itu Agam?” ujar Rusli, menirukan pertanyaan Belanda ke Pang Raman kala itu.

“Oh, jauh tuan,” jawab Pang Raman sambil menunjukkan rawa nipah. Lokasi dimana pasukan muslimin sudah bersiap dengan parang di tangan.

Perlahan Pang Raman membawa pasukan itu ke lorong-lorong dalam rawa nipah. Tanpa disadari serdadu Belanda, Pang Raman memindahkan tumpukan goni sehingga perlahan air masuk ke perahu.

“Air masuk, dalam ini?” teriak Belanda dalam kondisi panik.

“Tidak seberapa dalam,” jawab Pang Raman.

Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, begitu tiba di lokasi rawa nipah yang telah ditentukan, pasukan pejuang Aceh menyerang Belanda tanpa ampun. Belanda kalah telak dengan taktik Cang Nipah.

“Itu dia orang yang membawa Belanda ke rawa nipah,” Rusli menunjuk foto sosok laki-laki tua di dinding rumahnya.

Tukang cang (yang bertugas menebas/membunuh Belanda), termasuk nektu si Pon Cot Plueh (Hasyim Capiek), orang Alue Raya, Kakek Pak Baha,” sebutnya.

Sayangnya pada salah satu peritiwa Cang Nipah, seorang lolos dan melaporkan kejadian tersebut ke pos besar mereka di Meulaboh. Belanda melakukan penyisiran ke Samatiga.

“Yang lolos itu spione, mata-mata, ia mengenali salah satu pejuang yang bernama Hasyim,” terang Rusli.

Saat itu, penduduk Samatiga diinterogasi oleh Belanda, menanyakan keberadaan Hasyim. Di sisi lain, pasukan Aceh sudah menyusun strategi menghadapi kemarahan Belanda.

“Ini siapa?” ujar Rusli menirukan percakapan yang dikisahkan sang kakek. Kebetulan Belanda juga menanyai Pang Raman.

“Itu hanya orang cacat, tidak mungkin bisa berbuat begitu. Coba suruh lompat ke parit itu, pasti dia jatuh,” jawab Pang Raman.

Pang Raman.

Karena tidak percaya, Belanda tetap menginterogasi Hasyim yang memang kondisi fisiknya kurang sempurna. Kakinya pincang, oleh karena itu ia dikenal dengan Hasyim Capiek. Capiek berati pincang dalam Bahasa Aceh.

Sebelumnya, Pang Raman bersama para pejuang lain sudah menyiapkan parit dengan lebar setengah meter. Ketika Hasyim melompat, ia berkali-kali jatuh ke dalam parit itu. Sehingga Belanda percaya, padahal Hasyim adalah salah satu pejuang yang berperan di perang nipah.

Nektu lon salah satu nyang terlibat, gobnyan memang nyang me kaphe. Beliau tidak cang, tapi nyang bawa kaphe (Kakek saya salah satu yang terlibat, memang beliau yang membawa Belanda. Beliau tidak menebas, tapi yang membawa kafir),” kisah Rusli mengenai keterliban kakeknya dalam peristiwa Cang Nipah.

Pang Raman adalah keuchik pertama Cot Seumeureung, 1905 sampai 1920. Tapi kemudian dipecat oleh Belanda, karena tidak mau menarik pajak dari masyarakat dan tidak mau menyerahkan upeti kepada Belanda. Setelah itu diangkat adik Pang Raman 1921 sampai 1945.

Rusli tak tahu pasti lokasi terjadinya perang Nipah. “Mungkin antara Cot Plueh, hingga Ujong Seubon,” ujarnya ragu.

##

Bersambung…

=============

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.